Tahun ke-3 Kemitraan MGMP Matematika Wilayah II dengan Program Bermutu semakin mempermantap pemodelan pelaksanaan program pengembangan sumber daya guru matematika di Wilayah II Bungoro, Labakkang, Ma’rang, Segeri Mandalle.  Sebanyak 18 peserta (termasuk pengurus) yang terdaftar sebagai peserta kegatan pada tahun ketiga, yang  berasal dari ke lima kecamatan di wilayah utara Kabupaten Pangkep telah menunjukkan komitmennya secara konsisten sebagai peserta dan pelaku kegiatan di MGMP Bermutu tahun ketiga ini. Ke delapan belas peserta tersebut dengan sebaran menurut wilayah kecamatan, Bungoro sebanyak 6 orang, Labakkang sebanyak 2 orang, Ma’rang sebanyak 6 orang, Segeri sebanyak 3 orang, dan Mandalle sebanyak 1 orang.

Jauhnya tempat tinggal dan tempat tugas para peserta tidak menjadi kendala untuk rajin hadir pada pertemuan rutin. Sesekali waktu biasa ada kendala masalah kehadiran, dan mungkin teramati oleh sebagian pihak, tetapi konsistensi peserta untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya tetap berjalan dengan baik. Kondisi tersebut seperti biasa umumnya terjadi, karena faktor yang sangat manusiawi, seperti sakit yang tidak kita kehendaki bersama, tetapi kalau tiba waktunya mengalami derita ini, siapapun wajib memulihkan kesehatannya. Tugas dari sekolah yang bersifat darurat biasa juga menjadi kendala kehadiran peserta. Namun yang demikian ini tidaklah sering terjadi. Memang untuk membangun konsistensi terhadap komitmen sampai 100 persen sangatlah sulit, banyak faktor X yang tidak bisa dihindari. Bukankah begitu???.

Pada umumnya perjalanan program bermutu tahun ketiga di kabupaten Pangkep dimulai lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2010/2011 kegiatan dibuka pada 19 Oktober 2010, tetapi pada tahun 2011/2012 ini mulai berjalan dengan pembukaan bersama seperti tahun sebelumnya, yaitu tanggal 27 Desember 2011. Apakah ini suatu kemunduran? tentunya tidak segampang itu kita menilainya. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa keterlambatan pelaksanaan kegiatan itu terjadi. Salah satunya adalah terlambatnya proses turunnya dana kegiatan yang bersumber dari DBL Program Bermutu. Faktor lain adalah ketika semua kelompok kerja lama menanti dukungan tersebut, jarang mengecek rekening apakah dana sudah turun atau belum. Kemudian, ketika sudah diketahui dana turun, tidak juga segera memulai kegiatan karena kurangnya konfirmasi diantara para pemangku kepentingan.

Namun demikian, begitu dorongan kuat untuk memulai itu muncul dari para pelaku Bermutu, Alhamdulillah, dengan rencana yang matang, kegiatan Bermutu bagi para MGMP Reguler dan Remote berhasil ditetapkan untuk dimulai dengan pembukaan bersama yang dilanjutkan dengan Inservice bersama pada hari itu juga. Kegiatan Pembukaan dilaksanakan di Ruang Pola Kantor Bupati Pangkep, yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan, Olahraga dan Pemuda Kabupaten Pangkep, Penanggung Jawab Program Bermutu Kab. Pangkep, Para undangan dari unsur MKPS MKKS, dan Narasumber kegiatan. Dan tentunya para peserta dari ke 10 MGMP Reguler di Kabupaten Pangkep dan para Pengurus dari MGMP Remote sebagai pelaku utama dalam kegiatan telah dihadirkan pula pada kesempatan itu.

Sebagaimana rencana kegiatan yang direncanakan selama sekitar 1 minggu sebelumnya, mendapatkan kepastian untuk dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2011, dan terlaksana dengan baik berkat dukungan dan partisipasi semua pihak. Terima kasih tentunya perlu diucapkan kepada semua pihak yang banyak berperan dalam pelaksanaan kegiatan itu, para pengurus Forum MGMP SMP Kabupaten Pangep yang memfasilitasi terlaksananya kegiatan tersebut dengan kontribusinya masing-masing. Mudah-mudahan segenap amal baik yang diberikan semua pihak menjadi pelajaran bagi kita semua untuk senantiasa belajar dan bersyukur terhadap segenap nikmat Allah swt.

MGMP Matematika SMP Wilayah II Kabupaten Pangkep sebagai salah satu kelompok kerja diantara yang lainnya terus membangun komunikasi dengan calon-calon pesertanya sejak awal untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.  Kepesertaan kegiatan MGMP merupakan salah satu masalah yang langsung dihadapi oleh semua kelompok kerja MGMP.

Tahun ketiga dan tahun kedua MGMP bermitra dengan program Bermutu merupakan sebuah keberhasilan dan sekaligus tantangan bagi setiap kelompok kerja. Kita memandang keberhasilan karena masih diberikan kepercayaan untuk melaksanakan kegiatan pada tahun berikutnya dari tahun sebelumnya.

Sebagai sebuah tantangan karena tidak mudah bagi setiap kelompok kerja untuk melakukan rekrutmen peserta, karena tidak semua peserta tahun sebelumnya memiliki kemauan dan kerelaan atau komitmen untuk menjadi peserta pada tahun ketiga atau tahun kedua ini.

Seperti pada umumnya yang terjadi pada teori belajar, bahwa apabila seseorang telah berhasil pada suatu tahapan belajar tertentu, maka akan mengulang keberhasilan tersebut pada tahun berikutnya. Tentunya akan terjadi begitu sebaliknya, apabila kegagalan telah didapatkan pada suatu fase pembelajaran akan berpengaruh negatif pula pada tahapan belajar berikutnya. Inilah yang nampak terjadi pada upaya rekrutmen peserta kegiatan MGMP Bermutu.

Salah satu strategi rekrutmen yang ditempuh pada MGMP Matematika wilayah II adalah dengan mengundang peserta sebanyak-banyaknya, yakni semua guru-guru yang pernah menjadi peserta tahun sebelumnya dan calon-calon peserta yang belum pernah menjadi anggota/peserta kegiatan tahun sebelumnya. Bahkan untuk meningkatkan motivasi bagi para peserta yang masuk kategori usia muda, yang senior-senior tetap menjadi peserta prioritas. Alhamdulillah, dengan segala daya dan upaya akhirnya terdaftar peserta sebanyak 18  orang termasuk yang berperan sebagai pengurus. Gambaran pelaksanaan kegiatan Inservice dan Onservice pada MGMP Matematika Wilayah II Kabupaten Pangkep dapat disimak melalui ringkasan jurnal kegiatan kelompok kerja berikut.

Kegiatan Inservice

Inservice dilaksanakan selama 1 hari pertemuan dengan beban kegiatan peserta 10 jam pelajaran (@ 45′). Inservice dilaksanakan pada 27 Desember 2011, yang dilaksanakan secara bersama-sama dengan kelompok kerja MGMP reguler lainnya. Agenda kegiatan Inservice adalah pemaparan materi umum, yang diharapkan dapat memberikan bekal pemahaman dan wawasan yang secara operasional akan dikembangkan lebih lanjut pada tahapan Onservice. Untuk itu, struktur materi kegiatan Inservice meliputi :

  1. Pengarahan Kepala Dinas, berjudul “Pendidikan Karakter, Ekonomi Kreatif, dan Kewirausahaan Implementasinya dalam konteks Bermutu
  2.  Penjelasan Pedoman Umum Program Bermutu Tahun 2011/2012 dan TNA.
  3.  Pembahasan Materi KTSP, khusus muatan Silabus dalam ranah Pendidikan Karakter
  4. Pembahasan Materi KTSP, khusus muatan RPP dalam ranah Pendidikan Karakter.

Keempat materi tersebut diantarkan oleh beberapa narasumber dari unsur Dinas Pendidikan, Olahraga dan Pemuda Kabupaten Pangkep, yaitu Kepala Dinas Drs. H. Mohammad Ridwan, M.Pd., H. Rizal Syarief, S.Sos., M.Si (Penanggung Jawab Bermutu Kab. Pangkep), Hj. Sumiaty, S.Pd. (MKKS), dan Drs. H. Muh. Dassir (MKPS). Kegiatan berjalan selama kurang lebih 10 JP mulai 08.00 s.d. 17.00 Wita.

Materi pertama dibawakan oleh Kepala Dinas Pendidikan, Olahraga dan Pemuda Kabupaten Pangkep, yang mengantarkan sambutan dan pidatonya tentang “Pendidikan Karakter, Ekonomi Kreatif, dan Kewirausahaan Implementasinya dalam konteks Bermutu. Ada empat hal pokok yang dipaparkannya, yaitu  (1) Esensi DBL bagi MGMP, (2) perlunya MGMP dalam praktik pembelajaran, (3) Tantangan pembelajaran masa kini dan mendatang, (4) Pembelajaran berbasis kompetensi emosional dan  (5) Bagaimana membangun  karakter peserta didik.

Dalam pemaparannya beliau menguraikan bahwa esensi pengguliran dana kepada kelompok kerja adalah untuk memberikan stimulasi atau pancingan agar guru-guru senantiasa meningkatkan kualitas profesionalnya sesuai kapasitas masing-masing, yang diharapkan akhirnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Hadirnya program Bermutu dengan DBL memiliki konsekuensi bahwa pendidikan di daerah lebih baik dari pada daerah lain yang tidak mendapat suntikan dana, harus memiliki nilai tambah, memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Program Bermutu dengan kata kuncinya adalah peningkatan profesionalitas guru.

Lebih lanjut beliau menegaskan dengan sebuah pertanyaan, “Mengapa guru perlu terus menyempurnakan profesionalitasnya?”, salah satu alasannya adalah bahwa rekrutmen guru yang selama ini dilakukan tidak sepenuhnya dengan kriteria yang ketat dan sempurna. Sehingga untuk memenuhi tuntutan kebutuhan yang terus berkembang maka guru perlu terus memperbaiki kompetensinya sebagaimana kegiatan guru yang dilaksanakan pada MGMP.  MGMP merupakan satu wadah kegiatan bagi guru-guru untuk terus belajar membangun wawasan dan ketrampilan, yang pesertanya adalah dari guru, yang dilakukan oleh guru itu sendiri, dan diperuntukkan bagi guru itu juga. Untuk memenuhi kriteria ini maka perlu adanya pengaturan program kegiatan yang jelas arah dan tujuannya, jelas pengaturan jadwal dan materi kegiatannya, kejelasan dan konsistensi dalam menepati kesepakatan dan komitmen yang dilaksanakan dengan prinsip efisiensi dan efektifitas kegiatan. MGMP bukanlah tempat bercerita dan ngrumpi tanpa arah, melainkan perlu adanya arah yang jelas untuk dicapai bersama-sama.

Pengelolaan MGMP harus mampu menjawab tantangan perkembangan pendidikan. Kewajiban melaksanakan pendidikan dan pembelajaran bermakna merupakan pesan pokok yang ada dalam Permendiknas. Namun demikian, konsep-konsep tersebut masih abstrak dan masih perlu penafsiran  yang konkret dalam konsep atau implementasinya. MGMP sebagai wadah untuk menemukan bentuk-bentuk atau format yang konkret, praktis tentang konsep pembelajaran. Perbedaan model implementasi adalah sebuah rahmat, tidak perlu dipertentangkan, karena serba kondisional. Misalnya konsep pembelajaran aktif berkembang sesuai kebutuhan implementasi dan dampak yang diharapkan, yaitu Pakem, Paikem, Pakemi, Paikemm, yang pada intinya pembelajaran yang diorientasikan efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran dalam situasi belajar yang menyenangkan, produktif, yang hanya dapat diciptakan apabila guru kreatif.

  1. Konsekuensinya, perlu pencptaan sekolah yang siswanya senang datang ke sekolah.
  2. Anak diupayakan enjoy belajar di sekolah, tidak ada beban psikologis.
  3. Jauhkan siswa dari rasa takut agar memiliki jiwa besar, percaya diri, tidak penakut.

Pencapaian cita-cita pembelajaran tersebut di atas dalam prosesnya menghadirkan suatu tantangan yang perlu dihadapi, yaitu:

  1. Bagaimanakah mengubah paradigma dari teaching menjadi learning
  2. Mengubah budaya guru mengajar menjadi tempat siswa belajar.
  3. Mengubah budaya sekolah sebagai tempat mengajar menjadi sekolah sebagai tempat belajar siswa.
  4. Mengoptimalkan sumber-sumber belajar selain guru, buku, lingkungan alam, lingkungan sosial, media berbasis ICT.

Suatu kondisi yang harus disikapi sebagai tantangan adalah apabila kecepatan guru merespon perubahan lebih lambat dibandingkan siswanya. Konsekuensi tantangan ini adalah bahwa sekolah sebagai pusat masyarakat belajar, outputnya diorientasikan memiliki kompetensi belajar bagaimana belajar yang bermanfaat ketika ssiwa tersebut sudah selesai sekolah. Peserta didik terbiasa dengan pemecahan masalah agar mampu memecahkan masalah nyata dalam kehidupannya. Pembelajaran harus mampu membangun kompetensi emosional yang memadai dibandingkan hanya sebatas kompetensi intelektual, yang mungkin hanya perlu sampai dengan 40% saja, selebihnya diisi oleh kompetensi lainnya. Banyak kasus menunjukkan bahwa kompetensi emosional lebih memacu keberhasilan sesorang.

Sebuah pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi emosional dalam pembelajaran Biologi adalah tentang kejadian manusia. Bahwa kejadian manusia dimulai dari semburan berjuta sperma yang hendak berjuang memperebutkan sebuahs el telur dari ibu. Ketika 1 sel sperma sudah berhasil meraih sel telur, maka yang lainnya mati semua. Kejadian ini menginspirasikan sebuah makna kehidupan bahwa kehidupan ini perlu diperjuangkan dan harus bersaing. Jadi kompetensi emosional yang tertanam melalui kasus pembelajaran tersebut adalah bahwa mencapai suatu target keberhasilan memerlukan usaha dan perjuangan agar dapat memenangkan persaingan.

Konsekuensi dari pembelajaran yang mengintegrasikan pencapaian kompetensi emosional adalah sebuah pemahaman atau memandang seorang ssiwa adalah sebagai pelanggan yang perlu dilayani dengan baik, apapun kondisinya yang mendukung pencapaian kompetensi itu. MGMP perlu dikemas sebagai wadah guru-guru berdiskusi menangani masalah-masalah pembelajaran.

Seiirng dengan pendidikan atau pembelajaran yang mengintegrasikan pemberdayaan kompetensi emosional, maka beliau tegaskan pula bahwa pendidikan karakter perlu pada dewasa ini karena  karakter yang selama ini seharusnya ditanamkan kondisinya mengalami degradasi. Bahwa karakter harus dicontohkan dan bukan diceramahkan oleh para pelaku penddikan dengan menggali dari sumber-sumber seperti Budaya Bangsa, Pancasila, Undang-undang, Agama, dan diimplementasikan secara nyata oleh guru. Contoh : kejujuran, kepedulian terhadap lingkungan, kerja keras, bersungguh-sungguh dalam tanggung jawab, dsb.