Membangun Kompetensi PTK Berbasis Kinerja

UJIAN NASIONAL 2016


Ujian nasional sudah Nampak di depan kita, utamanya para pendidik yang perlu segera mengantarkan para peserta didik yang hendak mengakhiri masa studi akademik pada satuan pendidikan masing-masing. UJIAN NASIONAL merupakan penilaian akhir oleh pemerintah sebagai pihak penanggung jawab sentral pendidikan nasional. Ujian nasional bagaimanapun penting dilakukan oleh pemerintah, karena secara politis pemerintah yang memiliki hak dan tanggung jawab sepenuhnya dalam penyelenggaraan system pendidikan nasional kita, membangun system pendidikan, mengembangkan mulai merencanakan, melaksanakan, mengorganisasikan, mengontrol  dan mengevaluasi pencapaian segala daya dan upaya yang sudah dilakukan secara terus menerus demi keberhasilan program pembangunan pendidikan nasional. Ujian nasional perlu dilaksanakan untuk mengetahui efektifitas system pendidikan nasional yang hasil dan dampaknya berguna bagi pemetaan semua komponen dalam system pendidikan termasuk hasil pencapaian pendidikan, yang berguna sebagai rujukan melakukan upaya-upaya tiondak lanjutnya.

Yang perlu dilakukan bagi kita para tenaga pendidik, yang berkecimpung di dalamnya adalah menyambut kebijakan apapun yang menjadi keputusan pemerintah yang membidangi pendidikan untuk menyukseskan program ini. Bagaimana menyukseskan program ini pada bidang kita masing-masing merupakan pemikiran-pemikiran yang harus kita wujudkan sesegera mungkin. Memang, ujian nasional bukanlah satu-satunya akhir sebuah proses pendidikan, tetapi sudah lazimnya sebuah proses pendidikan perlu diakhiri dengan pemerolehan capaian yang berupa hasil-hasil pendidikan, yang terukur dengan menggunakan instrument yang valid, yang hasilnya dapat tergambar secara kuantitatif atau kualitatif, yang menggmbarkan mutu lulusan pendidikan.

Menyiapkan dan menyambuat tahapan ini, maka setiap tenaga pendidik yang membidangi mata pelajaran perlu segera mempersiapkan diri untuk para peserta didik kita agar pada saatnya memiliki tingkat kesiapan yang memadai dalam menjalani ujiannya. Persiapan yang dimaksud dapat berupa pemberian remedial atau pengayaan terhadap materi-materi yang sudah diajarkan, utamanya yang disajikan dalam bentuk soal ujian atau masalah-masalah yang dimungkinkan akan dihadapi nanti pada saat ujian.

Membantu para guru mata pelajaran yang akan atau sedang melakukan pembinaan kepada para peserta didiknya, Badan Nasional Standar Pendidikan telah mengeluarkan Kisi-kisi Ujian Nasional tahun 2016 bagi semua jenjang pendidikan, yang dapat didownload pada tautan berikut:

KISI-KISI-UJIAN-NASIONAL-2016-SMP

Mencermati kisi-kisi ujian nasional tahun 2016, ada yang tidak biasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal baru pada kisi-kisi ujian nasional tahun ini dibuat dengan muatan materi yang diperuntukkan bagi ujian nasional dua kurikulum, yaitu kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Materi-materi yang menjadi acuan pengembangan kisi-kisi adalah materi-materi yang mendukung kedua kurikulum, yang diistilahkan irisan kedua kurikulum.

Kebijakan ini dapat dipahami mengingat pengelolaan ujian nasional bukanlah masalah yang sederhana, sehingga untuk menghindari kompleksitas masalah yang mungkin terjadi, maka inilah kebijakan yang ternyata dikeluarkan oleh pemerintah.

Selain itu, hal baru pada kisi-kisi ujian nasional tahun ini, setiap mata pelajaran diklasifikasikan dalam beberapa klasifikasi, yang tentunya klasifikasi ini dapat memudahkan para tenaga pendidik dan para peserta didik dalam mengkategorikan soal-soal yang akan dihadapinya. Pada mapel matematika, ada tiga level materi yang diujikan, yaitu pemahaman konsep, penerapan konsep, dan penalaran.

Pemahaman konsep dalam matematika adalah satu tingkatan kompetensi aspek pengetahuan yang cenderung berfokus pada aspek-aspek kompetensi yang cukup mudah dan ringan. Seperti memahami yang termasuk contoh atau bukan contoh, pemahaman prinsip-prinsip terkait dengan konsep tertentu, mengkklasifikasikan sesuatu objek matematika pada suatu konsep tertentu, dst.

Penerapan konsep dalam matematika berupa soal-soal yang meminta peserta ujian mengerjakan atau menyelesaikan soal yang membutuhkan prosedur rutin dengan melibatkan konsep dan prinsip-prinsip tertentu. Biasanya penerapan konsep adalah sebuah prosedur penyelesaian soal yang menggunakan rumus tertentu tanpa banyak melibatkan banyak prinsip atau konsep yang kompleks.

Soal penalaran merupakan type soal yang pemecahannya membutuhkan tingkat analisis dan sintesis, yang mengharuskan kita menguraikan fakta-fakta pada soal dan meninjau keterkaitan antar fakta-antar konsep-antar prinsip untuk sampai pada jawaban akhir pemecahan soal. Soal type ini memiliki kompleksitas persoalan yang cukup tinggi, tidak mudah dipecahkan dalam arti tidak dapat dengan cepat dipecahkan atau didapatkan pemecahannya. Soal type ini membutuhkan penguasaan konsep, prinsip, dan prosedur serta pola-pola penalaran transduksi yang tinggi.

Dengan mengenal type-type soal ujian, maka akan lebih mudah dalam menentukan sikap dan mental siswa dalam mempersiapkannya dalam bentuk latihan-latihan atau ketika nanti menghadapi ujiannya.

 

 

 

 

 

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR


Paradigma pengembangan merupakan hal penting dalam praktik-praktik pendidikan di suatu lembaga pendidikan. Melalui pengembangan maka banyak hal yang keberadaannya apa adanya akan menjadi lebih baik dan menjadi ada apanya. Berbicara pengembangan, maka kita membicarakan sebuah konsep dan prosedur tertentu, yakni konsep mengenai pengembangan sendiri, konsep mengenai hal yang dikembangkan, dan prosedur mengenai cara-cara mengembangkan hal yang dikembangkan sehingga dapat mengakibatkan adanya actualisasi fungsional mengenai hal yang dikembangkan. Dengan demikian kata kunci dalam pengembangan adalah mengactualkan sesuatu yang dikembangkan agar bersifat lebih fungsional dan berdampak pada adanya perbaikan proses-proses dan produk selanjutnya.

Pendidikan merupakan sebuah sistem di dalamnya melibatkan komponen-komponen yang minimal adalah subjek didik, para pendidik, perangkat pendidikan, muatan pendidikan, dan cara-cara yang ditempuh agar pendidikan berjalan dengan optimal dan semestinya, yang harapannya berjalan efektif, yakni adanya produk-produk pendidikan yang berupa sikap-sikap subjek didik, pengetahuan, dan keterampilan-keterampilan tertentu. Agar pendidikan berjalan efektif, maka diperlukan suatu sistem yang mengatur interaksi komponen dalam sistem tersebut. Sistem yang mengatur interaksi semua komponen merupakan perangkat lunak yang dapat mengoptimalkan semua komponen dalam sistemnya. Dalam sebuah sistem tersebut, pada dasarnya dapat berjalan efektif apabila keberadaan komponennya bersifat fungsional, operasional. Optimalisasi fungsional perangkat-perangkat dalam sistem pendidikan tersebut membutuhkan perlakuan khusus sehingga dapat berjalan efektif. Pengembangan perangkat-perangkat tersebut yakni perangkat keras dan perangkat lunak menjadi hal yang penting untuk dilakukan bagi praktisi pendidikan. Paradigma pengembangan perlu diaktualkan dalam kerangka mengembangkan perangkat-perangkat keras dan perangkat lunak suatu sistem pendidikan.

Sebagai sebuah sistem, pendidikan merupakan terminologi yang sebenarnya dalam konteks yang dinamis. Subjek didik, para pendidik sebagai bagian dari sistem merupakan subjek yang berada dalam alam yang berkembang secara kompleks. Dalam kompleksitasnya tersebut, maka upaya-upaya pendidikan harus terus berjalan sebagai sebuah bentuk pemenuhan kewajiban bagi pendidik melaksanakan tugas kependidikannya kepada subjek didik atau peserta didik. Agar proses-proses pendidikan yang dilakukan para pendidik kepada subjek didik berjalan secara optimal, maka diperlukan perangkat pendidikan yang sesuai kebutuhan, yang mudah digunakan, yang benar secara konseptual, yang dapat berdampak positif pada sasaran pendidikan tersebut. Inilah pentingnya suatu pengembangan dalam pendidikan agar menghasilkan suatu produk yang secara konseptual benar, memiliki manfaat praktis, dan yang mampu menghasilkan subjek didik mencapai tujuan pendidikannya.

Dalam pendidikan, pembelajaran merupakan satu modus utama yang dilakukan dengan basis sekolah dan basis kelas. Kurikulum merupakan hal mendasar yang mengatur sistem pembelajaran. Hadirnya kurikulum, maka pembelajaran dapat berjalan efektif dan berada di atas jalur yang benar. Kurikulum sendiri merupakan sebuah pengaturan mengenai tujuan, bahan, isi, dan cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan dengan menggunakan bahan dan isi tersebut, dan cara-cara yang perlu dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan tersebut. Diantara komponen dalam sistem kurikulum tersebut, yang merupakan variabel manipulatif atau yang perlu direkayasa adalah cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan menggunakan bahan dan isi.

Dalam cara-cara tersebut, satu komponen yang penting keberadaannya adalah perangkat untuk melakukan upaya-upaya agar terjadi proses pembelajaran yang efektif. Untuk ini, maka pengembangan diperlukan agar tersedia perangkat pembelajaran yang mudah digunakan dan dapat memberikan manfaat positif, secara konseptual benar dari segi isi dan muatan-muatannya, dan dapat memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang perlu disediakan adalah perangkat yang valid, perangkat yang praktis, dan perangkat yang efektif. Ketiga kondisi tersebut menggambarkan kualitas perangkat pembelajaran yang perlu disediakan.

Mengembangkan perangkat pembelajaran merupakan aktivitas yang perlu selalu dilakukan oleh para praktisi pendidikan, yakni para tenaga pendidik atau mahasiswa yang sementara mendalami proses-proses studi kependidikannya. Mengembangkan merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena harus berdasarkan suatu cita-cita konseptual yang relevan dengan harapan tercapainya pembelajaran yang efektif.

Mengapa perlu mengembangkan perangkat pembelajaran? ini merupakan pertanyaan yang perlu diajukan kepada siapapun yang hendak melakukan pengembangan. Benar adanya bahwa pengembangan perlu dilakukan dengan dasar bahwa pembelajaran yang selama ini cenderung berjalan sebagai sebuah rutinitas aktivitas mengajar dan belajar, sangat mungkin sekali berjalan apa adanya, dengan dukungan penyediaan perangkat yang seadanya yang penting dibuat dan tersedia sebagai bukti administratif tenaga pendidik, dan akhirnya proses-proses pembelajarannya pun berjalan sebagai sebuah rutinitas yang mekanistik belaka. Ini berarti ada kencenderungan bahwa praktik-praktik pembelajaran berjalan sebagaimana biasa dan biasa-biasa saja atau tidak luar biasa. Sebagai dampaknya adalah adanya capaian kurikuler yang tidak optimal.

Pada sisi lain, kalau kita melihat ketersediaan sumber belajar, sebenarnya sumber belajar cukup banyak adanya dan tersedia luar biasa. Apalagi pada era sekarang, sumber belajar dari lingkungan sosial dan lingkungan alam, sumber belajar dari dunia ekonomi dan industri, sumber belajar yang bersifat kebudayaan, yang bersifat tekstual dan kontekstual, yang bersifat offline dan online, tersedia melimpah. Tetapi tidak serta merta dapat dimanfaatkan dengan baik dan menghasilkan pesan yang menarik, dan memudahkan bagi peserta didik mengonstruk sikap, pengetahuan, dan keterampilan-keterampilannya yang diperlukan. Ketersediaan yang melimpah itu tidak serta merta berdampak bagi efektivitas proses-proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.

Pengguna sumber belajar merupakan satu komponen pembelajaran yang memiliki karakteristik unik dan beragam. Keberagaman karakteristik peserta didik inilah yang menyebabkan  tidak semua sumber belajar berfungsi optimal. Ketersediaannya sendiri biasa menjadi masalah, karena sebagian besar biasa tidak mengupayakan bagi tersedianya sumber belajar. Kalaupun tersedia, pemanfaatannya dalam proses-proses belajar di kelas biasa kurang praktis dan tidak menyediakan ruang-ruang bagi proses eksplorasi dan konstruksi pengetahuan. Kondisi demikian dapat berdampak pada rendahnya capaian tujuan-tujuan pembelajaran, yakni rendahnya pencapaian kompetensi peserta didik, yang meliputi sikap-sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Dalam situasi demikian, maka diperlukan hadirnya perangkat pembelajaran yang dapat memudahkan proses-proses belajar dan pembelajaran, yang kontennya memiliki kebenaran secara keilmuan, dan yang dapat memudahkan pencapaian tujuannya. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang valid, yang praktis dan yang efektif merupakan satu hal yang sangat diperlukan untuk memecahkan masalah pembelajaran tersebut.

Bagaimanakah prosedur mengembangkan prangkat pembelajaran? Ini adalah sebuah pertanyaan yang penting bagi para pendidik atau mahasiswa yang akan merencanakan program pengembangan perangkat pembelajaran. Mengembangkan berarti bukan membuat rancangan secara buta-buta (asal membuat) kemudian mencobakannya. Mengembangkan berarti perlu memperhatikan paradigma pengembangan yang dianutnya. Mengembangkan berarti menciptakan sesuatu baru yang sebelumnya belum ada atau sudah ada tetapi perlu modifikasi tertentu sehingga dapat berfungsi optimal dan efektif. Banyak hal perlu diruangkan ke dalam bahan pengembangan sehingga menjadi produk pengembangan yang memenuhi kriteria tertentu.

Konsep dan prosedur pembelajaran tertentu, teori-teori belajar tertentu, prinsip-prinsip pembelajaran tertentu, perlu diramu bersama bahan belajar (muatan dan isi) sehingga menjadi produk perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, yang dapat menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik, yang mendorong peserta didik antusias dan senang belajar, yang sesuai dengan metode belajar tertentu, yang sesuai dengan model pembelajaran tertentu, yang sesuai dengan pendekatan pembelajaran tertentu, atau yang sesuai dengan srategi-strategi pembelajaran yang mendidik, dsb. Merancang dan menghasilkan produk perangkat yang demikian perlu adanya pola-pola pengembangan. Pola-pola pengembangan inilah yang disebut sebagai model pengembangan.

Salah satu model pengembangan yang bisa dipedomani oleh para pengembang perangkat pembelajaran adalah Model dari Thiagarajan dkk., yang terkenal dengan sebutan Model 4 D (Four D), karena meliputi 4 langkah utama, yaitu Define, Design, Develope, dan Disseminate.

Berikut adalah uraian mengenai tahapan-tahapan pengembangan sebagaimana yang disarankan oleh Thiagarajan dkk.

Tahap I: Define (Pendefinisian)

Tahap define adalah tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis), analisis tugas (task analysis), analisis konsep (concept analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).

  1. Analisis Ujung Depan (front-end analysis)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974), analisis ujung depan bertujuan untuk memunculkan dan menetapkan masalah dasar yang dihadapi dalam pembelajaran, sehingga diperlukan suatu pengembangan bahan ajar. Dengan analisis ini akan didapatkan gambaran fakta, harapan dan alternatif penyelesaian masalah dasar, yang memudahkan dalam penentuan atau pemilihan bahan ajar yang dikembangkan.

  1. Analisis Siswa (learner analysis)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974), analisis siswa merupakan telaah tentang karakteristik siswa yang sesuai dengan desain pengembangan perangkat pembelajaran. Karakteristik itu meliputi latar belakang kemampuan akademik (pengetahuan), perkembangan kognitif, serta keterampilan-keterampilan individu atau sosial yang berkaitan dengan topik pembelajaran, media, format dan bahasa yang dipilih. Analisis siswa dilakukan untuk mendapatkan gambaran karakteristik siswa, antara lain: (1) tingkat kemampuan atau perkembangan intelektualnya, (2) keterampilan-keterampilan individu atau sosial yang sudah dimiliki dan dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

  1. Analisis konsep (concept analysis)

Analisis konsep menurut Thiagarajan, dkk (1974) dilakukan untuk mengidentifikasi konsep pokok yang akan diajarkan, menyusunnya dalam bentuk hirarki, dan merinci konsep-konsep individu ke dalam hal yang kritis dan yang tidak relevan. Analisis membantu mengidentifikasi kemungkinan contoh dan bukan contoh untuk digambarkan dalam mengantar proses pengembangan.

Analisis konsep sangat diperlukan guna mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan deklaratif atau prosedural pada materi matematika yang akan dikembangkan. Analisis konsep merupakan satu langkah penting untuk memenuhi prinsip kecukupan dalam membangun konsep atas materi-materi yang digunakan sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar dan standar kompetensi.

Mendukung analisis konsep ini, analisis-analisis yang perlu dilakukan adalah (1) analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang bertujuan untuk menentukan jumlah dan jenis bahan ajar, (2) analisis sumber belajar, yakni mengumpulkan dan mengidentifikasi sumber-sumber mana yang mendukung penyusunan bahan ajar.

  1. Analisis Tugas (task analysis)

Analisis tugas menurut Thiagarajan, dkk (1974) bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang akan dikaji oleh peneliti dan menganalisisnya kedalam himpunan keterampilan tambahan yang mungkin diperlukan. Analisis ini memastikan ulasan yang menyeluruh tentang tugas dalam materi pembelajaran.

  1. Perumusan Tujuan Pembelajaran (specifying instructional objectives)

Perumusan tujuan pembelajaran menurut Thiagarajan, dkk (1974) berguna untuk merangkum hasil dari analisis konsep dan analisis tugas untuk menentukan perilaku objek penelitian. Kumpulan objek tersebut menjadi dasar untuk menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran yang kemudian di integrasikan ke dalam materi perangkat pembelajaran yang akan digunakan oleh peneliti.

Tahap II: Design (Perancangan)

Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu: (1) penyusunan standar tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media (media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan format (format selection), yakni mengkaji format-format bahan ajar yang ada dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan, (4) membuat rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Penyusunan tes acuan patokan (constructing criterion-referenced test)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974), penyusunan tes acuan patokan merupakan langkah yang menghubungkan antara tahap pendefinisian (define) dengan tahap perancangan (design). Tes acuan patokan disusun berdasarkan spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisis siswa, kemudian selanjutnya disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif.  Penskoran hasil tes menggunakan panduan evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran setiap butir soal.

  1. Pemilihan media (media selection)

Pemilihan media dilakukan untuk mengidentifikasi media pembelajaran yang relevan dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk menyesuaikan dengan analisis konsep dan analisis tugas, karakteristik target pengguna, serta rencana penyebaran dengan atribut yang bervariasi dari media yang berbeda-beda.hal ini berguna untuk membantu siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses pengembangan bahan ajar pada pembelajaran di kelas.

  1. Pemilihan format (format selection)

Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran, dan sumber belajar. Format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik, memudahkan dan membantu dalam pembelajaran matematika realistik.

  1. Rancangan awal (initial design)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974: 7) “initial design is the presenting of the essential instruction through appropriate media and in a suitable sequence.”  Rancangan awal yang dimaksud adalah rancangan seluruh perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan sebelum ujicoba dilaksanakan. Hal ini juga meliputi berbagai aktivitas pembelajaran yang terstruktur seperti membaca teks, wawancara, dan praktek kemampuan pembelajaran yang berbeda melalui praktek mengajar.

Tahap III: Develop (Pengembangan)

Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan (developmental testing).

Tujuan tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para pakar ahli/praktisi dan data hasil ujicoba. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

  1. Validasi ahli/praktisi (expert appraisal)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974: 8), “expert appraisal is a technique for obtaining suggestions for the improvement of the material.” Penilaian para ahli/praktisi terhadap perangkat pembelajaran mencakup: format, bahasa, ilustrasi dan isi. Berdasarkan masukan dari para ahli, materi pembelajaran di revisi untuk membuatnya lebih tepat, efektif, mudah digunakan, dan memiliki kualitas teknik yang tinggi.

  1. Uji coba pengembangan (developmental testing)

Ujicoba lapangan dilakukan untuk memperoleh masukan langsung berupa respon, reaksi, komentar siswa, dan para pengamat terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun. Menurut Thiagarajan, dkk (1974) ujicoba, revisi dan ujicoba kembali terus dilakukan hingga diperoleh perangkat yang konsisten dan efektif.

Tahap IV: Disseminate (Penyebaran)

Proses diseminasi merupakan suatu tahap akhir pengembangan. Tahap diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk pengembangan agar bisa diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok, atau sistem. Produsen dan distributor harus selektif dan bekerja sama untuk mengemas materi dalam bentuk yang tepat. Menurut Thiagarajan dkk, (1974: 9), “the terminal stages of final packaging, diffusion, and adoption are most important although most frequently overlooked.”

Diseminasi bisa dilakukan di kelas lain dengan tujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan perangkat dalam proses pembelajaran. Penyebaran dapat juga dilakukan melalui sebuah proses penularan kepada para praktisi pembelajaran terkait dalam suatu forum tertentu. Bentuk diseminasi ini dengan tujuan untuk mendapatkan masukan, koreksi, saran, penilaian, untuk menyempurnakan produk akhir pengembangan agar siap diadopsi oleh para pengguna produk.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan diseminasi adalah: (1) analisis pengguna, (2) menentukan strategi dan tema, (3) pemilihan waktu, dan (4) pemilihan media.

  1. Analisis Pengguna

Analisis pengguna adalah langkah awal dalam tahapan diseminasi untuk mengetahui atau menentukan pengguna produk yang telah dikembangkan. Menurut Thiagarajan, dkk (1974), pengguna produk bisa dalam bentuk individu/perorangan atau kelompok seperti: universitas yang memiliki fakultas/program studi kependidikan, organisasi/lembaga persatuan guru, sekolah, guru-guru, orangtua siswa, komunitas tertentu, departemen pendidikan nasional, komite kurikulum, atau lembaga pendidikan yang khusus menangani anak cacat.

  1. Penentuan strategi dan tema penyebaran

Strategi penyebaran adalah rancangan untuk pencapaian penerimaan produk oleh calon pengguna produk pengembangan. Guba (Thiagarajan, 1974) memberikan beberapa strategi penyebaran yang dapat digunakan berdasarkan asumsi pengguna diantaranya adalah: (1) strategi nilai, (2) strategi rasional, (3) strategi didaktik, (4) strategi psikologis, (5) strategi ekonomi dan (6) strategi kekuasaan.

  1. Waktu

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) selain menentukan strategi dan tema, peneliti juga harus merencanakan waktu penyebaran. Penentuan waktu ini sangat penting khususnya bagi pengguna produk dalam menentukan apakah produk akan digunakan atau tidak (menolaknya).

  1. Pemilihan media penyebaran

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) dalam penyebaran produk, beberapa jenis media dapat digunakan. Media tersebut dapat berbentuk jurnal pendidikan, majalah pendidikan, konferensi, pertemuan, dan perjanjian dalam berbagai jenis serta melalui pengiriman lewat e-mail.

Untuk kepentingan diseminasi ini, Thiagarajan, dkk (1974: 173) menetapkan kriteria keefektifan diseminasi, yaitu

  1. Clarity. Information should be clearly stated, with a particular audience in mind.
  2. Validity. The information should present a true picture.
  3. Pervasiveness. The information should reach all of the intended audience.
  4. Impact. The information should evoke the desire response from intended audience.
  5. Timeliness. The information should be disseminated at the most opportune time.
  6. Practicality. The information should be presented in the form best suited to the scope of the project, considering such limitations as distance and available resources.

Untuk kepentingan penelitian, model pengembangan Thiagarajan, dkk (1974) yang ditetapkan di atas perlu disesuaikan dengan rancangan penelitian dalam batasan rasional.

References:

Bustang. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berbahasa Inggris Berbasis Realistik pada SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Skripsi. Universitas Negeri Makassar.

Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota.

Trisdyanto. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung Berbasis Konstruktivistik pada Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Bungoro Pangkep. Tesis (tidak diterbitkan). Makassar: PPs Universitas Negeri Makassar.

Mendukung kegiatan pada tahapan analisis konsep dan analisis tugas, maka berikut adalah Muatan dalam Standar Isi Mata Pelajaran Matematika Satuan Pendidikan SMP dan SMA dari Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013:

SK-KD MAT SMP-MTs K 2006

SK-KD MAT SMA K 2006

KI-KD KUR 2013 SMP-MTs

Lampiran I Permen Nomor 59 th 2014_b

Untuk mendukung tahapan desain (perancangan), berikut dilampirkan file-file mengenai peraturan menteri pendidikan yang menjadi dasar penyusunan format perangkat pembelajaran, khususnya RPP, yaitu:

Permendiknas RI No 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah:

Permendiknas no. 41 tahun 2007 STANDAR PROSES (ppt)

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 Standar Proses (docx)

Permendibud RI No. 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah:

Permendikbud-no-103-tahun-2014

Lampiran-permendikbud-no-103-tahun-2014

 

 

 

MGMP Matematika Program Mandiri


MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) merupakan satu wadah belajar bagi guru mata pelajaran untuk membangun pengetahuan, pengalaman, sikap-sikap, keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas profesinya.

Satu poin penting yang perlu dipahami dan direspon guru yang ingin berubah adalah perlunya wadah untuk bersama-sama berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan, ide-ide kreatif, gagasan-gagasan cemerlang, pemikiran-pemikiran inovatif, informasi-informasi perubahan paradigma pembelajaran dan segala kebijakannya, yang dengan demikian kita dapat memacu diri, mendorong dan memotivasi diri untuk terus belajar guna mengembangkan kompetensi.

Kata kuncinya adalah “Kompetensi Guru”. Mari kita manfaatkan MGMP sebagai wadah untuk belajar bersama, membangun komitmen bersama, meningkatkan kompetensi bersama, membangun pendidikan matematika, untuk kesejahteraan kita dan anak didik kita, dan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Melengkapi administrasi kegiatan pada semester I tahun pelajaran 2015/2015 yang sudah berakhir, berikut dilampirkan File Biodata peserta yang akan dimanfaatkan untuk pembuatan Sertifikat Peserta.

BIODATA PESERTA KEGIATAN MGMP

Mohon teman-teman peserta download dan mengisinya, kemudian mengirimkannya kembali ke email-email berikut:

mgmpmatpangkep@gmail.com  atau

trisdyanto66@gmail.com

Untuk teman-teman guru matematika yang akan menyusun soal-soal Ulangan Akhir Semester (UAS) Semester I TP 2015/2016, berikut bisa diwonload Kisi-kisi Penulisan Soal Matematika kelas &, 8, dan 9 untuk dua Kurikulum 2006 dan 2013.

Kisi-kisi UAS I Matematika VII SMP K-13 ok

Kisi-kisi UAS I Matematika VIII SMP K-13 ok

KISI-KISI UAS I MATEMATIKA IX SMP K 13 ok

KISI-KISI UAS VII SMP KTSP SEMESTER I ok

KISI-KISI UAS VIII SMP KTSP SEMSTER I ok

KISI-KISI UAS IX SMP KTSP SEMESTER I ok

RPP K 13


Salah satu komponen pendukung pelaksanaan kurikulum adalah RPP. RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan bagian esensial dari konsep kurikulum karena merupakan penjabaran riil dari proses-proses yang terjadi dalam pembelajaran sedemikian hingga peserta didik dapat mencapai tingkatan kompetensinya. RPP merupakan satu rumusan kurikulum operasional dalam kelas, yang perlu mendapat perhatian khusus guru yang melaksanakan pembelajaran. RPP merupakan Wujud nyata dari interpretasi terhadap semua konsep, prosedur tentang kurikulum dan segenap harapan-harapan yang dicita-citakan kurikulum.  RPP menggambarkan proses-proses interaksi peserta didik dengan guru, dengan sumber belajar dan dengan peserta didik lain dalam lingkungan belajar yang perlu diciptakan. RPP merupakan perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang memberikan gambaran tingkat kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran materi tertentu untuk mencapai kompetensi tertentu pula. Konsep-konsep RPP seperti itu perlu dipahami sebagai acuan menyusun, merancang, dan mencobakannya secara praktis dalam pembelajaran agar pembelajaran berjalan efektif.

Mendukung pelaksanaan pembelajaran pada implementasi K 13, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 tahun 2014 sudah mengamanatkan kepada semua pemangku kepentingan pembelajaan untuk memedomaninya. Hal esensial dalam Permen tersebut adalah sebuah pedoman pelaksanaan pembelajaran dalam aspek perencanaan dan pelaksanaannya. Dalam perencanaan, tentunya guru harus menyusun dalam bentuk RPP dengan struktur sebagaimana diatur di dalamnya. Aspek proses pembelajaran, menekankan pada penggunaan pendekatan Saintifik yang 5 M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Inormasi/Mencoba/Bereksperimen, Mengasosiai/Menalar/Mengelaborasi, Mengomunikasikan) dan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan M yang keenam, yaitu Mengkreasikan/Mencipta.

Memenuhi aspek perencanaan pembelajaran, maka RPP menurut Permen tersebut disusun dengan struktur sebagai berikut:

  1. Indentitas RPP (Satuan Pendidikan, Mata Pelajaran, Kelas/Semester, Alokasi Waktu)
  2. Kompetensi Inti (KI) dari 3 ranah SIkap, Pengetahuan, dan Keterampilan.
  3. Kompetensi Dasar (KD) dari 3 ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  4. Indikator Pencapaian KD (IPK), yang dikembangkan berdasarkan KD-KD dari ke 3 ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  5. Materi pelajaran, yang perlu memuat materi untuk kegiatan pembelajaran reguler (Utama), dan materi untuk kegiatan pembelajaran remedial dan pengayaan.
  6. Kegiatan Pembelajaran, yang dijabarkan dalam pertemuan-pertemuan yang direncanakan dengan kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti, dan Kegiatan Akhir. Kegiatan inti memuat aktivitas-aktivitas 5 M yang mungkin disesuaikan dengan model pembelajaran yang dipilih sesuai karakteristik materi. Yang jelas 5 M bukanlah sintaks pembelajaran, tetapi modus-modus aktivitas belajar yang merupakan urutan logis pemerolehan pengetahuan ilmiah, yang mungkin sekali terjadinya modus-modus yang bersamaan terjadinya, termasuk pengulangan-pengulangannya. Contohnya: Mengamati 1 – menanya – mengamati 2- mengumpulkan informasi 1 – mengasosiasi 1- mengumpulkan informasi 2- mengasosiasi 2- mengomunikasikan 1 – mengomunikasikan 2.
  7. Penilaian dan Tindak Lanjut Penilaian. Penilaian memuat rancangan penilaian yang relevan dengan materi dan indikator pencapaian KD pada ketiga ranah kompetensi. Tindak lanjut penilaian memuat rancangan kegiatan pembelajaran untuk Remedial dan Pengayaan, yang perlu disusun secara konseptual dan prosedural dengan berbagai alternatif aktivitas yang relevan sesuai dengan kategori pencapaian ketuntasan hasil penilaian pengetahuan.
  8. Media/Alat, Bahan, dan Sumber belajar, yang memuat rincian mengenai media atau alat bantu pelajaran yang diperlukan dalam pembelajaran, bahan belajar yang relevan yang menyediakan obyek/benda/informasi yang bersifat tertentu (objek alamiah, objek adaptasi) dalam bentuk riil, model, atau format tertentu, yang mendukung proses pengumpulan, pengolahan informasi sebagai bahan acuan mengomunikasikan.
  9. Bagian Pengesahan (guru mapel dan kepala sekolah).

Memperjelas uraian singkat di atas, berikut contoh RPP yang belum sempurna, masih perlu dikritisi dan mendapat koreksi seperlunya. Mudah-mudahan sedikit memberikan gambaran nyata mengenai RPP menurut permendikbud 103 tahun 2014, dan dapat sebagai bahan acuan penyusunan RPP pertemuan untuk materi-materi lainnya. Utamanya bagi teman-teman guru sasaran yang dalam proses pendampingan K 13, berikut contoh RPP yang dapat didownload. Silahkan download CONTOH RPP KESEBANGUNAN.

PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI K 13


Program pendampingan implementasi K13 tahun 2015 sudah berjalan. Apakah program ini penting bagi efektifitas implementasi K 13 di sekolah-sekolah? Seberapakah pentingnya program ini? Bagaimanakah program ini agar menjadi sesuatu hal yang penting? Ini pertanyaan-pertanyaan awal yang perlu diajukan sebagai acuan dalam sedikit uraian berikut.

Implementasi K 13 yang sudah berjalan sejak tahun pelajaran 2013/2014 bagi sekolah-sekolah sasaran terbatas hingga kini sudah memasuki tahun ke tiga. Ini berarti bagi peserta didik yang belajar sejak tahun pelajaran itu, khususnya pada jenjang SMP sudah menjalani belajar dengan K 13 selama 3 tahun berjalan. Dalam perjalanan implementasi tersebut, semenjak konsep dan prosedur awal dilaunching telah mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang ada tentunya untuk penyempurnaan bagaimana implementasi K 13 yang praktis, yang efektif, dan tetap memenuhi tuntutan dan harapan kurikulum.

Berbagai kebijakan telah diberlakukan semenjak Permendikbud tahun 2013 dan berubah lagi pada tahun 2014. Ini suatu bentuk dinamisasi awal dalam upaya uji pengembangan untuk mendapatkan pola implementasi yang praktis dan efektif. Perubahan-perubahan itu antara lain pada Permendikbud No. 65 tahun 2013  tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, yang kemudian ditetapkan berikutnya Permendikbud No. 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran, yang muatannya adalah Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada aspek penilaian, Permendikbud nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang kemudian ditetapkan Permendikbud no. 104 tahun 2014 tentang Penilaian, yang berisi pedoman pelaksanaan penilaian pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Inilah esensi dari  suatu dokumen kurikulum yang hidup, tumbuh dan berkembang, sepanjang tidak ada konsep dan ketentuan yang bertentangan, konsep dan prosedur dalam Permen-permen itu tetap diberlakukan.

Tuntutan dalam perubahan peraturan tentunya harus diikuti dengan perubahan dalam implementasi. Sebagai sebuah proses, maka praktik-praktik pembelajaran yang menerapkan K 13 adalah sebuah proses belajar, pengalaman belajar, yang semakin lama-semakin mantap, semakin baik, sepanjang dilaksanakan secara konsisten berdasarkan interpretasi guru yang proporsional. Sebagai sebuah disseminasi hasil pengembangan kurikulum, praktik pembelajaran bisa merupakan uji pengembangan yang tentunya perlu diobervasi, dievaluasi, dan direvisi untuk mendapatkan praktik-praktik terbaik dalam pembelajaran K 13.

Program pendampingan sangat penting dalam hal ini, yakni mengetahui seperti apakah praktik pembelakaran K 13 selama ini, bagaimanakah kelebihan dan kekurangan rancangan-rancangan pembelajaran yang dibuat guru, bagaimanakah kelebihan dan kekurangan praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan guru di kelas, Bagaimanakah rancangan penilaian guru yang akan digunakan untuk menilai capaian kompetensi peserta didik, bagaimanakah implementasi penilaian kompetensi siswa yang mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab melalui kegiatan pendampingan Implemenasi K 13. Untuk mendapatkan gambaran semua hal di atas, maka kegiatan pendampingan dilaksanakan dalam tahapan In dan On. Lebih khusus bagaimana mendapatkan data tentang semua hal tersebut, maka seorang pendamping perlu memanfaatkan instrumen pendampingan, yang berupa format-format :

  1. Format telaah RPP dan penilaiannya.
  2. Format observasi pembelajaran
  3. Format rekap capaian guru sasaran (deskkripsi capaian)

Kedua format pertama sebagai alat pengumpul data bagi para pendamping untuk melihat bagaimanakah capaian-capaian produk rancangan pembelajaran dan produk proses pembelajaran. Data yang dikumpulkan sebagai bahan pelaporan, yakni berupa deskripsi faktual produk-produk pada setiap tahapan In dan On, deskripsi kelebihan-kelebihan, dan kekurangannya, serta saran-saran perbaikan yang perlu dilakukan untuk menyempurnakan hingga diperoleh produk akhir baik yang bersifat desain pembelajaran atau praktik pembelajaran yang baik. Produk-produk rancangan dan proses yang dihasilkan lebih lanjut perlu didiseminasikan guru yang bersangkutan (guru sasaran) pada kelas-kelas lainnya dan untuk materi-materi lainnya, serta kepada sesama guru mata pelajaran sejenis.

Untuk teman-teman para pendamping dari TPK unsur Guru Mapel, berikut kami lampirkan format-format instrumen pendampingan K 13, dan model laporannya yang harus  disusun masing-masing secara kualitatif. Silahkan didownload pada lampiran berikut.

FORM REKAP LAPORAN GP MAPEL

LEMBAR Telaah RPP

LEMBAR OBSERVASI PEMBELAJARAN

FORM DH GS TIAP KELP GS

Pendampingan IN dan ON_2015

Laporan tiap guru pendamping dibuat berdasarkan hasil-hasil telaah RPP dan rancangan penilaian, hasil-hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran  dan penilaian, dan rekap-rekap perkembangan capaian tiap guru sasaran pada semua tahapan In, On 1, dan On 2 atas semua produk yang dihasilkan dari rancangan dan proses pembelajaran dan pelaksanaan penilaian dalam bentuk hard copy dan soft copy.

Laporan dibuat masing-masing pendamping dan dikumpulkan pada koordinator untuk dikompilasi sebagai laporan tunggal proses pendampingan seluruh mapel dan kelompok guru sasaran lainnya, sebagai pelengkap laporan manajemen induk klaster.

Untuk kesamaan penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan In dan On oleh Tim B, berikut dilampirkan jadwal pelaksanaannya pada lampiran berikut, silahkan download di bawah ini.

FORM REKAP LAPORAN GP MAPEL

JADWAL IN – ON BLC

JADWAL IN – ON LBK & BGR

STRUKTUR PROGRAM IN 2 HARI

Mudah-mudahan bisa menjadi bahan acuan bagi teman-teman TPK dalam penyelesaian tugas-tugas pendampingan dan pelaporannya.

MGMP MATEMATIKA MANDIRI 2015


Disampaikan kepada semua guru Matematika SMP/MTs. Kabupaten Pangkep, bahwa Kegiatan MGMP Periode Semster I Tahun pelajaran 2015/2016 dilaksanakan pada setiap hari Kamis, pukul 13.30 s.d. 17.00 Wita.

Pertemuan I dilaksanakan pada:

Hari       : Kamis,

Tanggal :15 Oktober 2015,

Waktu   : Pukul 13.30 s.d. 17.00

Tempat :  SMPN 1 Bungoro.

Bagi teman guru yang sudah mengetahui informasi ini mohon meneruskannya kepada teman dari sekolah lain.

Terima kasih.

Undangan Peserta MGMP Matematika SMP Kabupaten Pangkep Periode Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 dapat didownload di sini:

Undangan Fersi Docx : SURAT PANGGILAN PESERTA MGMP TAHUN 2015

Undangan Fersi PDF :

Penilaian Kinerja Guru (PKG)


Penilaian Kinerja (PK) Guru merupakan satu sistem pembinaan karir guru yang dilakukan melalui modus penilaian kinerja, yang dilakukan secara terus menerus agar guru mampu mencapai tingkatan kinerjanya yang optimal.  PK Guru dilakukan bukan untuk mendapatkan nilai, tetapi yang sebenarnya adalah satu bentuk dorongan bagi insan pendidik agar tetap konsisten dengan profesi yang sudah menjadi pilihannya, yakni menjadi pendidik bangsa, guru bangsa agar terlahir dan tumbuh generasi terdidik dengan bekal keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, dan menjadi manusia yang beradab dengan segenap atribut sebagaimana dirumuskan dalam tujuan dan fungsi pendidikan nasional.

Kata kunci PKG guru adalah sebuah tuntutan konsistensi bagi guru terhadap profesinya agar tidak lalai ketika sudah mendapatkan sertifikat pendidik dan menerima tunjangan sertifikasi lantas bersantai ria yang penting jamnya sudah memenuhi beban minimal. Akan tetapi menjadi sebuah kewajiban bagi guru yang sudah menyandang status tersebut adalah terus memelihara dan meningkatkan profesionalitasnya dengan menunjukkan upaya kerja maksimal sebagai bentuk penghargaan balik atas apresiasi pemerintah terhadap status tersebut.

Ketika guru sudah menyandang profesi pendidik dengan sertifikat pendidik di tangannya dan terpenuhi beban minimal jam mengajar sebanyak 24 jam, ini belum bisa menjadi ukuran dan jaminan sebenarnya bahwa guru disebut memenuhi status profesionalnya. Masih banyak fakta menunjukkan bahwa status yang sudah diraih tersebut disikapi sebagian guru sebagai sebuah prestise dan menjadi kebanggaan, yang terkadang cenderung mengabaikan tuntutan profesional yang disandangnya. Penghargaan yang diterima memang menjadi hak setiap guru yang menerimanya untuk menggunakan sesuai kepentingan pribadinya. Tetapi ada harapan di dalamnya adalah sebuah pesan moral yang cenderung diabaikan kebanyakan guru, yakni tingkatkan profesimu dengan tunjangan-tunjangan tersebut.

Memenuhi harapan dan pesan moral pada penghargaan tersebut di atas, maka menjadi sebuah keharusan bagi insan pendidik untuk senantiasa memelihara dan meningkatkan keprofesionalannya. Sebagai bentuk upaya mendorong dan membina guru agar tetap konsisten dengan profesinya, maka Penilaian Kinerja (PK) Guru perlu dilakukan secara berkala dan terus menerus. Melalui PKG maka akan selalu diperoleh kondisi obyektif  ukuran kinerja guru dalam kurun waktu satu semester, yaitu semester Genap tahun pelajaran berjalan (penilaian formatif) dan semester Ganjil tahun pelajaran berjalan (Penilaian Sumatif).

PKG menjadi penting dan harus dipentingkan oleh semua insan pendidik, utamanya yang berstatus sertificated. Sebuah kondisi yang tidak logis ketika seorang guru berkinerja rendah lantas mendapatkan status profesional yang ditunjang dengan tunjangan sertifikasi. Bila demikian adanya, Ini bagaikan seorang dokter yang tidak mampu mendiagnosa suatu penyakit dan pasti akan salah dalam memberikan treatment kepada pasiennya, dan tentunya akan berdampak buruk bagi si pasien, paling tidak akan terjadi malpraktek. Kalau ini terjadi pada guru, akan berdampak buruk juga bagi peserta didik. Bukankah ini berbahaya…? Maka dari itu pentingnya PKG dilaksanakan dengan wajar dan obyektif agar guru dapat melihat kondisi obyektif dirinya atas kinerjanya sehingga dapat menjadi refleksi diri untuk terus memperbaiki kinerjanya. Tidak ada alasan karena usia sudah tua, sudah mendekati pensiun, sudah berpangkat tinggi dan tidak perlu naik pangkat lagi lantas menyikapi prosesi PKG dengan negatif. Semua guru harus menyikapi prosesi ini dengan gembira, dengan suka cita, dengan semangat, dengan pro aktif agar harapan PKG benar-benar dapat dicapai, yakni tercapai tingkatan kinerja yang mencerminkan kemampuan aktual, yang dapat berdampak peningkatan layanan pendidikan bagi peserta didik, dan bagi guru akan mendapatkan penghargaan yang wajar.

Jadikan PKG sebagai moment yang baik dalam menata dan memperbaiki diri untuk mencapai standar kompetensi pendidik yang diharapkan dan meniti karir secara wajar dalam batas-batas waktu yang optimal tanpa harus memaksakan diri dengan menempuh jalan-jalan yang tidak dibenarkan menurut kaidah dan norma yang berlaku.

Untuk para asessor yang bertugas melaksanakan PKG bagi guru, selamat bekerja, mari kita abdikan tugas-tugas kita dengan penuh keikhlasan tanpa melanggar satupun prinsip-prinsip kebenaran, untuk masa depan bangsa yang lebih baik, generasi yang lebih baik, keadaan yang lebih baik. Kita laksanakan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan kita, mudah-mudahan senantiasa diberikan petunjuk dan kekuatan oleh-Nya untuk melaksanakan tugas berat ini. Jadikan ini adalah tampat dan waktu untuk menata diri, berbenah diri, menjadi contoh yang baik bagi sesama teman untuk sekarang dan masa mendatang.

Berikut kami lampirkan format Excel untuk melakukan dokumentasi skoring PKG untuk ke-14 butir kompetensi setelah melalui rangkaian pengumpulan data dan pencatatan fakta sebelum pengamatan, selama pengamatan, sesudah pengamatan, dan pemantauan kepada guru yang dinilai.

Format Aplikasi MS Excell PKG Formatif SMP Negeri 1 Bungoro

PKG BUNGORO 1 TH 2015 OK

Mudah-mudahan bermanfaat. Terima kasih…. dan selamat ber PKG

 


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 371 pengikut lainnya