Onservice pada MGMP Matematika Wilayah II Pangkep merupakan satu tahapan kegiatan yang dilaksanakan secara rutin selama 16 kali pertemuan minimal. Sebagaimana MGMP Bermutu lainnya, MGMP Matematika Wilayah II dengan Program Bermutu semakin mempermantap pemodelan pelaksanaan program pengembangan kegiatannya, yang awal pelaksanaannya menggunakan kesempatan di penghujung tahun 2011, yaitu tanggal 28, 29, 30, dan 31 Desember 2011 dan dilanjutkan secara rutin pada tahun 2012 pada setiap hari Kamis.  Hari Kamis merupakan hari Matematika, maksudnya pada hari itulah sebagian besar guru-guru matematika di kabupaten Pangkep melaksanakan kegiatan atau pertemuan rutin dan tidak melaksanakan tugas rutin pembelajaran di kelas. Pengaturan ini sudah menjadi kesepakatan sejak lama, namun demikian masih ada sebagian sekolah yang belum sepenuhnya memberikan fasilitas kepada guru matematikanya untuk mengikuti kegiatan pengembangan diri pada hari kamis. Ini terkadang menjadi kendala bagi pengelola MGMP dan tentunya merupakan penghalang bagi guru-guru untuk bergabung dalam kegiatan MGMP tersebut.

Dengan pesertanya sebanyak 18 orang, yan berasal dari lima kecamatan  Bungoro, Labakkang, Ma’rang, Segeri Mandalle.  MGMP Matematika Wilayah II melaksanakan tahapan onservice, yang diharapkan mampu memfasilitasi guru-guru peserta secara aktual belajar bersama mengembangan pengetahuan, wawasan, dan ketrampilan tentang pembelajaran matematika. Tentunya kegiatan onservice dilaksanakan dengan berpedoman pada hasil TNA (Trainning Needs Analysis), yaitu analisis kebutuhan pelatihan yang sebagaimana diisi oleh peserta pada tahapan Inservice.

Ke delapan belas peserta tersebut dengan sebaran menurut wilayah kecamatan, Bungoro sebanyak 6 orang, Labakkang sebanyak 2 orang, Ma’rang sebanyak 6 orang, Segeri sebanyak 3 orang, dan Mandalle sebanyak 1 orang. Jauhnya tempat tinggal dan tempat tugas para peserta tidak menjadi kendala untuk rajin hadir pada pertemuan rutin. Sesekali waktu biasa ada kendala masalah kehadiran, dan mungkin teramati oleh sebagian pihak, tetapi konsistensi peserta untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya tetap berjalan dengan baik. Kondisi tersebut seperti biasa umumnya terjadi, karena faktor yang sangat manusiawi, seperti sakit yang tidak kita kehendaki bersama, tetapi kalau tiba waktunya mengalami derita ini, siapapun wajib memulihkan kesehatannya. Tugas dari sekolah yang bersifat darurat biasa juga menjadi kendala kehadiran peserta. Namun yang demikian ini tidaklah sering terjadi. Memang untuk membangun konsistensi terhadap komitmen sampai 100 persen sangatlah sulit, banyak faktor X yang tidak bisa dihindari. Bukankah begitu???.

Melanjutkan Kegiatan Onservice (pertemuan rutin 16 kali pertamuan), berikut adalah gambaran pelaksanaan kegiatan onservice pada MGMP Matematika Wilayah II, yang terangkum dalam jurnal kegiatan kelompok kerja.

JURNAL KEGIATAN PROGRAM BERMUTU

MGMP MATEMATIKA SMP WILAYAH II PANGKEP

TAHUN 2011/2012

  1. Nama MGMP                             : MGMP Matematika SMP Wilayah II Kab. Pangkep
  2. Sekolah Inti                             : SMP Negeri 1 Bungoro
  3. Alamat Sekretariat                    : Jl. Tonasa II Kec. Bungoro Pangkep 90651
  4. Jangka Waktu Pelaksanaan         : 1 Hari Inservice dan 16 kali pertemuan onservice (90 Jam Pertemuan)

PERTEMUAN

URAIAN KEGIATAN

NARASBR/PEMANDU

In-service

Tanggal:

27 Desember 2011

Tempat:

Ruang Pola Kantor Bupati Pangkep

Jumlah peserta yang hadir:

18 orang

  1. Pengarahan Kepala Dinas, berjudul “Pendidikan Karakter, Ekonomi Kreatif, dan Kewirausahaan Implementasinya dalam konteks Bermutu
  2. Penjelasan Pedoman Umum Program Bermutu Tahun 2011/2012 dan TNA.
  3. Pembahasan Materi KTSP, khusus muatan Silabus dalam ranah Pendidikan Karakter
  4. Pembahasan Materi KTSP, khusus muatan RPP dalam ranah Pendidikan Karakter
  1. Drs. Moh, Ridwan, M.Pd.
  2. H. Rizal Syarief, S.Sos., M.Si.
  3. Drs. H. Muh. Dassir
  4. Hj. Sumiaty, S.Pd.

Kegiatan:

  1. Pengarahan Kepala Dinas Pendidikan dilaksanakan dengan metode ceramah umum dan berjalan satu arah. Peserta memperhatikan dan menyimak pengarahan dengan seksama tentang berbagai hal berkenaan dengan tugas pokok guru di kelompok kerja dan di tempat tugas masing-masing dalam rangka melakukan pendidikan yang bermartabat dan mensejahterakan peserta didik dengan pendekatan emosional quotient.
  2. Program Bermutu tahun 2011/2012 yang disampaikan mengenai tagihan kegiatan baik bersifat individual dan kelompok. Berkaitan dengan tagihan-tagihan kegiatan, maka kegiatan bermutu pada MGMP dilaksanakan dengan basis TNA yang hasilnya digunakan sebagai bahan pertimbangan menyusun struktur program kegiatan, selain itu untuk menyusun peta kompetensi guru. Kegiatan berjalan dengan presentasi narasumber secara klasikal, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta. Kegiatan diakhiri dengan pengisian format TNA oleh semua peserta yang tergabung dalam kegiatan Inservice Bersama.
  3. Materi KTSP dengan muatan Silabus dan RPP diantarkan oleh dua orang narasumber. Kedua materi dibahas dalam ranah pendidikan karakter peserta didik, yakni dengan mengintegrasikan konsep karakter bangsa sebagai muatan pelajaran sesuai dengan pengembangan pembelajaran dalam rancangan Silabus dan RPP. Kegiatan diawali dengan prensetasi narasumber secara klasikal, dan dilanjutkan dengan tanya jawab peserta.
  4. Sebagai tindak lanjut kegiatan pada materi di atas, akan dirancang KTSP (Silabus dan RPP) dengan mengintegrasikan karakter peserta didik pada tahap onservice.

Pertemuan ke1 

Tanggal:

28 Desember 2011

Tempat:

SMPN 2 Pangkajene

Peserta yang hadir:….. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir -Orang

  1. Pembukaan oleh moderator.
  2. Pentingnya materi kegiatan bagi peningkatan kesejahteraan guru dalam perjalana karir sebagai tenaga pendidik.
Drs. Muh. Abduh Makka, M.Si.

 

PCT LPMP Prov. Sulawesi Selatan

Pembahasan materi oleh NarasumberPresentasi tentang Penilaian Kinerja Guru (PKG), dengan pokok-pokok materi sebagai berikut:

  1. Latar belakang Permengpan & RB No. 16 tahun 20092)     Konsep PKG
  2. Ranah PKG
  3. Pelaksanaan PKG
  4. Mekanisme PKG
  5. Contoh penghitunan PKG menjadi AK  1 periode penilaian
Sesi Tanya Jawab:
Tanya jawab berkembang satu arah saja, yaitu dari peserta kepada narasumber.
Beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan:

  1. Suardi, S.Pd., M.Pd.
  2. Muh. Ali, S.Pd., M.Si.,
  3. Jasmir M., S.Pd.
Pertanyaan-pertanyaan peserta antara lain:

  1. Apakah hal-hal yang perlu diantisipasi oleh guru menghadapi PKG?
  2. Berapa lama batasan waktu maksimum seorang guru harus naik pangkat?
  3. Apa sanksi bagi guru, apabila sampai batasan waktu maksimum tidak mampu melampaui kepangkatan tertentu?
Jawaban narasumber:

  1. (1) Guru harus memahami 14 kompetensi  dari 4 dimensi kompetensi pedagogi, personal, sosial, dan profesional. (2) Berusaha memahami indikator-indikator penilaian pada setiap kompetensi pada masing-masing dimensi kompetensi tersebut. (3) Melakukan refleksi diri dan berusaha meningkatkan atau memperbaiki perilaku, sikap, pola pikir yang mengarah pada perbaikan indikator setiap kompetensi .(4) Mengidentifikasi segenap persiapan yang perlu dilakukan atas semua kompetensi pada semua dimensi kompetensi, (5) Menata diri secara terus menerus agar mencapai tingkatan kinerja minimal baik pada setiap periode penilaian .
  2. Guru dengan kinerja cukup akan memiliki kesempatan naik pangkat apabila masa penilaian kinerjanya selama minimal 6 tahun, dengan catatan tidak ada peningkatan atau penurunan. Apabila pencapaiannya lebih rendah lagi, maka masa penilaian yang diperlukan untuk bisa naik pangkat adalah lebih lama. Bila demikian, seorang guru perlu banyak meningkatkan kompetensinya dengan cara mengurangi beban mengajarnya, dengan harapan memiliki kesempatan memperbaiki kompetensinya. Jadi batasan maksimum  adalah apabila seorang guru belum mencapai kompetensinya yang dipersyaratkan dan setelah dilakukan upaya perbaikan tidak juga meningkat, maka status fungsionalnya dihilangkan. Diharapkan, maksimal guru mampu menempuh kenaikan pangkatnya paling lama dalam 5 tahun. Ini berarti seorang guru harus mampu mencapai nilai kinerja dalam kategori minimal cukup baik.
  3. Guru yang telah melalui proses pembinaan untuk PKB dan hingga waktu tertentu tidak mampu mencapai kompetensi minimal cukup, berarti tidak layak sebagai seorang guru profesional. Dengan demikian hak profesinya sebagai guru tenaga fungsional dihilangkan.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, yaitu prakik penilaian kinerja guru untuk semua dimensi kompetensi dan semua indikator kompetensi dari 14 kompetensi guru mata pelajaran.
Praktik Praktik dilakukan secara terbatas, pada beberapa aspek kompetensi/indikator saja, yaitu mengjitung langsung pencapaian nilai kinerja indikator tertentu.

Pertemuan ke

2

 Tanggal:

29 Desember 2011

Tempat:

SMPN 2 Pangkajene

Peserta yang hadir:

……. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Acara Kegiatan:

  1. Pembukaan
  2. Penyampaian Materi
  3. Simulasi Pengamatan Pembelajaran
  4. Penilaian Kinerja Praktik Pembelajaran
  5. Pengolahan Skor Penilaian

Rincian Kegiatan:

  1. Pembahasan Konsep PKG
  2. Pemahaman Instrumen penilaian kinerja
  3. Pengamatan Video praktik pembelajaran guru
  4. Praktik Skoring Hasil pengamatan video praktik pembelajaran
  5. Praktik penilaian diri kinerja guru sesuai idikator semua kompetensi
  6. Pengolahan Skor menjadi AK 1 periode penilaian

 

Drs. H. Hasanuddin, M.Si.

 

(Pengawas Sekolah Menengah Kab. Pangkep/

 

Alumni Training of Trainer PKG)


Tanya jawab berlangsung satu arah, yaitu peserta dan narasumber. Beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan antara lain:

  1. Muh. Ali, S.Pd., M.Si
  2. Drs. Trisdyanto, M.Pd.
  3. H. Takdir Haling, S.Pd.
Pertanyaan-pertanyaan peserta:

  1. Bagaimanapun penilaian kinerja guru dilaksanakan oleh petugas penilaian, tentu ada faktor subjektifitas. Bagaimana menyikapi situasi demikian agar hasilnya tetap obyektif?
  2. Penilaian kinerja mencakup semua aspek kompetensi guru dari ke-4 dimensi kompetensi pedagogis, personal, sosial, dan profesional, yang dilakukan dengan berbagai metode penilaian, misalnya pengamatan, pemantauan yang diakukan secara langsung atau melalui keterangan pihak tertentu di sekitar guru yang dinilai. Bagaimana praktik pelaksanaannya?
  3. Ada penilaian pelaksanaan pembelajaran dan penilaian kompetensi-kompetensi lainnya dari ke-4 dimensi kompetensi guru, yang saling terkait antara penilaian kompetensi satu dengan lainnya baik dalam praktik pembelajaran atau di luar pembelajaran. Bagaimana teknik pelaksanaannya?
Jawaban narasumber:

  1. Obyektifitas hasil penilaian merupakan satu prinsip penilaian yang harus ditaati oleh semua pihak penilai atau yang dinilai. Obyektifitas harus dipersepsikan oleh kedua pihak penilaian tersebut. Untuk itu, penilai atau yang dinilai harus sama-sama memahami aspek atau indikator yang dinilai sehingga tidak ada perbedaan yang menyolok antara pemahaman penilai dengan pemahaman yang dinilai atas obyektifitas fakta amatan. Kesadaran diri yang dinilai atas aspek yang dinilainya sangat perlu diakui oleh yang bersangkutan, demikian juga pemahaman dan kemampuan penilai dalam melihat fakta amatan juga sangat perlu. Makanya penilai bukanlah orang sembarangan, melainkan yang memiliki kompetensi melihat danmengukur sebuah proses pembelajaran berdasarkan kriteria yang ada pada instrumen, dengan melihat deskriptor-dekriptor yang dinampakkan oleh guru yang dinilai pada saat proses penilaian baik langsung observasi atau dokumentasi.
  2. Penggunaan metode penilaia yang tepat sangat menentukan hasil penilaian kinerja seorang guru. Ketika kompetensi yang harus ditunjukkan guru adalah kompetensi unjuk kerja, maka metode pengamatan langsung saat pembelajaran dari awal hingga berakhirnya pelajaran. Instrumen yang digunakan adalah instrumen pengamatan/observasi kelas dengan acuan atau kriteria tertentu. Begitu pula apabila kompetensi yang diukur adalah bersifat dokumentasi, maka penilaian dilakukan langsung terhadap dokumen-dokumen  yang menjadi objek amatan. Termasuk kompetensi lainnya yang membutuhkan keterangan dari pihak tertentu, maka metode yang digunakan pun perlu disesuaikan. Dengan demikian metode penilaian yang berbeda-beda itu perlu menggunakan instrumen yang bervariasi pula sesuai jangkauan atau ranah penilaian yang perlu dilaksanakan, apakah pedagogis, personal, sosial, dan profesional.
  3. Agar pelaksanaan penilaian berjalan dengan baik dan mudah dilaksanakan, termasuk mudah bagi guru yang menjadi subjek/objek penilaian, maka perlu adanya pemetaan perangkat penilaian sesuai dengan kompetensi-kompetensi yang mana dari ke-4 dimensi kompetensi bisa saling terkait dan saling mendukung. Pemetaan itu perlu dilakukan agar jelas indikator kompetensi tertentu masuk dalam penilaian dengan metode tertentu. Metode penilaian tertentu perlu memperhatikan indikator-indikator dari suatu dimensi kompetensi tertentu, sehingga plotting atau pemetaannya jelas, termasuk agar memudahkan pengolahan data yang terkumpul menjadi hasil penilaian kolektif semua kompetensi pada ke-4 ranah kompetensi tersebut.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, yaitu: Pengembangan Komprofesionalan Berkelanjutan
Praktik
  • Praktik pengamatan pembelajaran
  • Praktik Skoring hasil pengamatan
  • Praktik Skoring pada 14 kompetensi
  • Praktik pengolahan nilai menjadi AK Kinerja Guru

Pertemuan ke

3

 Tanggal:

30 Desember 2011

Tempat:

SMPN 2 Pangkajene

Peserta yang hadir:

……. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan : PKBAgenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh Moderator
  2. Presentasi  Narasumber
  3. Diskusi/tanya jawab
  4. Refleksi Peserta
  5. Penutup oleh Moderator

Pokok Materi Kegiatan PKB:

  1. Konsep PKB sebagai tindak lanjut PKG
  2. Tujuan PKB
  3. Komponen PKB
  4. Jenis Kegiatan dalam PKB
  5. Mekanisme PKB

Drs. H. Hasanuddin, M.Si.

 

Sesi Tanya jawab berjalan satu arah, yaitu peserta narasumber. Beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan:

  1. Abd. Azis, S.Pd., M.Pd.
  2. Muh. Ali, S.Pd., M.Si.
  3. Suardi, S.Pd., M.Pd.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta:

  1. Bagaimana mekanisme atau sistem pengelolaan PKB bagi guru, mengingat bahwa PKB bukanlah semata tanggung jawab seorang guru yang mencapai tingkat Kompetensi Kinerja tertentu?
  2. Bagaimana sinergitas kepala sekolah dan pengawas agar guru bisa mengajar dengan ikhlas?
  3. Bagaimana caranya agar kinerja guru secara merata baik, sehingga tidak ada kecemburuan oleh guru yang rajin terhadap guru yang malas.
  4. Perbedaan beban mengajar dengan tugas tambahan yang berbeda tetap berdampak pada efektifitas pembelajaran kelas. Bagaimana menyikapinya?
  5. Pembelajaran matematika perlu laboratorium matematika, karena mata pelajaran lainnya bisa ada laboratoriumnya.
Jawaban Narasumber:

  1. PKB merupakan kegiatan yang bersifat sistemik, yang melibatkan minimal guru yang dan kepala sekolah.  PKB dilakukan sebagai kegiatan utama guru dan juga sebagai kegiatan tambahan. Sebagai kegiatan utama apabila memenuhi kewajiban minimal atas publikasi ilmiah atau karya inovasi sebagai unsur pengembangan profesi. Sebagai kegiatan tambahan apabila untuk mencapai akumulasi angka kredit  tertentu dalam jangka waktu tertentu dan masih memiliki kekurangan akibat penilaian kinerjanya dalam kategori cukup atau sedang. Sehingga untuk mencukupkan maka perlu melakukan pengembangan profesi lebih lanjut. Jadi PKB diawali dengan penilaian diri dan proses penilaian kinerja. Hasil penilaian PKG menjadi dasar pelaksanaan PKB yang dilaksanakan dengan pemantauan pihak sekolah (misal: koordinator PKB).
  2. Kepala sekolah dan pengawas keduanya adalah supervisor bagi guru dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Sebagai supervisor tugas itu dilaksanakan dalam konteks supervisi klinis yang bersifat sharing dan konsultasi diantara guru dan pengawas/kepala sekolah. Upaya itu perlu dilaksanakan secara terpadu dan terprogram, sehingga yang diharapkan dapat tercapai. Kehadiran pengawas dan kepala sekolah sebagai supervisor bagi guru dengan model tersebut akan memberikan penguatan bagi guru agar terus meningkatkan segenap kompetensinya sehingga guru mampu melaksnaakan tugasnya dengan ikhlas.
  3. Kondisi kompetensi guru di lapangan (sekolah-sekolah) sangat beragam, ada yang rajin, ada juga yang kurang rajin, dan ada pula yang tidak rajin. Masalah utama yang biasa terjadi adalah kurangnya kesadaran dan komitmen guru untuk menjalankan pengabdiannya sebagai guru yang harus selalu berada di tengah-tengah siswanya pada saat jam yang ditentukan. Tetapi fakta yang ada sering terjadi bahwa suatu keadaan tidak bisa dihindari bahwa guru meninggalan tugas mengajarnya karena kepentingan pribadi, yang kembali semua pihak menilainya sebagai sesuatu yang manusiawi. Sifat kemanusiwian itu yang kadang dimanfaatkan pihak tertentu dalam konteks yang kurang proporsional, berlebihan, dan cenderung untk kepentingan pribadi. Jadi  faktor budaya juga berperan memacu kondisi demikian. Yang terjadi adalah adanya keragaman kesadaran guru dalam menyikapi tugas-tugasnya. Yang rajin tetap rajin, yang malas cenderung terus malas, dan yang rajin biasa berubah menjadi malas. Jadi yang diperlukan adalah membangun komitmen dan kesadaran bahwa tugas dan tanggung jawab tidak sekedar kepada kepala sekolah sebagai pimpinan, melainkan kepada sang maha pencipta alam.
  4. Tugas tambahan bagi seorang guru yang ditunjuk sudah pasti menambah beban kerja guru yang dituntut mengajar 24 jam pelajaran minimal. Tuntutan dua beban tugas yang harus dilaksanakan bukanlah mudah disikapi dan dilakukan. Tugas-tugas managerial apapun levelnya pasti menyita waktu yang sering mengganggu tugas utama. Ini bergantung bagaimana managemen sekolah diciptakan dan didilaksanakan. Apabila managemen sekolah cukup mantap, maka tugas tambahan dapat dilakukan dengan baik tanpa harus sering mengganggu tugas utama, sehingga efektifitas pembelajaran tidak terganggu.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya:Program Induksi Guru Pemula (PIGP)
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

Pertemuan ke

4

Tanggal:

31 Desember 2011

Tempat:

SMPN 2 Pangkajene

Peserta yang hadir:

……  orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi kegiatan : PIGPAgenda Kegiatan :

  1. Pembukaan oleh Moderator
  2. Presentasi oleh Narasumber
  3. Diskusi/Tanya jawab
  4. Penutup oleh Moderator

Pokok Materi :

  1. Konsep Program Induksi
  2. Tujuan Program Induksi
  3. Manfaat Program Induksi
  4. Prosedur dan mekanisme Program Induksi
H. Rizal Syarief, S.Sos., M.Si.

 

Sesi tanya jawab berlangsung satu arah, peserta – narasumber. Beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan antara lain:

  1. Muh. Ali, S.Pd., M.Si.
  2. Drs. Trisdyanto, M.Pd.
  3. Abd. Azis, S.Pd, M.Pd..
Pertanyaan-pertanyaan peserta, adalah sbb.:

  1. Kapan Permendiknas No. 27 tahun 2010 tentang PIGP dilaksanakan secara efektif?
    Ada guru ikatan dinas program studi Bahasa Daerah di suatu sekolah, yang telah melaksanakan pendiikan profesi atas utusan daerah. Bagaimana konsekuensinya terhadap PIGP
  2. Bagaimana ketentuan PGIP apakah berlaku bagi guru tidak tetap yang memenuhi beban mengajar di sekolah lain.
  3. Apa hubungan PKG, PKB, dan PIGP dengan sertifikasi guru.
  4. Peruntukan PIGP bagi PNS untuk mencapai jabatan fungsional guru, sedangkan bagi non PNS untuk menjadi guru tetap?
Jawaban Narasumber:

  1. Permendiknas No. 27 tahun 2010 tentang PIGP ditetapkan pada Oktober 2010. Tentunya, satu tahun setelah diundangkan/ditetapkan sudah harus dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang menerima tenaga guru PNS yang baru diangkat. Jadi Oktober 2011 semestinya sudah dilaksanakan. Disamping itu, berbagai pihak seperti pengawas, kepala sekolah sudah mendapatkan sosialisasi melalui berbagai forum . Tahun ajaran baru bisa dimulai, namun demikian hingga kini belum ada petunjuk teknis yang dapat dipedomani oleh sekolah.
  2. Apapun status PNS baru, maka perlu PIGP, tetapi tindak lanjutnya bergantung dari mekanisme atau prosedur yang dijalankan oleh Pengutus untuk menjadi PNS.
  3. PIGP berlaku bagi guru tetap saja (PNS atau yayasan), guru tidak tetap tidak terkena aturan PIGP. Untuk guru tetap non PNS, yang menginduksi adalah sekolah yang menggunakan guru sebagai guru tetap.
  4. Yang esensial, PIGP dilaksanakan bagi guru baru, baru sama sekali atau baru pindah tugas dari tempat tugas lain. Guru yang tidak lulus PIGP hingga tahun kedua, maka tidak berhak atas tunjangan fungsional, tidak naik pangkat, sebatas sebagai PNS saja atau guru tetap saja tanpa tunjangan fungsional atau tunjangan impassing.
  5. Benar sekali, PIGP merupakan satu tahapan penyesuaian seorang guru baru pada unit kerja baru, agar memiliki kemampuan mensuaian diri dengan situasi lingkungan dan tugas-tugas barunya, sehingga memiliki kompetensi yang minimal sama dengan guru-guru yang sudah lebih dahulu mengabdikan pada suatu sekolah tersebut. Ini berlaku bagi guru PNS atau guru non PNS pada yayasan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya:Penyusunan Proposal PTK dan Kajian Materi Matematika
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

Pertemuan ke

5

Tanggal:

12 Januari 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

…….  orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Agenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh Ketua
  2. Presentasi Materi 1 oleh Narasumber/Pemandu
  3. Presentasi Materi 2 oleh Guru PemanduPenutup

Pokok-pokok Materi:

  1. Penyusunan Proposal PTK  dengan pokok materi antara lain:
  • Alasan mengapa guru harus ber PTK
  • Tahapan penyusunan Proposal PTK
  • Latihan penyusunan Proposal  PTK

Materi kedua:

  1. Mengatasi Kebosanan Belajar Matematika
  2. Melakukan simulasi permainan sulap sederhana menggunakan operasi bilangan sederhana.
Penyusunan Proposal PTK :Trisdyanto, M.Pd.

Kajian Materi Matematika:

H. Takdir Haling, S.Pd.

 

Diskusi terjadi antara peserta – pemandu dan peserta – peserta. Beberapa peserta yang saling berinteraksi :

  1. Muh. Ali, S.Pd., M.Si.
  2. St. Aisyah, S.Pd.
  3. Mahdaniar Hasbullah, S.Pd.
  4. Jasmir M., S.Pd.
  5. H. Takdir Haling, S.Pd.
Pertanyaan atau permsalahan-permasalahan yang diajukan peserta:

  1. Banyak siswa tidak mampu pada operasi dasar matematika, sudah diajarkan tetapi keesokan harinya sudah lupa. Kondisi demikian kasang-kadang membuat guru marah. Bagaimana mengatasinya?
  2. Pengaturan siswa ke dalam kelompok belum e fektif, sehingga guru masih harus banyak menjelaskan dan terus mengalami kesulitan atau siswa masih belum mengerti juga. Bagaimana memperbaiki kondisi demikian?
Tanggapan peserta lain :

  1. Guru harus memiliki karakteristik TEKUNI, yakni taat, mendidik, kreatif, unggul, nasionalis, dan ikhlas. Selain itu guru harus terbiasa dengan 3B, yaitu belajar, baca, dan berbagi. Ini adalah salah satu kunci untuk dapat mengatasi masalah-masalah pembelajaran yang dialami di dalam kelas.
  2. Siswa yang kurang aktif dalam belajar baik dalam pengaturan pengelompokan atau individual, perlu diaktifkan dengan lebih berinteraksi dengan lingkungan belajar dan materi pelajaran itu sendiri. Interaksi siswa dengan materi pelajaran perlu pemikiran  khusus agar siswa lebih mudah berinteraksi dengan materi pelajaran dalam arti mampu mengolah informasi menjadi pengetahuannya yang dimengerti.
  3. Perlu melakukan pembiasaan perilaku belajar ssiwa dengan sabar, pembasaan hal-hal yang besifat positif, misalnya mengecek catatan, membantu dengan pertanyaan-pertanyaan arahan, pembiasaan berbicaa di depan kelas.
  4. Untuk membantu meningkatkan kemampuan siswa pada operasi dasar bilangan dapat dilakukan dengan memaksa siswa menghafalkannya pada saat memasuki pelajaran baru, dan dapat dignakan sebagai syarat dapat mengikuti pelajaran berikutnya..
  5. Menyuruh siswa menulis ulang sebagai bentuk upaya menghafal atau membangun pengertian, misalnya tulis bentuk perklaian sebanyak 40 kali. Guru harus kreatif dalam memilih analogi-analogi yang nyata berkaitan dengan obyek matematika yang abstrak.
  6. Bentuk-bentuk kreatifitas yang bisa dilakukan guru sangat banyak.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya:Kajian Metodologi Pembelajaran
Praktik
  1. Praktik menyusun draft proposal PTK dengan tahapan menyusun pra PTK, yang dilakukan dengan identifikasi masalah.
  2. Menyusun draft awal (pendahuluan) proposal berdasarkan hasil identifikasi masalah.

Pertemuan ke

6

 Tanggal:

19 Januari 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

…….. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan:Model, pendekatan, metode, strategi pembelajaran matematika (Konsep dan Implementasinya)Agenda kegiatan:

  1. Pembukaan oleh moderator
  2. Presentasi materi oleh narasumber
  3. Diskusi tanya jawab
  4. Simulasi pembelajaran
  5. Refleksi
  6. Rincian pokok kegiatan:
  7. Prolog  pendidikan di dalam dan di luar negeri
  8. Pemberian motivasi peserta
  9. Penyampaian materi inti
  10. Tanya jawab metodologi pembelajaran
  11. Review model-model pembelajaran

Bahan diskusi :

  1. Metode belajar atau metode pembelajaran.
  2. Strategi pembelajaran
  3. Pendekatan pembelajaran
  4. Model pembelajaran

 

Mansyur Eppe, S.Pd., M.Pd.DCT Kabupaten Pangkep

 

Beberapa peserta yang aktif:

  1. Samsiah, S.Pd., M.Pd.
  2. Jasmir M., S.Pd.
  3. Drs. Trisdyanto, M.Pd.
  4. Abd. Azis, S.Pd., M.Pd.
  5. Suardi, S.Pd., M.Pd.
Pertanyaan-pertanyaan yang munculd ari peserta:

  1. Istilah pembelajaran langsung atau pengajaran langsung?
  2. Model pembelajaran yang biasa disebutkan pada beberapa buku pedoman teknis adalah DI, PBI, dan Kooperatif, apa sebatas tiga saja?
  3. Bagaimana imlementasi metode pada PTK apabila belum mencapai target yang diharapkan?
  4. Bagaimana menciptakan model pembelajaran sendiri?

 

Jawaban-jawaban yang muncul pada diskusi antara lain :

  1. Istilah pengajaran dalam bahasa Inggris disebut teaching atau Instruction, istilah pembelajaran dalam bahasa Inggris adalah learning. Penggunaan kedua istilah bisa digunakan, yang penting bagaimana mengombinasikan konsep pendekatan, metode yang diterapkan pada suatu pembelajaran.
  2. Pada buku sumber Joys dan weil banyak dikaji model-model pembelajaran  yang sudah melalui kajian teori dan eksperimen, namun yang biasa disosialisasikan adalah yang biasa untuk banyak subjek, sebagaimana biasa dibahas dalam buku-buku panduan metodologi pembelajaran.
  3. Implementasi suatu metodologi pembelajaran dalam tindakan PTK, dari siklus ke siklus berikut tidak perlu mengganti yang lain (berganti-ganti), tetapi perlu mengkaji lebih jauh tentang metodologi tersebut yang dijadikan dasar pelaksanaan tindakan pada siklus berikut.
  4. Kita tidak dapat serta merta mengklaim menciptakan model pembelajaran sebelum  melalui sebuah kajian ilmiah sebagai dasar teoritis dan pengujian secara berjenjang dan kemudian dipublikasikan. Pada khalayak yang lebih luas.
  5. Metode belajar sebagai sebuah prosedur sistematis, teknis, dan praktis. Metode sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan. Strategi merupakan sebuah upaya pengaturan yang perlu diciptakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pendekatan sebagai bentuk upaya yang memudahkan upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Model merupakan sebuah kerangka konseptual  yang memberikan karakteristik pembelajaran.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya:Praktik perancangan Perangkat Pembelajaran (Silabus dan RPP).
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

Pertemuan ke

7

 Tanggal:

26 Januari 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

……. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi kegatan:Praktik Pengembangan Silabus dan RPPAgenda Kegiatan:

  1. PembukaanPemaparan materi
  2. Praktik perancangan Silabus dan RPP
  3. Presentasi contoh hasil rancangan
  4. Diskusi kelas
  5. Kajian materi matematika

Pokok-pokok  Materi Kegiatan:

  1. Langkah-langkah pengembangan silabus
  2. Prinsip pengembangan silabus
  3. Komponen silabus
  4. Menentukan jenis penilaian
  5. Komponen RPP
  6. Format RPP
  7. Langkah penyusunan RPP
  8. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPP
  9. Berbagi tentang pengelolaan kelas matematika
Abd. Azis, S.Pd., M.Pd.

 

Sesi pertanyaan, tanggapan, dan pemberian pendapat dimanfaatkan oleh:

  1. Jasmir M., S.Pd.
  2. Muh. Ali, S.Pd., M.Si.
  3. Suardi S.Pd., M.Pd.
  4. St. Hafiana Azis, S.Pd.
  5. Suardi Rahman, S.Pd.
  6. Samsiah, S.Pd., M.Pd.
Pertanyaan/tanggapan yang muncul antara lain:

  1. Kadang-kadang kita dapati model format Silabus yang bermacam-macam. Format yang bagaimana dulu yang akan kita pedomani?
  2. RPP juga biasa berkembang ke arah yang berbeda-beda tergantung dari mana sumber pedoman penyusunan itu. Lantas yang mana kita akan pilih sebagai acuan menyusun RPP nanti?
  3. Kegiatan pembelajaran pada Silabus merupakan satu komponen yang biasanya kurang mendapat perhatian dari para guru ketika menyusun silabus.  Mohon diperhatikan bagian ini karena akan menentukan langkah-lankah penyusunan RPP nantinya.
  4. Format yang bagaimana yang akan digunakan sebagai acuan bersama dalam menjabarkan kegiatan pembelajaran atau langkah-langkah pembelajaran , memanjang dengan naratif biasa atau bentuk berkkolom?
  5. Bagaimana dengan komponen karakter yang harus dibangun dalam pembelajaran, dimanakah diletakkan kalau kita menyusun Silabus dan RPP?
  6. Rumusan tujuan pembelajaran, apakah perlu dijabarkan secara rinci sesuai aspek atau ranah yang ingin dicapai pada tujuan pembelajaran?
  7. Bagaimana dengan langkah kegiatan inti pada RPP, apakah perlu menjabarkan secara eksplisit mengenai tahapan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi seperti ketentuan pada standar proses?
  8. Pembelajaran matematika sering mendapati sebuah kenyataan kejenuhan, kebuntuan pada siswa, daya serap kelas rendah, dan masalah lainnya. Bagaimana mengatasinya?
Jawaban pada diskusi kelas (Narasumber dan Peserta:

  1. Format yang kita ikuti sebaiknya seperti yang biasa dibuat sebagaimana dalam standar proses, namun dengan menambahkan kolom rumusan karakter yang perlu dibangun secara terpadu dalam pembelajaran, yaitu setelah kolom kegiatan pembelajaran, dans ebelum kolom penilaian.
  2. Standar proses sudah memberikan pedoman mengenai struktur rancangan RPP. Untuk menyeragamkan rancangan RPP yang akan kita  buat kita menggunakan struktur tersebut, yang penting secara konseptual memenuhi kevalidan dan secara praktis mudah digunakan. Tujuan pembelajaran tidak perlu dikembangkan ke dalam masing-masing ranah hasil belajar, tetap mengacu pada tujuan-tujuan yang mudah diukur melalui metode tes atau pengamatan langsung. Bagian Penilaian dirancang dengan jelas mulai indikator pencapaian KD, indikator soal, dan rumusan butir soal, dan teknik penilaiannya.
  3. Kegiatan pembelajaran pada silabus harus dirumuskan secara tepat, yaitu merupakan rumusan serangkaian aktifitas mental dan fisik yang menggambarkan upaya-upaya peerolehan pengetahuan menggunakan materi pelajaran dan setting pembelajaran tertentu baik metodologinya atau pengaturan siswa, termasuk perangkat pendukungnya.
  4. Pada umumnya format penjabaran langkah-langkah pembelajaran atau skenario pembelajaran disusun bersusun atas bawah saja mulai kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, yang ketiganya harus mencerminkan jabaran tahapan pemerolehan pengetahuan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
  5. Penjabaran karakter  peserta didik yang perlu dibangun perlu dirumuskan secara integratif dalam Silabus dan RPP. Pada silabus diletakkan dalam bentuk berkolom dengan menyisipkan sebuah kolom diantara kolom kegiatan pembelajaran dan kolom penilaian. Pada RPP, karakter peserta didik dapat dirumuskan secara menyeluruh pada bagian tujuan pembelajaran, yang dirumuskan sebagai tujuan yang bersifat afektif. Selain itu, pada lankah-langkah pembelajaran, setiap tahapan pembelajaran yang khas, disertakan karakter yang terbangun dengan langkah pembelajaran tertentu.
  6. Eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi merupakan amanat permendiknas no 41 tahun 2007 yang merupakan tahapan inti pmerolehan pengetahuan yang terjabarkan dalam langkah-langkah pembelajaran. Ketiganya harus secara implisit tergambar dalam rumusan langkah-langkah pembelajaran. Namun ada pihak tertentu yang menghendaki ketiganya harus secara eksplisit terjabarkan sendiri-sendiri. Yang demikian saya kira cukup membatasi pengembangan rancangan tahapan kegiatan pembelajaran, karena pemerolehan pengetahuan tidak dapat dilakukan satu periode saja atau bahkan tidak dapat terlalu memisahkan ketiga tahapan pemerolehan pengetahuan tersebut, karena bisa jadi kedua atau ketiga tahapan itu terjadi pada kesempatan yang sama.
  7. Kelas matematika merupakan kelas yang perlu dibangun dengan kreatifitas tertenu oleh guru. Fakta negatif sebuah pembelajaran pasti pernah dialami oleh guru siapapun. Kita perlu merefleksi kembali pengalaman-pengalaman negatif sekaligus pengalaman positif.  Mengapa terjadi kebosanan kelas, kekacauan kelas, guru tidak mampu menguasai kelas, siswa tidak fokus dengan pelajaran, daya serap siswa sangat rendah, siswa sulit mencapai pemahaman yang diharapkan. Pertanyaannya adalah: bagaimanakah guru menguasai pelajaran, apakah sebatas seperti siswa belajar dan menguasai pelajaran itu?, bagaimanakah guru membangun persiapan pembelajaran, apakah sekedarnya saja, yang penting masuk kelas tanpa persiapan yang memadai?, dsb. Bagaimanapun kondisi kelas sangat tergantung kreatifitas guru dalam menata kelas, membawa kelas pada situasi pembelajaran yan diharapkan. Guru harus menguasai materi pelajaran lebih kepada bagaimanakah agar materi pelajaran mudah diserap siswa, pikirkan aktifitas atau tugas belajar siswa apa yang membuat siswa aktif secara kolektif atau individual. Sehingga kondisi fakta pembelajaran yang negatif tersebut dapat dihindari atau diatasi.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya: Penilaian dan Tindak Lanjut, Kajian materi matematika.
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

8

 Tanggal:

2 Februari 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

…… orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan :

  1. Penilaian dan Tindak Lanjut
  2. Kajian Meteri Matematika (Pembahasan Soal UN)

Agenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh moderator
  2. Pemaparan materi oleh Guru Pemandu 1
  3. Diskusi/tanya jawab tentang penilaian
  4. Praktik merancang perangkat penilaian
  5. Diskusi tindak lanjut hasil penilaian
  6. Pembahasan soal-soal UN (Kajian materi matematika)

Pokok materi kegiatan:

  1. Konsep penilaian
  2. Prinsip Penilaian
  3. Prosedur Penilaian
  4. Perangkat penilaian
  5. Pengolahan data hasil penilaian
  6. Pembahasan soal-soal UN konsep gradien dan persamaan garis lurus.
Samsiah, S.Pd., M.Pd.H. Takdir Haling, S.Pd.

 

Beberapa peserta yang terlibat aktif pada diskusi/sesi tanya jawab:

  1. Muh. Ali, S.Pd., M.SI.
  2. Suardi, S.Pd., M.Pd.
  3. Jasmir M., S.Pd.
  4. Suardi Rahman, S.Pd.
  5. . Takdir Haling, S.Pd.

 

Pertanyaan/komentar/masalah yang diajukan dalam diskusi :

  1. Bagaimana upaya yang kita lakukan untuk menghasilkan hasil penilaian kompetensi siswa yang obyektif.
  2. Bagaimana mekanisme penilaian ulangan harian yang baik, yang harus kita lakukan secara harian betul atau bagaimana ketentuanya?
  3. Apakah penilaian alternatif memungkinkan dilakukan dalam pembelajaran matematika, bagaimana tekniknya?
  4. Biasanya analisis hasil ulangan kita lakukan untuk penilaian dengan soal bentuk pilihan ganda. Bagaimana untuk soal bentuk uraian?
  5. Biasanya kalau kita mempersiapkan penilaian pada akhir semester  dengan ulangan semester, maka perlu disiapkan sejumlah butir soal termasuk kisis-kisinya. Bagaimanakah urutannya yang benar menyusun kisi-kisi dulu atau soal yang duluan?

Pertanyaan/masalah yang didisikusikan untuk materi kedua:

  1. Strategi apa yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan soal tentang gradien garis dan persamaan garis dengan cepat? Bagaimana pula strategi mendapatkan jawaban yang benar penyederhanaan pada pembagian bentuk aljabar?

 

Jawaban-jawaban yang berkembang dalam diskusi:

  1. Penilaian yang obyektif merupakan dambaan semua pihak baik yang menilai atau yang dinilai. Memang sering terjadi sebuah model penilaian yang cenderung menghakimi yang dinilai atau sebaliknya sekedar menghadiahi tanpa memperhatikan banyak aspek. Penilaian yang obyektif diharapkan mampu memberikan gambaran kompetensi siswa apa adanya sesuai dengan tuntutan kompetensi yang diharapkan pada suatu materi tertentu. Obyektifitas penilaian perlu dibangun berdasarkan prinsip validitas instrumen, yakni yang memenuhi kecukupan dan konsistensi kompetensi yang perlu diukur dengan menggunakan alat ukur yang sesuai. Cakupan atau kecukupan atas materi diukur berdasarkan indikator yang diharapkan dapat digunakan sebagi acuan penilaian.
  2. Namanya ulangan harian terkesan bahwa ulangan yang dilakukan setiap hari, yaitu setiap kali masuk pelajaran. Apa demikian ketentuannya? Atau bisakah dilakukan dengan cara yang demikian? Tentu dapat jawabannya. Jika demikian yang ditempuh, maka suatu alternatif yang baik juga dilakukan karena langsung mendapatkan informasi tentang pencapaian kompetensi siswa ketika setelah menempuh proses belajar, yang penting guru sudah menyiapkan perangkatnya, yang sudah dirancang dengan baik. Mungkin menggunakan waktu maksimal 10 menit pada akhir pertemuan. Ulangan harian bisa juga ditempuh untuk penilaian hasil belajar untuk materi sebanyak 1 Kompetensi Dasar (KD) atau satu Standar Kompetensi (SK). Tentunya bila demikian yang ditempuh, maka perlu persiapan instrumen yang harus memenuhi cakupan materi 1 KD atau 1 SK dan waktu pelaksanaannya perlu menggunakan 1 pertemuan.
  3. Kalau berbicara menungkinkan, maka sangat memungkinkan untuk dilakukan penilaian alternatif, seperti unjuk kerja, penilaian produk, penilaian afektif, penilaian portofolio, penilaian tugas proyek, dll.  Beberapa materi pelajaran yang digunakan untuk mencapai kompetensi tertentu memungkinkan untuk dilakukan penilaian tersebut, yang penting dalam rancangan perangkat pembalajran sudah dirancang sistem penilaian dengan segala komponen pendukungnya, yaitu bentuk instrumen, pedoman penilaian, pentunjuk pengerjaan tugas-tugas yang diharapkan dapat dimunculkan, dan perlu dikomunikasikan kepada siswa.
  4. Analisis hasil ulangan yang menggunakan instrumen bentuk soal essay (non obyektif) sama saja dengan analisis hasil ulangan bentuk obyektif, yang penting setiap butir soal mencantumkan skor maksimum yang menjadi acuan pemerolehan skor penilaian suatu ulangan. Proses hitungan juga mirip. Yang membedakan adalah apabila pada setiap soal memiliki bobot soal yang berbeda, sementara skor  maksimum sama. Maka perlu lembar kerja yang lebih banyak.
  5. Prosedur melakukan penilaian yang benar adalah diawali dengan penyusunan kisi-kisi  penilaian lebih dahulu. Dengan perancangan kisi-kisi soal, maka penilaian yang akan dilakukan memenuhi aspek kecukupan dan validitas konten/isi, termasuk perancangan distribusi kategori soal yang mudah, sedang, dan sukar, perkiraan waktu bisa lebih disesuaikan, sehingga tidak terjadi pengerjaan soal dengan waktu yang terlalu cepat karena soalnya mudah atau sebaliknya terlalu lama sehingga waktu yang disediakan tidak cukup.

Pembahasan materi kedua, dari beberapa peserta yang mengajukan idenya dirangkum sebagai berikut:

  • Beberapa tipe soal tentang gradien garis dan persaman garis,seperti (1) menentukan gradien garis yang persamaannya diketahui, (2) menentukan gradien garis yang sejajar atau tegak lurus dengan garis yang persamaannya diketahui atau melalui dua titik tertentu, (3) menentukan persamaan garis yang melalui dua titik tertentu, (4) melalui sebuah titik dan sejejar atau tegak lurus dengan garis dengan persamaan tertentu, (5) menentukan persamaan garis yang gambarnya diketahui, (6) menentukan gambar garis yang persamaannya diketahui.
  • Setiap kategori soal memerlukan analisis khusus sesuai spesifikasi soal. Untuk kasus (1), Jika persamaannya berbentuk y = ax + b, maka gradiennya adalah a, jika persamaannya berbentuk ax + by + c = 0, maka gradiennya dalah m = -a/b.  Untuk kasus (2), gradien garis yang sejajar dengan garis yang diketahui adalah sama besar, gradien garis yang tegak lurus dengan garis yang persamaannya diketahui adalah m1 = -1/m2 (gradien kedua garis saling berkebalikan dan berlawanan). Untuk kasus (3), jika jawabannya disediakan, maka dengan cara mensubstitusikan kedua titik pada persamaan garis-persamaan garis yang disediakan.  Jika menghasilkan kesamaan yang benar untuk kedua titik tersebut, maka persamaan tersebut adalah pilihannya. Untuk kasus (4) Seperti kasus (2) dan kasus (3), keduanya dikombinasikan untuk memecahkan soal model  kasus (4). Untuk kasus (5), menggunakan teknik substitusi titik-titik potong garis dengan sumbu koordinat, Untuk kasus (6) seeprti kasus (5) dengan mengambil titik-titik potong garis yang sesuai dengan persamaan garis.
  • Penyederhanaan pecahan bentuk aljabar, khususnya bentuk rasional (1) yang pembilang dan penyebutnya bentuk kuadrat dan (2) pembilang bentuk kuadrat dan penyebut bentuk liear, memiliki penyelesaian yang bercirikan sebagai berikut:
    • Kasus (1), hasil penyederhanaan adalah pecahan bentuk aljabar yang masing-masing pembilang dan penyebutnya bentuk linear juga, suku konstanta besarnya adalah masing-masing pembilang dan penyebut diperoleh dari membagi konstanta semula dengan konstanta yang terkecil pada pembilang atau penyebut. Tanda konstanta selalu mengikuti prinsip pembagian bilangan bulat apabila tanda sama, maka pada hasil penyederhanaan juga sama, dan apabila tandanya berbeda, maka hasil penyederhanaan juga berbeda.
    • Kasus (2) seperti kasus (1), hasil penyederhanaan adalah bentuk linear yang konstantanya dalah hasil bagi konstanta pembilang dengan konstanta penyebut.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnyaPengembangan Bank Soal Ujian MatematikaKajian Materi  Matematika
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

9

 Tanggal:

9 Februari 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

…… orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi kegiatan :

  1. Pengembangan Bank Soal Ujian
  2. Kajian Materi Matematika

Agenda kegiatan:

  1. Pembukaan oleh Pengurus
  2. Pemaparan materi oleh Guru Pemandu
  3. Praktik Penyusunan/Perancangan soal-soal ujian
  4. Telaah butir soal
  5. Pembahasan kajian materi matematika

Pokok materi :

  1. Ketentuan Soal yang baik
  2. Telaah Butir Soal
  3. Perumusan Indikator Pencapaian Kompetensi Dasar sesuai materi matematika

 

H. Takdir Haling, S.Pd.Jasmir M., S.pd.

 

  • Kegiatan difokuskan pada praktik langsung perancangan butir-butir soal ujian berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan , yang indikatornya ditentukan  leh BSNP.
  • Kegiatan dikelompokkan menurut jenjang kelas, artinya dibentuk 3 kelompok yang masing-masing  merancang soal-soal materi kelas VII, materi kelas VIII, dan materi kelas IX sesuai dengan indikator yang  dijadikan acuan.
  • Kegiatan berlanjut dengan presentasi beberapa soal yang berhasil dirancang, untuk mendapatkan telaah, koreksi, dan perbaikan seperlunya sesuai dengan karakteristik yang dihasilkan.
  • Pembahasan materi kedua, difokuskan pada penjabaran indikator pencapaian kompetensi dasar, yang meliputi indikator jembatan, indikator kunci, dan indikator tambahan/pengayaan.
Beberapa komentar dan koreksi pada sesi presentasi hasil rancangan adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan bahasa pada pokok soal masih perlu dicermati lagi, karena terdapat struktur kalimat yang kurang memberikan kejelasan.
  2. Pokok soal  masih menunjukkan soal kurang independet, yakni bergantung pada soal sebelumnya. Soal terlalu mudah, yakni kurang memuat cakupan konsep yang lebih luas dan terkait dengan pertanyaan soal.
  3. Penggunaan gambar sebagai penjelas atau sajian pokok soal harus memenuhi kecupukan syarat cukup soal agar bisa dikerjakan.

Beberapat tanggapan atau pertanyaan atas materi kedua : Kajian materi matematika dan pembelajarannya:

  1. Apakah setiap KD perlu dikembangkan/dijabarkan ke dalam ketiga kategori indikator tersebut?
  2. Jika ketiga kategori indikator itu dirumuskan untuk setiap KD, apakah ketiganya perlu diukur melalui suatu penilaian tertentu?
  3. Bagaimanakah dengan indikator soal yang digunakan sebagai acuan penyusunan instrumen penilaian suatu indikator KD?  Apakah perbedaan indikator  pencapaian KD dan indikator soal? Dan seberapakah batasannya?

Beberapa jawaban atas pertanyaan tersebut yang berkembang dari peserta dan pemandu:

  1. Setiap KD perlu dikembangkan ke dalam ketiga kategori indikator apabila memungkinkan perlunya indikator  jembatan, yakni rumusan kompetensi yang menjadi prasyarat untuk mencapai kompetensi yang utama/inti/pokok sebagaimana dalam kompetensi dasar sendiri. Indikator inti pasti harus dirumuskan karena merupakan alat ukur utama yang digunakan untuk mengetahui ketercapaian KD, sedangkan indikator tambahan  adalah rumusan kompetensi yang perlu dicapai oleh siswa yang memiliki kemudahan dalam mencapai kompetensi inti, sehingga zpdnya dapat berkembang lebih optimal. Setiap KD pasti perlu dijabarkan ke dalam minimal 2 indikator inti, sedangkan lainnya tergantung dari karakteristik materi dan karakteristik peserta didik. Untuk kelompok siswa yang kompetensinya drasakan kurang, maka perlu sekali indikator jembatan agar membantu pencapaian indikator inti, sedangkan untuk kelas-kelas yang kemampuannya bagusmaka perlu dirumuskan indikator tambahan.
  2. Yang harus diukur secara sistematis dan prosedural adalah pencapaian kompetensi sebagaimana yang dirumuskan dalam indikator inti, yang lainnya cukup diamati selama proses pembelajaran saja.
  3. Indikator pencapaian KD berbeda dengan indikator soal. Indikator pencapaian KD merupakan rumusan komptensi yang digunakans ebagai penanda pencapaian kompetensi sebagaimana dirumuskan dalam kompetensi dasar . Indikator soal merupakan rumusan kompetensi spesifik yang digunakan sebagai penanda terhadap pencapaian kompetensi sebagaimana dirumuskan dalam indikator pencapaian KD, yang gunanya sebagai acuan penyusunan butir soal yang biasanya dalam pokok soal memiliki spesifikasi tertentu. Untuk setiap indikator pencapaian KD (indikator inti, tentunya) perlu diukur dengan beberapa butir soal yang dirancang berdasarkan indikator soal. Banyaknya indikator soal, tentunya diharapkan mampu memberikan hasil pengukuran terhadap kompetensi sebagaimana dalam suatu indikator pencapaian KD. Misalnya 1 indikator (inti) pencapaian KD dikur dengan minimal 3 butir soal sampai dengan 5 butir soal spesifik.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya:Kajian Kritis dan Karya Tulis Ilmiah.
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

10

 Tanggal:

16 Februari 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

……. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan :

  1. Karya Tulis Ilmiah

Agenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh moderator
  2. Pemaparan materi pokok
  3. Tanya jawab

Pokok-pokok materi :

  1. Pendahuluan tentang pentingnya PKG
  2. Pemaparan KTI (mengapa harus KTI, Kategori KTI)

Peserta yang aktif interaktif pada kegiatan:

  1. Suardi, S.Pd., M.Pd.
  2. Muh. Ali, S.Pd., M.Si.
  3. Drs. Trisdyanto, M.Pd.
  4. Sumarni, S.Pd.
Drs. Baharuddin, M.Pd.(PCT LPMP Prov Sulsel)

 

Pertanyaan-pertanyaan peserta :

  1. Bagaimana mengetahui keberhasilan pada suatu siklus PTK?
  2. Bagaimanakah prosedur pengajuan Dupak ke golongan IV/b?
  3. Bagaimanakah ketentuan kajian minimal pada sebuah penelitian untuk pengembangan profesi guru?
  4. Bagaimana, apakah penelitian jenis eksperimen dalam pengembangan profesi bleh dilakukan/dipilih?
  5. Apa yang diamati atau diukur dalam penelitian?
  6. Kesulitan menulis adalah pada  kajian teori, kajian teori harus memenuhi etika, misalnya mengutip pendapat atau konsep dari para ahli.
Jawaban/tanggapan  narasumber atau peserta :

  1. Untuk mengetahui keberhasilan tindakan pada suatu siklus PTK maka perlu menggunakan indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan pada proposal PTK. Keberhasilan diketahui setelahmelalui tahapan analsis dan interpretasi data, kemudian dikaitkan dengan kriteria yang dipakai sebagaimana dalam indikator  keberhasilan tindakan.
  2. Pengajuan DUPAK kenaikan pangkat ke golongan IV/a melalui LPMP perlu dilakukan dengan prosedur yang benar secara hukum, diketahui kepala sekolah sudah cukup, bila perlu diketahui oleh kepala dinas. Dupak diusulkan dalam bentuk usulan penilaian kinerja selama jangka waktu penilaian dengan melampirkan bukti fisik termasuk karya pengembangan profesi. Dikirim langsung ke LPMP.
  3. Kajian teori harus menjadi dasar tentang konsep yang diteiti, sehingga penyusunan perangkat instrumen apapun perlu menyesuaikan dengan kajian teorinya, termasuk perangkat pembelajaran dan segala sarana pendukungnya. Terlebih lagi adalah instrumen pengumpulan datanya.
  4. Penelitian ekperimen tidak disarankan untuk pengembangan profesi karena secara konseptual PTK lebih bermanfaat dari pada eksperimen.
  5. Yang diamati dalam penelitian harus sesuai dengan apa yang akan diperbaiki, yaitu proses atau hasil belajar.
  6. Penggunaan tekni kutipan perlu memperhatikan etika yang benar, apabila dari sumber langsung,  maka langsung mencantumkan sumber tersebut, tetapi apabila menggunakan suatu sumber  yang memuat konsep sumber aslinya, maka perlu menyebut sumber asli dan dimana dimuat sumber tersebut.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya:Pengembangan Bahan Ajar dan Kajian Materi Matematika
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

11

 Tanggal:

23 Februari 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

……. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan:

  1. Pengembangan Bahan Ajar Matematika
  2. Kajian Materi Matematika  (Pembahasan Soal UN materi Perbandingan)

Agenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh Pengurus
  2. Pemaparan Materi Pengembangan Bahan Ajar
  3. Diskusi/tanya jawab
  4. Praktik merancang Bahan Ajar LKS
  5. Pembahasan Kajian Materi Matematika

Pokok-pokok Materi :

  1. Pendahuluan (Fakta Pembelajaran)
  2. Alasan pengembangan bahan Ajar
  3. Konsep Bahan Ajar
  4. Prinsip penyusunan
  5. Jenis Bahan Ajar
  6. Prosedur Penyusunan Bahan Ajar
  7. Telaah Bahan ajar
Mansyur Eppe, S.Pd., M.Pd.Dra. Muryanti

 

Peserta yang interaktif pada kegiatan:

  1. Drs. Trisdyanto, M.Pd.
  2. Suardi Rahman, S.Pd.
  3. Muh. Ali, S.Pd., M.Si.
  4. Jasmir M., S.Pd.

 

Pertanyaan-pertanyaan atau tanggapan yang muncul:

  1. Apakah semua materi pelajaran bisa dibuatkan LKSnya?
  2. Biasa sekolah menyediakan bahan ajar yang biasa disebut LKS. Apakah itu termasuk kategori LKS yang dibutuhkan dalam pembelajaran matematika?
  3. Kami masih mengalami kesulitan dalam merancang LKS sendiri sehingga sering bahkan hampir tidak pernah menggunakan LKS dalam pembelajaran. Bagaimanakah kunci penyusunan LKS yang yang baik?
  4. Ketika pembelajaran terus menggunakan LKS apakah tidak terjadi kejenuhan bagi siswa, karena terus dituntut banyak menggali sendiri pengalaman belajarnya?

 

Tanggapan dan jawaban-jawaban yang berkembang  dari peserta lain atau narasumber:

  1. LKS dirancang dan disediakan bagi ssiwa dengan tujuan-tujuan tertentu, antara lain membantu siswa menemukan kembali konsep matematika, menguatkan pemahaman konsep dan prinsip dengan menggunakannya dalam pemecahan soal secara terbimbing, dan membuat pemetaan konsep atau bentuk refleksi hasil belajar, dsb. Bentuk LKS bisa juga bervariasi, tergantung aktivitas yang diinginkan dilakukan oleh siswa, apakah sebatas petunjuk langkah-langkah kegiatan yang menuntut unjuk kerja tertentu ataukah melengkapi suatu prosedur penemuan atau pengerjaan pemecahan masalah. Semua bisa dibuat tergantung bagaimana kita mengkreasikannya sehingga dapat membantu memudahkan siswa melakukan tugas-tugas belajar atau mengolah informasi yang belum  final menjadi pengetahuan final yang perlu diserap oleh siswa.
  2. Yang banyak beredar di sekolah-sekolah dari penerbit tertentu, untuk matematika masih bisa dikategorikan sebagai bahan  ajar karena memuat materi matematika dalam bentuk ringkasan, tetapi sangat minim menyajikan materi matematika yang belum final dan memberikan banyak kesempaan kepada siswa untuk mengonstruksi pengetahuannya.  Jadi itu bukan kategori LKS, melainkan sebagai bahan ajar kategori diktat, yang dilengkapi dengan contoh-contoh pembahasan soal dan kumpulan soal-soal penguatan pemahaman, tugas-tugas, dan latihan ujian .
  3. Perancangan LKS memang tidak mudah, perlu kerja keras, perlu kompetensi tertentu misalnya kemampuan IT, kemampuan mengkreasikan LKS yang menarik dan dapat memotivasi siswa untuk belajar, LKS yang membantu memudahkan siswa belajar. Yang pokok harus dilakukan bagi siapapun yang ingin berkarya adalah berbuat saja untuk menghasilkan produk LKS, kedua seorang guru perlu memiliki bayangan tugas-tugas belajar bagaimanakah yang perlu dilakukan siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya,  perhatikan karakteristik materi pelajaran apakah memungkinkan tahapan belajar induktif atau deduktif, atau transnduktif. Kita harus rajin mengomunikasikanya kepada teman sejawat untuk mendapatkan masukan-masukan yang dapat menyempurnakan LKS.
  4. Penggunaan LKS yang berlebihan memungkinkan timbulnya kebosanan pada siswa yang belajar. Untuk menghindari hal ini, maka guru perlu pitar-pintar menyelipkan rekreasi matematika yang secara langsung diinstruksikan atau diselipkan pada pada LKS sebagai sebuah bentuk permainan matematika.

Materi kedua, mendiskusikan pemecahan soal-soal Ujian Nasional materi perbandingan berbalik nilai yang bersifat kontekstual.

  • Masalah utamanya adalah Bagaimanakah strategi pemecahan masalah perbandingan berbalik nilai jika menggunakan dua variabel, jika menggunakan tiga variabel atau lebih.
  • Pembahasan mengarah pada kesepahaman strategi pemecahan soal tipe tersebut, yakni dengan :
    • Strategi pembuatan tabel dengan melibatkan variabel
    • Strategi penyusunan persamaan dan sistem persamaan linear dua variabel
    • Strategi pembagian antar variabel
    • Strategi coba-coba dengan teknik substitusi.
    • Strategi informal dengan menggunakan bilangan-bilangan pengganti variabel.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, yaitu :

  1. Pengembangan Media dan Alat Peraga Matematika, dan
  2. Kajian Materi Matematika
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

12

 Tanggal:

1 Maret 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

…..  orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi kegiatan :

  1. Pengembangan Media dan Alat Peraga Matematika
  2. Kajian materi matematika

Agenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh pengurus
  2. Pemaparan materi dan peragaan
  3. Dskusi/tanya jawab media dan alat peraga
  4. Pemaparan materi kedua
  5. Praktik visulaisasi materi matematika

Pokok kegiatan :

Materi 1:

  1. Pentingnya media dan alat peraga dalam pembelajaran matematika
  2. Peragaan media penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan kartu berwarna
  3. Peragaan penjumlahan bilangan pecahan dengan menggunakan lingkaran putar pecahan
  4. Peragaan perkalian dengan kotak napier
  5. Peragaan konsep kesebangunan menggunakan sinar laser mainan (SILAM)
  6. Demonstrasi peserta bergantian
  7. Tanya jawab

Materi 2:

  1. Pemberian motivasi peserta dengan pemaparan contoh-contoh naskah lomba inovasi pembelajaran tingkat  nasional.
  2. Pentingnya media dalam pembelajaran
  3. Praktik dan tutorial memvisualisasikan persamaan garis lurus dan kedudukannya dengan garis lurus lainnya.
Mansyur Eppe, S.Pd., M.Pd.Asnawi, S.Pd.

 

Beberapa pertanyaan/tanggapan yang muncul dari kegiatan materi pertama antara lain:

  1. Penggunaan media operasi tambah dan kurang bilangan bulat  kalau sebatas dilihat kurang memberikan pengalaman kepada siswa, bagaimanakah aplikasinya dalam pembelajaran  agar dapat memberikan pengalaman siswa perlu kartu berwarna sungguhan.
  2. Bagaimanakah kalau itu dikembangkan untuk operasi perkalian dan pembagian?
  3. Sampai sebatas apakah penggunaan alat peraga dalam membantu siswa memahami operasi tambah dan kurang bilangan bulat?
  4. Perkalian model kotak napier sangat menarik bagi kita, dan tentu bagi siwa juga seandainya diterapkan oleh siswa sebagai alat hitung. Bagaimanakah seandainya alat itu terbatas, tetapi siswa diharapkan terlatih menggunakannya?
  5. Mohon diulangi bagaimana menggunakan alat peraga lingkaran pecahan pada operasi penjumlahan pecahan!
  6. SILAM merupakan alat peraga yang digunakan sebagai pengganti praktik penggunaan konsep kesebangunan di luar kelas  agar bisa dilakukan di dalam kelas. Bagaimanakah praktiknya kalau alatnya terbatas?

Materi kedua, dengan beberapa pertanyaan yang muncul dari peserta sbb.:

  • Masalah pokok  pembelajaran persamaan garis adalah membangun pengertian tentang kaitan persamaan dan visualisasinya, yang sering sulit dibayangkan dan lama digambarkan di papan tulis oleh guru, utamanya konsep-konsep kesejajaran dan  ketegaklurusan dua garis. Dengan menggunakan media visualisasi berbasis MS Excel dapat digunakan untuk menguatkan pemahaman siswa atau mencocokkan gambar yang dibuat siswa. Bagaimanakah membuatnya?
  • Kegiatan  belajar langsung pratik dengan dipandu guru narasumber, masing-masing peserta praktik langsung menggunakan perangkatnya, yang secara bergantian dengan pengaturan kelompok mendapatkan tutorial dari narasumber.

 

Jawaban dan tanggapan yang sempat dihimpun adalah sebagai berikut:

  1. Betul sekali, agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang memadai, maka perlu langsung praktik menghiung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan kartu berwarna, yakni warna merah untuk bilangan positif dan warna putih untuk bilangan negatif dan kartu tidak berwarna untuk bilangan nol. Setiap kelompok perlu disiapkan dengan cukup untuk latihan beberapa operasi penjumlahan dan pengurangan.
  2. Pengunaan kartu berwarna bisa digunakan untuk operasi perkalian dan pembagian bilangan  bulat (bilangan bulat habis dibagi) dengan prinsip perkalian adalah penjumlahan berulang dan pembagian adalah pegurangan berulang , dan untuk bilangan bulat dengan tanda sama hasilnya harus positif dan berbeda tanda hasilnya negatif, pembagi diasumsikan selalu positif.
  3. Penggunaan alat peraga adalah upaya untuk mengkonkritkan operasi bilangan yang sesungguhnya abstrak. Sebagai penanaman dasar  operasi bilangan bulat, maka selanjutnya harus dipolakan dengan menggunakan bilangan berdasarkan pengertian-pengertian yang dibangun ketika menggunakan alat peraga. Dengan pembiasaan mengalihkan pengertian pada pola peragaan ke dalam pola operasi bilangan sebagai simbol, maka akan memberikan pengalaman dan pengertian dasar yang memungkinkan selanjutnya tidak perlu lagi menggunakan alat peraga.
  4. Keterbatasan alat peraga atau alat bantu memang biasa menjadi kendala bagi proses pembelajaran. Namun peragaan yang didasari pemahaman bagaimanakah beroperasinya peragaan tersebut sangat penting bagi siswa, karena dengan pemahaman tersebut setiap saat siswa mampu menggambarkan proses penempelan kartu domino yang berisi pasangan-pasangan bilangan tunggal berapapun.
  5. Penggunaan alat peraga bagaimanapun adalah minimal untuk demonstrasi guru dan siswa di hadapan siswa lainnya. Pentingnya alat peraga adalah untuk penanaman pemahaman konsep atau beroperasinya proses berpikir analitis untuk suatu prosedur pemecahan masalah. Demonstrasi yang benar, jelas, dan diulang-ulang akan  memberikan pengalaman belajar yang cukup menarik dan berarti/bermakna bagi siswa.

 

Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

13

 Tanggal:

8 Maret 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

……. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan :

  1. Penggunaan IT untuk menghasilkan Ragam Bahan Ajar Matematika
  2. Kajian Materi Matematika (Sajian materi matematika yang praktis)

Agenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh Pengurus
  2. Pemaparan Materi
  3. Praktik Perancangan Ragam Bahan Ajar
  4. Presentasi hasil rancangan setiap kelompok
  5. Pemaparan Kajian Materi Matematika
  6. Penutup

Pokok-pokok Materi Bahan Ajar

  1. Jenis-jenis Bahan Ajar, antara lain : Modul, diktat, Hand Out, LKS, Buku Siswa,  Brosur, Leaflet, dsb.
  2. Sajian Materi Matematika, beberapa yang lazim dan praktis digunakan antara lain, model deduktif, model induktif, kombinasi induktif dan deduktif, dan model transduktif.
Muntasir Hak, S.Pd.Drs. Budi Leksono

 

Beberapa pertanyaan yang muncul pada pertemuan adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang membedakan secara spesifik antara  satu jenis bahan ajar dengan lainnya?
  2. Hand Out kalau diterjemahkan adalah “tangan keluar”, apa maksudnya?
  3. Manakah yang baik/sesuai penggunaannya dalam pembelajaran, sajian materi secara induktif, deduktif, atau transduktif, atau kombinasinya?

 

Jawaban-jawaban yang berkembang dirangkum sebagai berikut:

  1. Yang spesifik dari macam-macam bahan ajar itu adalah bahwa (1) modul merupakan bahan ajar yang dapat digunakan oleh seorang siswa secara mandiri tanpa penjelasan dan bimbingan dari siapapun, maka sajiannya harus lengkap, mulai pedoman belajar, sajian materi pelajaran yang lengkap dan sederhana mudah dipahami, format bimbingan latihan, soal-soal latihan untuk mengukur pencapaian kompetensi nya , kunci latihan dan skoring latihan mandiri. (2) Buku siswa merupakan bahan ajar yang model sajian pengetahuannya  cenderung lengkap tetapi tidak diperuntukkan bagi siswa belajar secara mandiri sepenuhnya, (3) Diktat merupakan sajian bahan ajar yang menampilkan ringkasan materi pelajaran, sedikit contoh dan soal-soal latihan, (4) Hand Out merupakan bahan ajar yang menyajikan pengetahuan  dalam bentuk sepenggal-sepenggal sesuai jenis/kategori pengetahuan apakah kelompok fakta, kelompok konsep/prinsip, atau kelompok prosedur yang digunakan sebagai panduan melaksanakan prosedur sejenis, (5) LKS bahan ajar yang menyajikan pengetahuan dalam format belum lengkap, baik berupa langkah-langkah prisedural melaksanakan tindakan/peragaan tertentu atau prosedural untuk mendapatkan pengetahuan tertentu (fakta, konsep, prosedur dan beroperasinya konsep). (6) Brosur menyajikan pengetahuan singkat, spesifik, dan menarik untuk dibaca, yang disajikan dalam bentuk satu lembaran dengan dilipat-lipat seperti brosur pada umumnya. (7) Leaftlet menyajikan pengetahuan yang sepenggal-sepenggal dan lebih spesifik lagi dari pada brosur. Biasanya berisi penjelasan atau petunjuk ringkas mengenai konsep tertentu.
  2. Hand Out  arti katanya tangan keluar. Han out bagi guru membantu dalam penyajian materi agar tertruktur dengan baik sesuai dengan rencana. Bagi siswa dapat digunakan sebagai panduan dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar yang menggunakan pengetahuan yang disajikan dalam lembaran-lembaran hand out tersebut. Sajian hand out biasanya dengan tulisan yang besar-besar, ringkas, padat, bersifat garis besar saja, tetapi tetap harus lengkap.
  3. Sajian materi matematika dalam pembelajaran dalam bentuk apapun tetap harus memperhatikan kemudahan dan kepentingan pembelajaran. Kalau ingin melibatkan banyak siswa dalam penemuan konsep, tentunya strategi induktif diperlukan atau transduktif, kalau melatih siswa membuktikan sesuatu prinsip  tentunya strategi deduktif  atau transduktif, tetapi kalau ingin melatihkan suatu prinsip dalam prosedur  agar prinsip dan prosedur itu dikuasai sekaligus, maka strategi deduktif lebih cocok digunakan. Pemilihan strategi sangat bergantung pada kemampuan guru dalam merekonstruksikan pengetahuan agar mudah dipahami siswa, juga bergantung pada karakteristik materi matematika yang dipelajarinya.

Beberapa tanggapan/koreksi atas presentasi hasil rancangan bahan ajar sebagai berikut:

Presentasi contoh LKS oleh Jasmir :

  1. Gambar dirancang agar tidak ada kesan sama besar sehingga adanya garis tengah menampakkan dua sudut keliling dan sudut pusat yang berbeda.
  2. Pemetaan setiap komponen perlu diperhatikan agar keterkaitan antara satu dengan lainnya lebih jelas.
  3. Pengunaan titik-titik untuk kepentingan berbeda perlu dibedakan dengan jelas sehingga tidak membingungkan.
  4. Keterkaitan suatu langkah kegiatan/tugas ke langkah lainnya dengan penanda yang jelas, misal menggunakan warna atau kotak-kotak.
  5. Alokasi waktu pemakaian LKS belum ada.

Presentasi contoh Leafleat oleh Nur Asriani:

  1. Perlupenyesuaian warna agar lebih menarik dan jelas dibaca.
  2. Judul kurang tajam.
  3. Perlu petunjuk yang jelas yang menghubungkan konsep dan gambar-gambar pendukungnya.
  4. Perlu keseimbangan deskripsi konsep dan gambar, setiap deskripsi yang membutuhkan gambar perlu diberi pengait dan penunjuk yang jelas.
  5. Kombinasi warna dan tata letak perlu mendapat perhatian.

Presentasi contoh Brosur oleh Mardani:

  1. Pertanyaan soal pada latihan belum tepat.
  2. Deskripsi konsep pada brosur terlalu padat sehingga kurang memberikan informasi yang fokus pada pokok materi tertentu.
  3. Perlu sajan yang menggiring anak-anak sampai pada konsep yang jelas.
  4. Gambar lingkaran tidak boleh berarsir karena akan mengaburkan konsep lingkaran.
  5. Perlu ilustrasi yang memadai dan tepat untuk sampai pada konsep matematika yang diharapkan.

Presentasi contoh Modul oleh Suardi

  1. Beberapa soal latihan pemantapan penguasaan konsep kurang lengkap dan perlu adanya gambar yang dapat memudahkan siswa membayangkan konteks atau situasinya.
  2. Soal latihan terlalu sedikit.
  3. Belum ada kunci penyelesaian dari soal-soal latihan.
  4. Belum ada soal untuk ujian atau penilaian diri.

Presentas contoh Hand Out oleh Muh Ali:

  1. Sajian materi masih sangat parsial (belum komprhensif)
  2. Satu slide masih memuat materi yang terlalu luas.
  3. Masih perlu dukungan gambar atau sajian lain yang melengkapi  keutuhan konsep yang dihadirkan.

Presentasi contoh Buku Siswa oleh Trisdyanto:

  1. Tata letak sajian masih monoton kurang bervariasi.
  2. Perlu penggunaan kombinasi warna yang dapat menarik  minat anak-anak
  3. Soal-soal latihan masih bisa dperkaya lagi
  4. Sajian pengetahuan prasyarat perlu divariasikan dalam model latihan atau lainnya, dan tidak selalu langsung disajikan begitu saja.

 

Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnyaPelaksanaan Praktik Open Class (Lesson Study) dan pengumpulan data.
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

14

Tanggal:

15 Maret 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

……. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Agenda kegiatan:

  1. Pembukaan oleh Pengurus
  2. Pendahuluan oleh Pemandu/Narasuber
  3. Praktik Open Class (pembelajaran kelas secara terbuka, yaitu memodelkan praktik pelaksanaan tindakan pembelajaran  dan praktik melakukan pengamatan pembelajaran)
  4. Diskusi refleksi oleh pemandu/narasumberPenutup oleh pengurus

Materi Pendahuluan:

  1. Etika melakukan pengamatan kelas
  2. Etika diskusi refleksi setelah pelaksanaan open class
  3. Penjelasan guru model terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran
  4. Brainstorming peserta

Pelaksanaan tindakan pembelajaran dilakukan oleh Muh. Ali, S.Pd., M.Si. sebagai guru model, sedangkan peserta lainnya sebagai pengamat. Pembelajaran berlangsung di kelas IX-I, dengan materi pelajaran Baisan dan Deret Aritmatika dan penggunaannya dalam pemecahan masalah.

Dra. Muryanti

 

Beberapa tanggapan dan pertanyaan pada diskusi refleksi antara lain:

  1. Kegiatan apersepsi  terlalu  luas sehingga menggunakan waktu terlalu banyak dan mengurangi  waktu untuk kegiatan inti dan kegiatan akhir.
  2. Guru terlalu aktif, sehingga kurang memberikan kesempatan siswa secara utuh menampilkan hasil belajarnya melainkan terlalu cepat dihandle guru.
  3. Apersepsi bisa dilakukan ketika menggali pemahaman siswa dengan menuliskan pertanyaan di papan tulis.
  4. Tidak ada respon/pertanyaan dari siswa karena guru sangat aktif dalm memberikan penjelasan.
  5. Cara penyajian materi  dengan berinteraksi langsung dengan siswa.
  6. Lembar observasi sudah sangat memadai.
  7. Guru tidak melakukan pengecekan pemahaman siswa tentang penguasaan materi.
  8. Sebagai guru model  sudah melaksanakannya dengan luar biasa, karena sudah mempersiapkan diri dengan baik rencana pelaajran atau perangkat pendukung lainnya.
  9. Guru pintar menyegarkan suasana proses belajar matematika, ini sangat bagus bagi proses belajar siswa karena tidak menimbulkan ketegangan kelas.
  10. Guru menggunakan bahasa tubuh yang sangat fleksibel dengan ekspresinya yang gembira dan sabar sehingga sering membuat selingan aktivitas yang menyenangkan siswa.
  11. Terlalu cepat menanggapi proses penyelesaian yang dilakukan siswa sebelum ssiwa menuntaskan pekerjaannya.
  12. Guru tidak melakukan pengelompokan siswa dengan baik, sehingga ada sebagian ssiwa yang kerja kelompok dan sebagian individual.
  13. Open class merupakan sebuah pemodelan bagaimana kita berkolaborasi dalam pelaksanaan pembelajaran, satu sebagai guru dan satu yang mengamati  hasil pengamatan merupakan data atau informasi yang berguna bagi penilaian terhadap efektifitas proses pembelajaran atau perbaikan pembelajaran berikutnya. Mengamati bukan perkara yang mudah dilakukan sembarang orang, membutuhkan tingkat persepsi yang tinggi agar hasil pengamatan obyektif. Makanya perlunya diskusi refleksi ini adalah untuk memberikan kesempatan guru melakukan klarifikasi yang berguna dalam melengkapi data pengamatan. Selamat untuk guru model yang sudah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, mudah-mudahan dapat menjadi model bagi siapapun teman-teman yang mekaksakan kolaborasi dalam penelitian pembelajaran.

 

Tanggapan, respon, dan klarifikasi dari guru model :

  1. Apersepsi sudah dilakukan dengan cara menanyakan kepada ssiwa pengetahuan matematika yang sudah dipelajarinya dan akan digunakan dalam pelajaran kali ini. Memang banyak teknik melakukan apersepsi,  yang pada intinya adalah agar siswa memanggil kembali pengetahuan yang dimilikinya yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dipelajarinya. Misalnya : bertanya langsung klasikal, bertanya langsung individual, menyuruh siswa menyebutkan dan menuliskan di papan tulis, menghadirkan masalah/soal dan siswa mengerjakan di papan tulis atau di bukunya masing-masing, dsb.
  2. Siswa tidak dibagi ke dalam kelompok-kelopok belajar karena kondisinya tidak memungkinkan karena faktor banyak siswa dalam kelas yang terlalu besar.
  3. Pengecekan pemahaman siswa sudah dilakukan dengan cara mengamati langsung proses dan hasil belajar siswa dengan carfa berkeliling bergantian. Sambil memfasilitasi sbelajar juga mengamati apakah siswa lancar mengerjakan tugas-tugas atau tidak.
  4. Siswa sudah diberikan waktu untuk mengerjakan tugas atau menyelesaikan soal-soal latihan, namun begitulah cara saya memfasilitasi mereka denganc ara ribut sekali, sambil mengamati kelompok-kelompok dan memberikan pernyataan atau pertanyaan pancingan agar siswa dapat melanjutkan pekerjaannya. Memang tidak ada waktu khusus untuk mengadakan penilaian akhir proses pembelajaran, tetapi dari hasil kerja siswa pada LKS dapat dilihat bagaimana pencapaian pengetahuannya.
  5. Terima kasih atas tanggapannya, memang satu hal yang perlu guru mampu lakukan adalah  menciptakan selingan-selingan yang membuat siswa senang belajar dan tetap memiliki energi untuk belajar. Ini tidak mudah dilakukan oleh setiap guru. Kalau permainan matematika bisa juga digunakan sebagai selingan pada akhir atau awal pembelajaran agar siswa cepat siap belajar atau tetap terpelihara motivasinya.

 

Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

15

 Tanggal:

22 Maret 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

……… orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan :

  1. Analisis dan interpretasi data, Refleksi dan Tindak Lanjut
  2. Kajian Materi Matematika (Kajian Materi sebagai KTI)

Agenda Kegiatan:

  1. Pembukaan oleh Pengurus
  2. Pemaparan Materi oleh narasumber 1
  3. Diskusi dan tanya jawab
  4. Praktik analisis dan interpretasi data
  5. Praktik refleksi dan menyusun rencana tindak lanjut
  6. Presentasi hasil praktik analisis, interpretasi data, dan refleksi dan tindak lanjut
  7. Pemaparan materi oleh narasumber kedua
  8. Diskusi dan tanggapan peserta
  9. Penutup oleh pengurus

 

Patong, S.Pd.Dra. Muryanti

 

Pertanyaan peserta, Jawaban peserta, jawaban guru pemandu/Narasumber:Beberapa pertanyaan dan tanggapan yang muncul tentang analisis dan interpretasi data, refleksi dan tindak lanjut pelaksanaan tindakan:

  1. Data kualitatif merupakan data atau informasi yang termasuk dalam kategori sulit dianalisis, karena berupa kata-kata, deskripsi tertentu atas suatu peristiwa. Apakah data dari seorang pengamat saja cukup untuk dijadikan bahan mengambil kesimpulan?
  2. Bagaimana teknik yang mudah untuk melakukan analisis data kualitatif?.
  3. Interrpetasi atau penafsiran data merupakan satu upaya untuk memberi penjelasan atas data. Apa ukuran atau acuannya?
  4. Refleksi  dalam tahapan PTK itu dilakukan guru atau dilakukan siswa?
  5. Bagaimana tahapan yang benar dalam melaksanakan PTK?
  6. Apa syaratnya data dapat dianalisis?
  7. Deskripsi atas data-data sebagai hasil analisis masih perlu pengembangan karena terlalu singkat dan ringkas, disebabkan oleh data kualitatif yang terlalu minim ditulis oleh pengamat.
  8. Interpretasi dilakukan belum mengacu pada kriteria ideal yang diharapkan pada setiap tahapan pembelajaran yang menjadi objek amatan.

Beberapa pertanyaan/tanggapan tentang materi kedua, Kajian materi matematika:

  1. Apakah kajian materi matematika sebagai karya tulis ilmiah perlu dilakukan guru?
  2. Apa saja yang dapat digunakan sebagai sumber rujukan kalau kita melakukan kajian materi sebagai bentuk karya tulis ilmiah?
  3. Berapakah banyak halaman minimal yang harus dibuat?

Tanggapan dan jawaban yang muncul  pada sesi tanya jawab Materi pertama dirangkum sebagai berikut :

  1. Dalam penelitian kualitatif data yang terkumpul harus bersumber atau dikumpulkan dari beberapa pihak baru bisa dianalisis dan disimpulkan. Istilah yang digunakan untuk ini adalah triangulasi (kesegitigaan), maksudnya adalah informasi mengenai sesuatu hal perlu merujuk pada tiga buah informan yang saling memberikan  dukungan data Dalam praktik pembelajaran untuk PTK, perlu juga dilakukan hal yang demikian. Karena itu minimal harus dua orang pengamat, yang ketiganya adalah guru sendiri sebai pelaksana tindakan adalah berlaku sebagai instrumen juga yang mampu dan harus melakukan refleksi diri atas pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya.
  2. Teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan beberapa metode antara lain metode interaktif, metode pengenalan pola jawaban/keterangan yang dikumpulkan, dan dengan teknik reduksi data, yakni melakukan sorting data dengan membuang data yang tidak perlu atau terlalu bias dengan kebutuhan data atas suatu variebl amatan. Upaya-upaya yang dilakukan dalam analisis adalah diarahkan untuk memberikan deskripsi atas variabel yang diamati. Dan interpretasi merupakan pemaknaan atau pengaitan antara deskripsi yang dihasilkan dengan kriteria/acuan/harapan dari setiap tahapan pembelajaran yang ditindakkan oleh guru. Mereduksi atau melokasiisir jangkauan data yang terkumpul agar mudah dideskripsikan.
  3. Acuan interpretasi data adalah kondisi-kondisi tertentu yang mungkin terjadi kaitannya dengan dampak tindakan yang dilakukan guru. Interpretasi data dimaksudkan untuk memberikan makna data, makna data dibuat dengan mengaitkan deskripsi hasil analisis data dengan kriteria yang ditetapkan atau dampak logis yang diharapkan.
  4. Refleksi dalam PTK adalah satu tahapan akhir pada setiap siklus PTK. Refleksi dimaksudkan untuk meninjau/menelaah/melihat kembali interpretasi-interpretasi yang dihasilkan dan menganalisis faktor penyebab atau faktor pendukungnya, mengapa suatu tindakan baru mencapai suatu keadaan tertentu. Jadi yang harus melakukan adalah guru peneliti dan bukan siswa. Yang direfleksi adalah pencapaian pada semua aspek yang diamati atau diteliti. Yakni melihat keberhasilan dan kegagalan yang masih dialami sehingga hasilnya dapa digunakan sebagai bahan pertimbangan melakukan tindakan pada siklus berikutnya. Apabila refleksi mendapatkan suatu keadaan baik, maka pada siklus berikut, penyebab baiknya suatu keadaan itu akan dikuatkan lagi dengan mengulang atau meningkatkan kualitas tindakannya. Sedangkan apabila refleksi mendapatkan suatu keadaan-keadaan yang belum baik, maka harus menelusuri faktor apa saja yang menyebabkan menjadi tidak baik tersebut. Dan ini sebagai bahan pertimbangan melakukan perbaikan selanjutnya dengan mengkaji lagi tindakan apa yang sekiranya dapat  memperbaiki keadaan tersebut.
  5. PTK dilaksanakan dengan tahapan yang dianut oleh peneliti. Ada tahapan yang PTK yang menganut rancangan Kemmis dkk., yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, refleksi. Keempat tahapan tersebut bersifat episodik, dan setiap satu siklus perlu adanya gambaran-gambaran tentang masing-masing tahapan tersebut, artinya laporan PTK perlu mendeskripsikan setiap tahapan yang dilakukannya sebagai laporan hasil penelitian. Laporan PTK bukan sekedar menampilkan dampak-dampak hasil pelaksanaan tindakan yang sudah diukur melalui test atau pengamatan, melainkan memberikan gambaran setiap tahapan tindakan yang dilakukan dan dampak-dampak tindakan yang diamati,  dalam upaya perbaikan pembelajaran.
  6. Data kualitatif dapat dianalisis kalau datanya lengkap, artinya denga keterangan yang lengkap maka akan dapat memberikan deskripsi yang obyektif faktual dan dapat menjadi penjelas atas sesuatu yang diteliti.

Jawaban/tanggapan pertanyaan tentang materi kedua dirangkum sebagai berikut:

  1. Kajian materi matematika sebagai sebuah karya tulis memang jarang atau hampir tidak pernah dilakukan guru. Kompetensi guru pada bidang ilmunya merupakan suatu yang mutlak tidak boleh ditawar, karena sebagai guru yang membantu siswa belajar dan menyerap pengetahuan ke dalam benaknya, akan berjalan baik apabila guru sebagai orang dewasa memiliki wawasan keilmuan yang memadai baik konten maupun cara belajarnya. Kajia materi sebagai bentuk kajian ilmiah atau karya tulis perlu dilakukan guru. Karena dengan melakukan kajian tersebut, maka guru perlu banyak membaca buku-buku sumber  yang akan memperkaya khasanah pengetahuannya dan dapat melahikan, memformulasikan suatu konsep ke dalam format baru yang lebih mudah dipahami, lebih lengkap, lebih utuh, dan lebih kaya lagi.
  2. Apabila guru akan melakukan kajian materi matematika, maka perlu menyediakan sumber-sumber yang memadai, buku teks dari berbagai sumber dan penerbit, pengalaman guru-guru, pengalaman/pengayaan pribadi, lingkungan alam, lingkungan sosial, dunia maya (internet), dsb.
  3. Kajian materi matematika dilakukan dengan acuan yang tidak menitikberatkan pada banyaknya halaman, melainkan kecukupan materi, kedalaman kajian, kefokusan bahasan. Satu kajian yang spesifik yang didukung oleh berbagai sumber sehingga menghasilkan sebuah konsep yang lebih bermakna adalah lebih baik dari pada banyak materi tetapi tidak fokus dan kurang didukung oleh berbagai sumber yang memadai. Jadi bukan pad abanyak halamannya, melainkan ketercukupan konsistensi yang dibangun dari berbagai sumber tersebut.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnyaMenyusun Laporan Kegiatan
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..

 Pertemuan ke

16

 Tanggal:

29 Maret 2012

Tempat:

SMPN 1 Bungoro

Peserta yang hadir:

…….. orang

Jumlah peserta yang tidak hadir ……. Orang

Materi Kegiatan :Penyusunan Laporan Kelompok dan IndividuAgenda Kegiatan:

  1. Pembukaan
  2. Pemaparan Perihal Penyusunan Laporan Kelompok Kerja dan Laporan Individu
  3. Tanya jawab
  4. Mengidentifikasi Hasil-hasi belajar.
  5. Penutup

Pokok –pokok pembahasan:

  1. Laporan Kegiatan Bermutu tahun 2011/2012 dipetakan secara jelas bagi kelompok kerja dan bagi peserta kegiatan secara individual.
  2. Tagihan wajib kelompok kerja meliputi :
  • Bank Soal
  • Peta Guru (Peta Kompetensi Guru berdasarkan TNA)
  • Raport Guru

3. Tagihan Wajib Individual:

  • Silabus 1 tahun untuk satu jenjang kelas (wajib)
  • RPP 1 tahun untuk satu jenjang kelas (wajib)
  • Karya Tulis Ilmiah (Memilih)
  • Jurnal Belajar (wajib)
Jasmir M., S.Pd.Drs. Trisdyanto, M.Pd.

 

Pertanyaan peserta:

  1. Bagaimana susunan tagihan individu?
  2. Kapan dikumpulkan tagihan-tagihan tersebut?
  3. Seberapa banyak cakupan karya tulis ilmiah kalau saya membuat  KTI jenis LKS?
  4. Sama pertanyaan sebelumnya, kalau modul atau buku siswa seberapa minimal bisa dikumpulkan?
  5. Kalau dijilid, warna apa dan jilidan jenis apa?

Jawaban/respon pemandu:

  1. Tagihan individu dikumpulkan sebagai kumpulan tagaihan-tagihan, jadi dijilid saja dalam satu jilidan sebagai kompilasi tagihan. Namun perlu diberikan pembatas antara jenis tagihan satu dengan lainnya agar mudah dibaca, sertakan juga daftar isi tagihan.
  2. Untuk penyelesaian laporan individu, kami berikan waktu 2 minggu dari sekarang.
  3. Jika kita membuat LKS, usahakan minimal 1 Standar Kompetensi, sehingga nampak bentuk  dan gaya LKS yang kita buat. Begitu juga kalau membuat bahan ajar lainnya, seperti modul, diktat, buku siswa dll. Usahakan minimal satu standar kompetensi.
  4. Kompilasi tagihan dijilid dengan jilidan minimal antero biasa dan warna biru.
  5. Selamat mengerjakan dan melengkapi tagihan, tugas kita sekarang mari sama kita mengidentifikasi tagihan-tagihan apa yang masih perlu dilengkapi, seperti jurnal belajar, Silabus, RPP, atau karya tulis, atau bahkan yang belum menuliskan TNA dan Rapor Guru mohon segera dilengkapi, kami sudah siapkan format-formatnya atau jika menggunakan file dan bekerja dengan file kami silahkan.
  6. Terima kasih.
Menetapkan agenda/materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya:Menunggu Pengumpulan Tagihan Individu dan menyelesaikan laporan kelompok kerja, dengan kesepakatan waktu penyelesaian 2 minggu terhitung mulai pertemuan terakhir.
Praktik 1.    ………………………………..2.    ………………………………..