Paradigma pengembangan merupakan hal penting dalam praktik-praktik pendidikan di suatu lembaga pendidikan. Melalui pengembangan maka banyak hal yang keberadaannya apa adanya akan menjadi lebih baik dan menjadi ada apanya. Berbicara pengembangan, maka kita membicarakan sebuah konsep dan prosedur tertentu, yakni konsep mengenai pengembangan sendiri, konsep mengenai hal yang dikembangkan, dan prosedur mengenai cara-cara mengembangkan hal yang dikembangkan sehingga dapat mengakibatkan adanya actualisasi fungsional mengenai hal yang dikembangkan. Dengan demikian kata kunci dalam pengembangan adalah mengactualkan sesuatu yang dikembangkan agar bersifat lebih fungsional dan berdampak pada adanya perbaikan proses-proses dan produk selanjutnya.

Pendidikan merupakan sebuah sistem di dalamnya melibatkan komponen-komponen yang minimal adalah subjek didik, para pendidik, perangkat pendidikan, muatan pendidikan, dan cara-cara yang ditempuh agar pendidikan berjalan dengan optimal dan semestinya, yang harapannya berjalan efektif, yakni adanya produk-produk pendidikan yang berupa sikap-sikap subjek didik, pengetahuan, dan keterampilan-keterampilan tertentu. Agar pendidikan berjalan efektif, maka diperlukan suatu sistem yang mengatur interaksi komponen dalam sistem tersebut. Sistem yang mengatur interaksi semua komponen merupakan perangkat lunak yang dapat mengoptimalkan semua komponen dalam sistemnya. Dalam sebuah sistem tersebut, pada dasarnya dapat berjalan efektif apabila keberadaan komponennya bersifat fungsional, operasional. Optimalisasi fungsional perangkat-perangkat dalam sistem pendidikan tersebut membutuhkan perlakuan khusus sehingga dapat berjalan efektif. Pengembangan perangkat-perangkat tersebut yakni perangkat keras dan perangkat lunak menjadi hal yang penting untuk dilakukan bagi praktisi pendidikan. Paradigma pengembangan perlu diaktualkan dalam kerangka mengembangkan perangkat-perangkat keras dan perangkat lunak suatu sistem pendidikan.

Sebagai sebuah sistem, pendidikan merupakan terminologi yang sebenarnya dalam konteks yang dinamis. Subjek didik, para pendidik sebagai bagian dari sistem merupakan subjek yang berada dalam alam yang berkembang secara kompleks. Dalam kompleksitasnya tersebut, maka upaya-upaya pendidikan harus terus berjalan sebagai sebuah bentuk pemenuhan kewajiban bagi pendidik melaksanakan tugas kependidikannya kepada subjek didik atau peserta didik. Agar proses-proses pendidikan yang dilakukan para pendidik kepada subjek didik berjalan secara optimal, maka diperlukan perangkat pendidikan yang sesuai kebutuhan, yang mudah digunakan, yang benar secara konseptual, yang dapat berdampak positif pada sasaran pendidikan tersebut. Inilah pentingnya suatu pengembangan dalam pendidikan agar menghasilkan suatu produk yang secara konseptual benar, memiliki manfaat praktis, dan yang mampu menghasilkan subjek didik mencapai tujuan pendidikannya.

Dalam pendidikan, pembelajaran merupakan satu modus utama yang dilakukan dengan basis sekolah dan basis kelas. Kurikulum merupakan hal mendasar yang mengatur sistem pembelajaran. Hadirnya kurikulum, maka pembelajaran dapat berjalan efektif dan berada di atas jalur yang benar. Kurikulum sendiri merupakan sebuah pengaturan mengenai tujuan, bahan, isi, dan cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan dengan menggunakan bahan dan isi tersebut, dan cara-cara yang perlu dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan tersebut. Diantara komponen dalam sistem kurikulum tersebut, yang merupakan variabel manipulatif atau yang perlu direkayasa adalah cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan menggunakan bahan dan isi.

Dalam cara-cara tersebut, satu komponen yang penting keberadaannya adalah perangkat untuk melakukan upaya-upaya agar terjadi proses pembelajaran yang efektif. Untuk ini, maka pengembangan diperlukan agar tersedia perangkat pembelajaran yang mudah digunakan dan dapat memberikan manfaat positif, secara konseptual benar dari segi isi dan muatan-muatannya, dan dapat memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang perlu disediakan adalah perangkat yang valid, perangkat yang praktis, dan perangkat yang efektif. Ketiga kondisi tersebut menggambarkan kualitas perangkat pembelajaran yang perlu disediakan.

Mengembangkan perangkat pembelajaran merupakan aktivitas yang perlu selalu dilakukan oleh para praktisi pendidikan, yakni para tenaga pendidik atau mahasiswa yang sementara mendalami proses-proses studi kependidikannya. Mengembangkan merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena harus berdasarkan suatu cita-cita konseptual yang relevan dengan harapan tercapainya pembelajaran yang efektif.

Mengapa perlu mengembangkan perangkat pembelajaran? ini merupakan pertanyaan yang perlu diajukan kepada siapapun yang hendak melakukan pengembangan. Benar adanya bahwa pengembangan perlu dilakukan dengan dasar bahwa pembelajaran yang selama ini cenderung berjalan sebagai sebuah rutinitas aktivitas mengajar dan belajar, sangat mungkin sekali berjalan apa adanya, dengan dukungan penyediaan perangkat yang seadanya yang penting dibuat dan tersedia sebagai bukti administratif tenaga pendidik, dan akhirnya proses-proses pembelajarannya pun berjalan sebagai sebuah rutinitas yang mekanistik belaka. Ini berarti ada kencenderungan bahwa praktik-praktik pembelajaran berjalan sebagaimana biasa dan biasa-biasa saja atau tidak luar biasa. Sebagai dampaknya adalah adanya capaian kurikuler yang tidak optimal.

Pada sisi lain, kalau kita melihat ketersediaan sumber belajar, sebenarnya sumber belajar cukup banyak adanya dan tersedia luar biasa. Apalagi pada era sekarang, sumber belajar dari lingkungan sosial dan lingkungan alam, sumber belajar dari dunia ekonomi dan industri, sumber belajar yang bersifat kebudayaan, yang bersifat tekstual dan kontekstual, yang bersifat offline dan online, tersedia melimpah. Tetapi tidak serta merta dapat dimanfaatkan dengan baik dan menghasilkan pesan yang menarik, dan memudahkan bagi peserta didik mengonstruk sikap, pengetahuan, dan keterampilan-keterampilannya yang diperlukan. Ketersediaan yang melimpah itu tidak serta merta berdampak bagi efektivitas proses-proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.

Pengguna sumber belajar merupakan satu komponen pembelajaran yang memiliki karakteristik unik dan beragam. Keberagaman karakteristik peserta didik inilah yang menyebabkan  tidak semua sumber belajar berfungsi optimal. Ketersediaannya sendiri biasa menjadi masalah, karena sebagian besar biasa tidak mengupayakan bagi tersedianya sumber belajar. Kalaupun tersedia, pemanfaatannya dalam proses-proses belajar di kelas biasa kurang praktis dan tidak menyediakan ruang-ruang bagi proses eksplorasi dan konstruksi pengetahuan. Kondisi demikian dapat berdampak pada rendahnya capaian tujuan-tujuan pembelajaran, yakni rendahnya pencapaian kompetensi peserta didik, yang meliputi sikap-sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Dalam situasi demikian, maka diperlukan hadirnya perangkat pembelajaran yang dapat memudahkan proses-proses belajar dan pembelajaran, yang kontennya memiliki kebenaran secara keilmuan, dan yang dapat memudahkan pencapaian tujuannya. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang valid, yang praktis dan yang efektif merupakan satu hal yang sangat diperlukan untuk memecahkan masalah pembelajaran tersebut.

Bagaimanakah prosedur mengembangkan prangkat pembelajaran? Ini adalah sebuah pertanyaan yang penting bagi para pendidik atau mahasiswa yang akan merencanakan program pengembangan perangkat pembelajaran. Mengembangkan berarti bukan membuat rancangan secara buta-buta (asal membuat) kemudian mencobakannya. Mengembangkan berarti perlu memperhatikan paradigma pengembangan yang dianutnya. Mengembangkan berarti menciptakan sesuatu baru yang sebelumnya belum ada atau sudah ada tetapi perlu modifikasi tertentu sehingga dapat berfungsi optimal dan efektif. Banyak hal perlu diruangkan ke dalam bahan pengembangan sehingga menjadi produk pengembangan yang memenuhi kriteria tertentu.

Konsep dan prosedur pembelajaran tertentu, teori-teori belajar tertentu, prinsip-prinsip pembelajaran tertentu, perlu diramu bersama bahan belajar (muatan dan isi) sehingga menjadi produk perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, yang dapat menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik, yang mendorong peserta didik antusias dan senang belajar, yang sesuai dengan metode belajar tertentu, yang sesuai dengan model pembelajaran tertentu, yang sesuai dengan pendekatan pembelajaran tertentu, atau yang sesuai dengan srategi-strategi pembelajaran yang mendidik, dsb. Merancang dan menghasilkan produk perangkat yang demikian perlu adanya pola-pola pengembangan. Pola-pola pengembangan inilah yang disebut sebagai model pengembangan.

Salah satu model pengembangan yang bisa dipedomani oleh para pengembang perangkat pembelajaran adalah Model dari Thiagarajan dkk., yang terkenal dengan sebutan Model 4 D (Four D), karena meliputi 4 langkah utama, yaitu Define, Design, Develope, dan Disseminate.

Berikut adalah uraian mengenai tahapan-tahapan pengembangan sebagaimana yang disarankan oleh Thiagarajan dkk.

Tahap I: Define (Pendefinisian)

Tahap define adalah tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis), analisis tugas (task analysis), analisis konsep (concept analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).

  1. Analisis Ujung Depan (front-end analysis)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974), analisis ujung depan bertujuan untuk memunculkan dan menetapkan masalah dasar yang dihadapi dalam pembelajaran, sehingga diperlukan suatu pengembangan bahan ajar. Dengan analisis ini akan didapatkan gambaran fakta, harapan dan alternatif penyelesaian masalah dasar, yang memudahkan dalam penentuan atau pemilihan bahan ajar yang dikembangkan.

  1. Analisis Siswa (learner analysis)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974), analisis siswa merupakan telaah tentang karakteristik siswa yang sesuai dengan desain pengembangan perangkat pembelajaran. Karakteristik itu meliputi latar belakang kemampuan akademik (pengetahuan), perkembangan kognitif, serta keterampilan-keterampilan individu atau sosial yang berkaitan dengan topik pembelajaran, media, format dan bahasa yang dipilih. Analisis siswa dilakukan untuk mendapatkan gambaran karakteristik siswa, antara lain: (1) tingkat kemampuan atau perkembangan intelektualnya, (2) keterampilan-keterampilan individu atau sosial yang sudah dimiliki dan dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

  1. Analisis konsep (concept analysis)

Analisis konsep menurut Thiagarajan, dkk (1974) dilakukan untuk mengidentifikasi konsep pokok yang akan diajarkan, menyusunnya dalam bentuk hirarki, dan merinci konsep-konsep individu ke dalam hal yang kritis dan yang tidak relevan. Analisis membantu mengidentifikasi kemungkinan contoh dan bukan contoh untuk digambarkan dalam mengantar proses pengembangan.

Analisis konsep sangat diperlukan guna mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan deklaratif atau prosedural pada materi matematika yang akan dikembangkan. Analisis konsep merupakan satu langkah penting untuk memenuhi prinsip kecukupan dalam membangun konsep atas materi-materi yang digunakan sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar dan standar kompetensi.

Mendukung analisis konsep ini, analisis-analisis yang perlu dilakukan adalah (1) analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang bertujuan untuk menentukan jumlah dan jenis bahan ajar, (2) analisis sumber belajar, yakni mengumpulkan dan mengidentifikasi sumber-sumber mana yang mendukung penyusunan bahan ajar.

  1. Analisis Tugas (task analysis)

Analisis tugas menurut Thiagarajan, dkk (1974) bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang akan dikaji oleh peneliti dan menganalisisnya kedalam himpunan keterampilan tambahan yang mungkin diperlukan. Analisis ini memastikan ulasan yang menyeluruh tentang tugas dalam materi pembelajaran.

  1. Perumusan Tujuan Pembelajaran (specifying instructional objectives)

Perumusan tujuan pembelajaran menurut Thiagarajan, dkk (1974) berguna untuk merangkum hasil dari analisis konsep dan analisis tugas untuk menentukan perilaku objek penelitian. Kumpulan objek tersebut menjadi dasar untuk menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran yang kemudian di integrasikan ke dalam materi perangkat pembelajaran yang akan digunakan oleh peneliti.

Tahap II: Design (Perancangan)

Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu: (1) penyusunan standar tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media (media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan format (format selection), yakni mengkaji format-format bahan ajar yang ada dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan, (4) membuat rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Penyusunan tes acuan patokan (constructing criterion-referenced test)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974), penyusunan tes acuan patokan merupakan langkah yang menghubungkan antara tahap pendefinisian (define) dengan tahap perancangan (design). Tes acuan patokan disusun berdasarkan spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisis siswa, kemudian selanjutnya disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif.  Penskoran hasil tes menggunakan panduan evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran setiap butir soal.

  1. Pemilihan media (media selection)

Pemilihan media dilakukan untuk mengidentifikasi media pembelajaran yang relevan dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk menyesuaikan dengan analisis konsep dan analisis tugas, karakteristik target pengguna, serta rencana penyebaran dengan atribut yang bervariasi dari media yang berbeda-beda.hal ini berguna untuk membantu siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses pengembangan bahan ajar pada pembelajaran di kelas.

  1. Pemilihan format (format selection)

Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran, dan sumber belajar. Format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik, memudahkan dan membantu dalam pembelajaran matematika realistik.

  1. Rancangan awal (initial design)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974: 7) “initial design is the presenting of the essential instruction through appropriate media and in a suitable sequence.”  Rancangan awal yang dimaksud adalah rancangan seluruh perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan sebelum ujicoba dilaksanakan. Hal ini juga meliputi berbagai aktivitas pembelajaran yang terstruktur seperti membaca teks, wawancara, dan praktek kemampuan pembelajaran yang berbeda melalui praktek mengajar.

Tahap III: Develop (Pengembangan)

Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan (developmental testing).

Tujuan tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para pakar ahli/praktisi dan data hasil ujicoba. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

  1. Validasi ahli/praktisi (expert appraisal)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974: 8), “expert appraisal is a technique for obtaining suggestions for the improvement of the material.” Penilaian para ahli/praktisi terhadap perangkat pembelajaran mencakup: format, bahasa, ilustrasi dan isi. Berdasarkan masukan dari para ahli, materi pembelajaran di revisi untuk membuatnya lebih tepat, efektif, mudah digunakan, dan memiliki kualitas teknik yang tinggi.

  1. Uji coba pengembangan (developmental testing)

Ujicoba lapangan dilakukan untuk memperoleh masukan langsung berupa respon, reaksi, komentar siswa, dan para pengamat terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun. Menurut Thiagarajan, dkk (1974) ujicoba, revisi dan ujicoba kembali terus dilakukan hingga diperoleh perangkat yang konsisten dan efektif.

Tahap IV: Disseminate (Penyebaran)

Proses diseminasi merupakan suatu tahap akhir pengembangan. Tahap diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk pengembangan agar bisa diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok, atau sistem. Produsen dan distributor harus selektif dan bekerja sama untuk mengemas materi dalam bentuk yang tepat. Menurut Thiagarajan dkk, (1974: 9), “the terminal stages of final packaging, diffusion, and adoption are most important although most frequently overlooked.”

Diseminasi bisa dilakukan di kelas lain dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan perangkat dalam proses pembelajaran. Penyebaran dapat juga dilakukan melalui sebuah proses penularan kepada para praktisi pembelajaran terkait dalam suatu forum tertentu. Bentuk diseminasi ini dengan tujuan untuk mendapatkan masukan, koreksi, saran, penilaian, untuk menyempurnakan produk akhir pengembangan agar siap diadopsi oleh para pengguna produk.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan diseminasi adalah: (1) analisis pengguna, (2) menentukan strategi dan tema, (3) pemilihan waktu, dan (4) pemilihan media.

  1. Analisis Pengguna

Analisis pengguna adalah langkah awal dalam tahapan diseminasi untuk mengetahui atau menentukan pengguna produk yang telah dikembangkan. Menurut Thiagarajan, dkk (1974), pengguna produk bisa dalam bentuk individu/perorangan atau kelompok seperti: universitas yang memiliki fakultas/program studi kependidikan, organisasi/lembaga persatuan guru, sekolah, guru-guru, orangtua siswa, komunitas tertentu, departemen pendidikan nasional, komite kurikulum, atau lembaga pendidikan yang khusus menangani anak cacat.

  1. Penentuan strategi dan tema penyebaran

Strategi penyebaran adalah rancangan untuk pencapaian penerimaan produk oleh calon pengguna produk pengembangan. Guba (Thiagarajan, 1974) memberikan beberapa strategi penyebaran yang dapat digunakan berdasarkan asumsi pengguna diantaranya adalah: (1) strategi nilai, (2) strategi rasional, (3) strategi didaktik, (4) strategi psikologis, (5) strategi ekonomi dan (6) strategi kekuasaan.

  1. Waktu

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) selain menentukan strategi dan tema, peneliti juga harus merencanakan waktu penyebaran. Penentuan waktu ini sangat penting khususnya bagi pengguna produk dalam menentukan apakah produk akan digunakan atau tidak (menolaknya).

  1. Pemilihan media penyebaran

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) dalam penyebaran produk, beberapa jenis media dapat digunakan. Media tersebut dapat berbentuk jurnal pendidikan, majalah pendidikan, konferensi, pertemuan, dan perjanjian dalam berbagai jenis serta melalui pengiriman lewat e-mail.

Untuk kepentingan diseminasi ini, Thiagarajan, dkk (1974: 173) menetapkan kriteria keefektifan diseminasi, yaitu

  1. Clarity. Information should be clearly stated, with a particular audience in mind.
  2. Validity. The information should present a true picture.
  3. Pervasiveness. The information should reach all of the intended audience.
  4. Impact. The information should evoke the desire response from intended audience.
  5. Timeliness. The information should be disseminated at the most opportune time.
  6. Practicality. The information should be presented in the form best suited to the scope of the project, considering such limitations as distance and available resources.

Untuk kepentingan penelitian, model pengembangan Thiagarajan, dkk (1974) yang ditetapkan di atas perlu disesuaikan dengan rancangan penelitian dalam batasan rasional.

References:

Bustang. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berbahasa Inggris Berbasis Realistik pada SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Skripsi. Universitas Negeri Makassar.

Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota.

Trisdyanto. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung Berbasis Konstruktivistik pada Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Bungoro Pangkep. Tesis (tidak diterbitkan). Makassar: PPs Universitas Negeri Makassar.

Mendukung kegiatan pada tahapan analisis konsep dan analisis tugas, maka berikut adalah Muatan dalam Standar Isi Mata Pelajaran Matematika Satuan Pendidikan SMP dan SMA dari Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013:

SK-KD MAT SMP-MTs K 2006

SK-KD MAT SMA K 2006

KI-KD KUR 2013 SMP-MTs

Lampiran I Permen Nomor 59 th 2014_b

Untuk mendukung tahapan desain (perancangan), berikut dilampirkan file-file mengenai peraturan menteri pendidikan yang menjadi dasar penyusunan format perangkat pembelajaran, khususnya RPP, yaitu:

Permendiknas RI No 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah:

Permendiknas no. 41 tahun 2007 STANDAR PROSES (ppt)

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 Standar Proses (docx)

Permendibud RI No. 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah:

Permendikbud-no-103-tahun-2014

Lampiran-permendikbud-no-103-tahun-2014