Membangun Kompetensi PTK Berbasis Kinerja

BAGAIMANA MELAKUKAN EVALUASI MANDIRI?


Salah satu bab dari muatan laporan utama Laporan Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban pengelolaan dana bantuan langsung (DBL) program BERMUTU adalah menyajikan Rangkuman Hhasil Evaluasi Mandiri. Bab ini pada bagian bab IV, yang sering membuat kebingungan para penyusun laporan.

Evaluasi mandiri merupakan satu model evaluasi atau refleksi yang dilakukan secara mandiri oleh internal pengurus atau anggota MGMP. Sebagai upaya refleksi dan evaluasi tentunya harus memiliki kejelasan aspek yang dievaluasi dan direfleksi. Berdasarkan pada pemahaman terhadap pedoman pengelolaan DBL yang terakhir, bahwa evaluasi mandiri ini dilakukan terhadap beberapa aspek, antara lain (1) Management Kegiatan, (2) Keterlaksanaan kegiatan, (3) Ketersediaan dan penggunaan sarana dan prasarana kegiatan, (4) monitoring dan evaluasi, dan bisa ditambahkan (5) Efektivitas kegiatan, yang dilihat dari pencapaian kuantitas dan kualitas produk kegiatan peserta (tagihan) yang terkumpul.

Semua aspek membutuhkan isntrumen khusus yang dapat digunakan oleh pengurus atau anggota MGMP secara  samppling atau keseluruhan. Instrumen perlu disiapkan oleh pengurus dan digandakan, dan didistribusikan untuk diisi. Berdasarkan isian-isian instrumen tersebut, maka dengan pendekatan kuantitas atau kualitas dan dideksripsikan rangumannya sebagai Rangkuman Hasil Evaluasi Mandiri.

Bagi teman-teman pengurus MGMP yang sementara menyelesaikan laporan pertangungjawaban pelaksanaan dan pengelolaan keuangan DBL program BERMUTU, berikut kami lampirkan salah satu model instrumen yang dapat dimanfaatkan pada masing-masing kelompok kerja. Semoga dapat didownload, jika perlu ada penyesuaian silahkan lakukan sesuai kebutuhan masing-masing.

FORM EVALUASI MANDIRI MGMP (MODEL 1)

INSTRUMEN EVALUASI MANDIRI (MODEL 2)

Semoga bermanfaat.

PTK, Karir, Yes … ! Keprofesionalan, OK…! Kinerja …?


Dalam rangka memfasilitas program pengembangan karir PTK Dikdas, maka diluncurkan program Pengembangan Karir PTK Dikdas berbasis MGMP, oleh P2TK Dikdas Kemdikbud. Program ini sudah berjalan selama 1 tahun yang lalu, dan tahun 2013 ini memasuki tahun kedua. Sasaran utama program ini adalah pencapaian kompetensi guru dalam menghasilkan karya pengembangan keprofesionalan berkelanjutan (PKB), yang muatan utamanya adalah (1) Pengembangan Diri, (2) Publikasi Ilmiah dan Karya Inovasi.

PKB merupakan satu kewajiban mutlak bagi guru di era kinerja ini. Berlakunya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi  Birokrasi No 16 tahun 2009, berimplikasi pada suatu keadaan yang tidak bisa dihindari lagi oleh guru yang berharap kesejahtraannya tidak mengalami stagnasi pada suatu kepangkatan tertentu. Namun sayang, hingga tulisan ini saya buat belum ada tanda-tanda kesiapan sistem itu berjalan pada level daerah.

Berbagai persiapan telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, antara lain sosialisasi PENILAIAN KINERJA GURU (PK GURU), SOSIALISASI PKB, PELATIHAN CALON ASSESSOR PK GURU, PELATIHAN TRAINNER PK GURU, WORKSHOP GURU BERBASIS MGMP dalam model BERMUTU, dst. Kesiapan memasuki era baru berlakunya peraturan menteri tersebut belum ada kejelasan bagaimana mekanismenya. Sementara waktu efektif berlakunya peraturan menteri sudah berjalan sejak awal tahun pelajaran 2012/2013 alias sudah satu tahun berlalu. Seyogyanya daerah melalui dinas pendidikan segera melakukan persiapan sistem dan mekanisme yang jelas sehingga ada kepastian para guru dalam mengantisiasi pengembangan karirnya. Kejelasan itu diperlukan agar segala upaya yang telah diupayakan sejak lama mendapatkan respon positif bagi semua guru di lapangan. Sehingga, upaya-upaya yang ditempuh pada sisi guru, utamanya dalam penyiapan membangun wawasan dan kompetensi guru memasuki era ini mendapatan sambutan yang serius. Guru harus mau dan mampu mempersiapkan diri memasuki era kinerja dengan basis PKG dan PKB.

Melalui program pengembangan karir PTK Dikdas sejak tahun 2012, maka diharapkan mampu memfasilitasi masa transisi antara berakhirnya program pengembangan guru model BERMUTU dengan dana bantuan langsung untuk memasuki era kemandirian daerah. Program pengembangan karir PTK Didkas dengan dana sebesar Rp 28 Juta diperuntukkan bagi penyiapan sistem pengembangan karir guru berbasis PKG dan PKB. Diharapkan guru mampu menghasilkan karya tulis yang memenuhi penilaian karya publikasi dan karya inovasi dalam wadah kegiatan yang berbasis pengembangan diri. Dengan demikian, dua point dapat diperoleh guru dalam sekali mengikuti kegiatan MGMP pragram ini. Dua point itu adalah (1) PENGEMBANGAN DIRI dan (2) KARYA PUBLIKASI ILMIAH & KARYA INOVASI.

Melalui program ini, apabila guru mampu mengikuti dengan baik maka akan menghasilkan angka kredit 2 hingga10 kredit. Banyak bukan? Kenapa bisa mendapatkan 2 hingga 10 kredit? Pengembangan diri dengan beban belajar dalam pelatihan di atas 81 jam mendapatkan point 2, laporan hasil penelitian mendapatkan 4 point, artikel hasil ilmiah mendapatkan point (1 s.d. 3) bergantung tingkatan publikasinya, publikasi artikel ilmiah non penelitian mendapatkan point 1. Tetapi sayang, belum banyak guru yang tertarik dengan program seperti ini. Tertarik hanya sebatas tertarik, tetapi ketika dilihat dari banyaknya tagihan yang mampu dihasilkan ketika mengikuti kegiatan pada tahun pertama, belum semuanya mampu menghasilkan. Kalaupun mampu menghasilkan, belum semua memenuhi kriteria yang layak mendapatkan nilai di atas.

Hal tersebut di atas memberikan gambaran bahwa program ini masih membutuhkan waktu yang panjang dan terus menerus agar guru-guru mampu menghasilkan karya-karya tersebut. Butuh kesabaran, ketekunan, kerja keras, semangat, dan rela berkorban tenaga, pikiran, waktu, material sehingga guru mampu menghasilkannya. Belajar perlu kontinyuitas dan didukung dengan sistem aturan yang jelas dan ketat. Kalau tidak, maka semua upaya akan sia-sia belaka. Pengorbanan uang pemerintah sebesar apapun tidak akan ada artinya, karena faktor ketidakjelasan atau lemahnya sistem.  Harapan yang perlu kita tunggu kepastiannya adalah jelasnya sistem, mekanisme, aturan, kriteria sehingga dapat menjadi penguat bagi program pengembangan karir PTK.

Mendukung program tersebut, maka setiap MGMP dan KKG dianjurkan mengajukan proposal kegiatan pengembangan karir PTK  dikdas dengan dana bantuan block grant dari P2TK Dikdas Kemdikbud. Sebagai ancer-ancer penggunaan alokasi dana bantuan sebesar Rp 28 Juta, yang terbagi dalam 5 komponen, aitu (1) pesiapan, (2) pelaksanaan, (3) pengendalian, (4) pelaporan, (5) publikasi, maka berikut kami lampirkan contoh analisis biaya dalam  format Rencana  Anggaran BIaya (RAB), yang dapat menjadi pedoman bagi para pengurus MGMP dan KKG yang mengajukan proposal.

Contoh RAB program Pengembangan Karir PTK DIkdas 2013 bagi MGMP:

RAB PPK PTK DIKDAS 2013

Lebih lanjut bagaimana memahami bagaimana penyusunan proposal yang sesuai kriteria yang dpersyaratkan, berikut kami lampirkan juga panduan penyusunan proposal, yang dapat didownload.

PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL PENGEMBANGAN KARIR PTK) (edited 18 JUNI 2013)

Ingat batas akhir pengiriman proposal adalah tanggal 31 Juli 2013 cap pos.

Majulah MGMP ku, majulah guruku, majulah pendidikan kita, majulah INdonesia ….

Pengkajian Hasil MGMP Bermutu 2012-2013


Program BERMUTU yang diluncurkan sejak tahun 2009/2010, kini  sudah memasuki akhir program. Tiga tahun pertama (tahap satu) berakhir pada 2011/2012. Sementara Tiga tahun kedua (tahap kedua) mulai 2010/2011 hingga 2012/2013.  Konsep program BERMUTU yang ingin menjangkau ranah yang luar biasa pada diri para tenaga pendidik (guru) tidak mudah dicapai. Pada  perkembangannya mengalami beberapa perubahan sasaran dan target kegiatan. Yang demikian cukup membuat kebingungan bagi para mitra program BERMUTU pada tingkat bawah sebagai ujung terdepan yang menjadi striker yang bertugas memasukkan GOAL ke GAWANG BERMUTU sebanyak-banyaknya. Efek kebingungan itu tidak hanya dirasakan oleh para pengelola pada tingkat kelompok kerja, terlebih dari itu berdampak pula pada para guru peserta. Ini berarti menggambarkan bahwa pada tingkat pusat dan semua jajaran vertikal juga mengalami perubahan. Satu dalih yang selalu digunakan untuk memberikan rasa tenang adalah ungkapan-ungkapan “INILAH ESENSI PERUBAHAN”, maka ketentuan yang terakhir kali dihasilkan ituLah yang harus diikuti. Dampak dari semua itu adalah hilangnya titik-titik sudut, sisi-sisi bangun BERMUTU yang diimpikan para pemikir tingkat pusat. Pada tingkat bawah bentuk ideal yang diimpikan itu semakin tidak jelas. Kalau sudah demikian, siapa yang mesti disalahkan? apakah terus mencari pihak yang menjadi kambing hitam. Tentu tidak, semua pihak harus memaklumi. bahwa memahamkan orang banyak itu tidaklah mudah, karena banyak variabel yang menjadi penentu dan tidak semuanya mampu dikontrol dengan ketat.

Alhamdulillah sampai dengan memasuki awal program kegiatan tahun ketiga (tahap pertama) telah dihasilkan ketentuan yang final, dan dapat menjadi pedoman yang jelas bagi para pengelola kelompok kerja guru (KKG dan MGMP) dalam menentukan arah pelaksanaan kegiatan, dan dapat memberikan kejelasan kepada semua peserta dalam mencapai tujuan proses kegiatannya.

Perubahan terakhir tersebut diikuti hingga akhir tahun ketiga bagi tahap kedua, yakni ketentuan TAGIHAN KEGIATAN BERMUTU, yang diklasifikasikan dalam dua kategori tagihan, yaitu tagihan kelompok kerja dan tagihan yang bersifat individu. Tagihan kelompok kerja meliputi: (1) Jurnal kelompok kerja, (2) Bank Soal, (3) Peta Guru, (4) Rapor Guru. Sementara tagihan individual peserta meliputi: (1) Silabus, (2) RPP, (3) Karya Tulis Ilmiah, (4) Jurnal Belajar.

Berdasarkan klasifikasi di atas, sebenarnya yang semata-mata menjadi tanggung jawab kelompok kerja adalah hanya , satu, yaitu jurnal kelompok kerja. Sementara lainnya harus diupayakan oleh individu-individu peserta secara kolektif atau secara mandiri. Apakah jelasnya pengkategorian taghan peserta tersebut emberikan jaminan tidak hilangnya bentuk BERMUTU sebagaimana konsep yang diimpikan? Belum tentu. MAsih banyak variabel yang tidak atau kurang terkontrol, utamanya oleh pengelola tingkat MGMP.

Melihat bagaimana bentuk akhir BERMUTU yang dihasilkan oleh setiap kelompok kerja, dapat dilakukan dengan melihat hasil belajar peserta yang dihasilkan oleh setiap MGMP. Forum MGMP merupakan mitra BERMUTU yang memiliki kewajiban dalam salah satu programnya menampilkan peta hasil MGMP, yang digunakan sebagai UKURAN dan BENTUK AKHIR BERMUTU. Program tu adalah telaah/pengkajian/penilaian/validasi hasil MGMP.

Berdasarkan pemikiran pengkategorian karya peserta MGMP, maka diinterpretasikan bahwa kategori karya yang perlu mendapatkan penilaian/validasi ada empat, yaitu (1) Silabus, (2) RPP, (3) Karya Tulis Ilmiah, (4) Jurnal Belajar Peserta. Mamsing-masing menunjukkan pencapaian proses dan hasil belajar peserta selama dan sesudah proses kegiatan pada pertemuan rutin. Berikut adalah hasil validasi hasil MGMP yang dilakukan oleh Forum MGMP, khususnya hasil MGMP tahun ketiga (tahap kedua).

Kepada para pengelola MGMP, yang tagihan-tagihannya telah mendapatkan validasi oleh Forum MGMP, dapat memanfaatkannya sebagai bahan evaluasi mandiri yang tertuang pada BAB 4 laporan pelaksanaan kegiatan. Selain itu, setiap kelompok kerja dengan mudah mendapatkan 3 (tiga) karya terbaik yang digunakan sebagai lampiran laporan pelaksanaan dan pertanggungjawaban keuangan. Yang penting bagi Forum MGMP adalah mampu memetakan hasil MGMP dan mendapatkan bahan untuk dimuat pada Buletin Forum MGMP.

Berikut adalah hasil-hasil proses validasi tersebut:

HASIL VALIDASI PRODUK MGMP 2012-2013 BAHASA INGGRIS 2 (Terbaru 3)

HASIL VALIDASI PRODUK MGMP 2012-2013 BAHASA INGGRIS 2 (Terbaru 2)

HASIL VALIDASI PRODUK MGMP 2012-2013 BAHASA INGGRIS 2  (Terbaru 1)

HASIL VALIDASI PRODUK MGMP 2012-2013 BAHASA INDONESIA 2 (Terbaru 1)

HASIL VALIDASI PRODUK MGMP 2012-2013 BAHASA INDONESIA 2 (Awal)

HASIL VALIDASI PRODUK MGMP 2012-2013 BAHASA INGGRIS 2 (Awal)

Sementara validasi hasil MGMP dari MGMP lainnya : Matematika, Biologi, Fisika belum dilakukan, karena masih dalam tahap pengumpulan dan tahap penyelesaian oleh masing-masing peserta.

Hasil-hasil tersebut masih bersifat sementara, karena validasi belum dilakukan terhadap semua hasil MGMP peserta. Salah satu faktornya karena tagihan belum terkumpul. Apabila validasi sudah dilakukan secara optimal, akan kami upload ulang, dan dapat dmanfaatkan lebih lanjut oleh masing-masing MGMP dan tentunya Forum MGMP.

SEBAGAI BAHAN UNTUK DIMUAT PADA BULETIN FORUM MGMP, MAKA DIHARAPKAN pengurus MGMP berkenan mengirimkan Foto  Copy (Hard Copy dan Soft Copy) dari karya-karya yang dinyatakan layak dipublikasikan, seperti pada daftar tersebut kepada Sekretariat Forum MGMP (Trisdyanto, M.Pd. , Mahdaniar, M.Pd. atau  Abd. Azis, M.Pd.) untuk dilakukan proceding lebih lanjut.

Melalui postingan ini pula kami lampirkan Rangkuman Notulen Koordinasi MGMP, yang dapat dimanfaatkan setiap MGMP sebagai bahan pelengkap laporannya, yang sudah mengutus perwakilannya pada koordinasi, yang dilaksanakan sebanyak dua kali. Silahkan didownload lampiran berikut:

PAPARAN NOTULENSI KOORDINASI I 2012-2013

RANGKUMAN NOTULENSI KOORDINASI II 2012-2013

Semoga bermanfaat bagi teman-teman pengelola MGMP Bermutu Kabupaten Pangkep. Kami masih menunggu terus perkembangan selanjutnya untuk menuntaskan kegiatan ini. Terima kasih.

Selain hal tersebut di atas, berikut kami lampirkan pula CONTOH RAB untuk pengajuan proposal kegiatan BIMBINGAN TEKNIS PENGEMBANGAN KARIR PTK DIKDAS, semoga dapat membantu teman-teman pengurus MGMP atau KKG dalam menyusun proposal program dana bantuan BANGRIR PTK DIKDAS 2013 sebesar Rp 28.000.000,-

Contoh RAB BANGRIR PTK DIKDAS 2013 dapat dilihat/didownload melalui judul postingan yang sesuai.

Semoga bermanfaat.

Program Pendampingan Kurikulum 2013


Pendampingan implementasi kurikulum 2013 sebagaimana dilaksanakan pada tahun 2013 juga dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Program ini merupakan tindak lanjut workshop/pelatihan kurikulum 2013 pada beberapa bulan lalu. Implemmentasi kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2014/2015 diberlakukan bagi semua sekolah, khususnya jenjang SMP pada tingktan kelas 7 dan 8. Sebagai sebuah upaya pengembangan, pada tahap-tahap awal ini masih banyak perubahan-perubahan penyempurnaan atas kosnep dan prosedur yang sebelumnya sudah dilaunching, dilatihkan, dan dilaksanakan pada masing-masing kelas mata pelajaran. Untuk mengetahui seperti apa dampak pelatihan pada praktek pembelajaran yang menggunakan kurikuum 2013, maka monitoring dan evaluasi yang dikemas dalam program pendampingan implementasi kurikulum 2013 ini perlu dilakukan.

Program ini dilaksanakan oleh Tim Pendampingan yang terdiri dari 10 orang guru mata pelajaran termasuk guru BK. Secara teknis pendampingan dilaksanakan dengan tahapan-tahapan: pembekalan ulang atau refreshhing terhadap wawasan, pengetahuan, dan pemahaman guru sasaran, dilanjutkan dengan penyusunan perangkat pembelajaran dan penilaian, termasuk media atau alat peraganya, dan akhirnya pendampingan pada praktek pembelajaran di kelas melalui observasi langsung. Observasi dilaksanakn untuk mendapatkan informasi  keterlaksanaan implementasi kurikulum 2013.

Untuk itu, agar pelaksanaan pendampingan oleh satu tim terlaksana dengan lancar, efektif, efisien, nyaman, tuntas, tidak terburu-buru, maka perlu pengaturan khusus. Berikut adalah pengaturan pelaksanaan program pendampingan, khususnya pada tahap Onservice 1 bagi Tim 2 Pendamping Kabupaten Pangkep. Melengkapi  program tersebut, Instrumen pendampingan juga disertakan pada link berikut.

  1. Pengaturan dan jadawal pendampingan Onservice 1 Tim 2: PENGATURAN JADWAL PENDAMPINGAN TIM2
  2. Instrumen Pendampingan Onservice : Instrumen Pendampingan 2014
  3. Format Biodata  Guru yang didampingi: BIODATA
  4. Daftar Pembagian Kluster SMP Kabupaten Pangkep: Data Cluster Pangkep OK

Kepada teman-teman anggota tim 2 silahkan download file-file di atas untuk memfasilitasi teman-teman guru di kelompok mata pelajaran  masing-masing. Setiap tim mapel menyiapkan form biodata bagi gurunya, termasuk instumen bagi tim mapelnya.

 

OSN Guru Tingkat Nasional Ajang Bergengsi Bagi Guru-Guru Sains


Menjadi peserta OSN Guru tingkat nasional merupakan satu kesyukuran dan sekaligus kebanggaan tersendiri. Betapa tidak, terpilih sebagai salah satu dari 20 peringkat teratas secara nasional yang direkrut dari sebanyak sekitar 2500 guru peserta OSN di seluruh propinsi tentu menjadi harapan setiap guru yang mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi pada tingkat propinsi.
Secara konseptual, seleksi peserta sebenarnya perlu dilaksanakan mulai pada tingkat kabupaten/kota, dilanjutkan pada  tingkat propinsi, dan akhirnya tingkat nasional. Pada tingkat kabupaten/kota seleksi dilakukan oleh panitia kabupaten/kota dengan dukungan sumber daya yang bersumber dari kabupaten/kota. Pada level ini tidak semua daerah mampu melaksanakan karrena faktor keterbatasan sumber daya masing-masing daerah. Ada daerah yang melaksanakan seleksi, tetapi banyak yang tidak. Konsekuensi bagi daerah yang tidak melaksanakan seleksi tingkat kabupaten/kota adalah mengirimkan guru utusannya dengan pertimbangan tertentu, misalnya menunjuk pengurus inti MGMP untuk bermusyawarah menentukan siapa wakilnya atau secara langsung pada oknum pengurus (ketua).
Pada level propinsi, seleksi peserta dilakukan oleh panitia tingkat propinsi dengan dukungan perangkat seleksi yang disusun dan diperiksa hasilnya oleh panitia tingkat pusat, dan dilaksanakan pada masing-masing ibu kota propinsi yang melibatkan  panitia dari jajaran dinas pendidikan propinsi.
Ajang bergengsi yang biasanya hanya diikuti oleh siswa-siswa kita kini dirancang juga untuk guru-guru. Biasanya guru-guru hanya sebagai  penonton atau pendamping siswanya yang mendapatkan kesempatan mengikuti OSN, dengan ini maka guru memperoleh  kesempatan yang sama namun dengan sistem yang berbeda. Pada tingkat kabupaten/kota ke tingkat propinsi dengan sistem quota, yakni satu guru untuk masing-masing mata pelajaran yang dilombakan, yaitu Matematika SMP, Fisika SMP, Matematika SMA, Fisika SMA, Kimia SMA. Pada tingkat propinsi menuju tingkat nasional dengan sistem quota nasional sebanyak 20 orang guru. Rupanya panitia belum siap menetapkan sistem rekrutmen peserta dengan sistem passing grade. Ada dua kemungkinan apabila sistem ini diterapkan, yakni kurangnya guru yang memenuhi target yang ditetapkan sehingga peserta kurang atau sebaliknya melebihi dari target yang diharapkan, sementara kemampuan panitia memyediakan fasilitas kegiatan terbatas.  Apapun sistemnya, yang penting patut disyukuri adalah apabila mendapatkan kesempatan sebagai wakil kabupaten/kota untuk suatu mata pelajaran tertentu dan lolos menuju tingkat nasional, sebagai finalis.
Pada tingkat nasional, semua finalis sebanyak 100 orang guru dari 5 (lima) mata pelajaran yang berasal dari berbagai daerah di tanah air berkumpul mengadu kemampuan sesuai bidang masing-masing pada aspek teori dan praktik.
Hari pertama lomba adalah lomba mata pelajaran pada Aspek teori,  yaitu memecahkan masalah sesuai bidang masing-masing, yaitu mengerjakan soal-soal tipe pemecahan masalah berupa  soal-soal uraian dan soal-soal pembuktian, atau soal lainnya, yang dikerjakan selama 4 x 60 menit (4 jam) dengan banyak soal bervariasi. Matematika sebanyak 4 butir soal, Fisika sebanyak 8 butir soal utama dan ditambah sub-sub pertanyaan, Kimia sebanyak 7 butir soal yang dikembangkan dalam beberapa sub butir pertanyaan soal.
Tahapan kedua adalah workshop pembelajaran sebagai lomba aspek praktik. Bagi guru matematika berupa Workshop persiapan pembelajaran pemecahan masalah dengan soal yang diundi, yakni mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa Presentasi Pembelajaran, RPP, LKS, dan Lembar Penilaian, dengan kriteria penilaian meliputi:
  1. Ketepatan SK dan KD atas masalah yang diberikan/didapat dalam undian
  2. Keakuratan pengetahuan prasyarat (prior knowledge)  sebagai jembatan menuju pemecahan masalah
  3. Ketepatan pemilihan pendekatan, dan lintasan belajar menuju pencapaian tujuan pembelajaran
  4. Kemudahan bagi peserta didik memahami sajian materi pembelajaran berbantuan komputer.
  5. Keruntutan penyelesaian masalah.
Pada bidang Fisika dan Kimia, Workshop diisi dengan ujian Eksperimen yang didukung oleh seperangkat peralatan yang disiapkan oleh panitia dan akhirnya dimiliki oleh masng-masing peserta termasuk Jas Lab bagi guru Kimia.
Setiap jenis lomba mata pelajaran Fisika, Kimia, dan Matematika dengan kriteria serupa, selengkapnya dapat dibuka pada lampiran SOAL-SOAL OSN GURU NASIONAL TAHUN 2012.
Tahapan ketiga adalah lomba praktik pembelajaran, yakni menyajikan materi pemecahan masalah sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan pada kesempatan sebelumnya, yaitu workshop bagi Matematika dengan melakukan peer teaching dihadapan peserta lain dan para juri.
Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh juri masing-masing  mata pelajaran terhadap ketiga tahapan lomba, maka akan dipilih kategori-kategori pemenang, yang akan mendapatkan medali emas, medali perak, dan medali perunggu sesuai dengan peringkat total skor yang dikumpulkan dari ketiga tahapan kegiatan lomba. Pada setiap kategori mata pelajaran terpilih seorang mendapat medali emas, 2 orang mendali perak, dan 3 orang mendali perunggu. Selain itu, disiapkan penghargaan lain yang tidak termasuk dalam kategori di atas adalah dengan kriteria kesempurnaan menyelesaiakan suatu butir soal teori,  dan skor tertinggi (terbaik) dalam praktik penyiapan dan pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah  (the best performance teaching).
Atas jerih payah semua finalis yang telah berhasil mencapai tingkat nasional, yang tidak mendapatkan predikat apapun hingga mendapatkan medali emas, masing-masing mendapatkan penghargaan berupa uang tunai mulai Rp 4 juta  hingga Rp 15 juta, dipotong pajak. Sebuah penghargaan yang perlu disyukuri bagi teman-teman guru yang mendapatkan kesempatan emas sebagai finalis OSN Guru tingkat nasional yang baru berjalan selama 2 kali pada dua tahun terakhir sejak 2011.
Untuk teman-teman guru di seluruh tanah air, sekedar oleh-oleh mengikuti even tersebut, berikut kami share copy soal-soal eksperimen dan teori kelima mata pelajaran matematika dan fisika SMP, matematika, fisika, dan kimia SMA.
SOAL-SOAL OSNG TINGKAT SMP:
SOAL-SOAL OSNG TINGKAT SMA:

OSN Guru 2012 Tingkat Nasional Bulan Depan


Seperti tahun lalu, sekitar awal bulan Agustus  Pengumuman Kelulusan Peserta OSN Guru tingkat nasional diumumkan melalui pusbangprodik.org. Namun demikian, untuk tahun 2012, hingga saat ini belum ada tautan yang menampilkan pengumuman atau pemanggilan peserta OSN Guru tingkat nasional tahun 2012l.

Menurut informasi sementara dari panitia kegiatan OSN Guru 2012 tingkat pusat, kegiatan akan dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 8 September 2012 bertempat di Hotel Park Hotel Cawang Jakarta. Bagi teman-teman peserta OSN tingkat propinsi yang merasa memiliki peluang untuk masuk dalam peringkat 20 besar nasional, bisa bersiap-siap segalanya. Kita masih punya waktu selama 1 bulan ke depan. Waktu satu bulan adalah waktu yang cukup leluasa untuk mempersiapkan segalanya.

Selamat untuk teman-teman yang mendapatkan panggilan telepon langsung dari panitia, sambil menunggu panggilan resmi yang mungkin dapat dilihat di website pusbangprodik.org.

Berdasarkan Email yang kami terima dari Panitia OSN Guru 2012 tingkat Pusat, kami teruskan melalui Blog ini agar khalayak dapat mengetahui dan mendownload.

PENGUMUMAN HASIL OSN GURU 2012 MENUJU TINGKAT NASIONAL: PANGGILAN OSN GURU 2012 NASIONAL

SURAT PANGGILAN PESERTA FINALIS OSN GURU 2012: Surat Panggilan Peserta

DAFTAR NOMINASI PESERTA FINASLIS OSN GURU 2012: Daftar Peserta OSN Guru Tkt Nasional 2012

  1. Guru Matematika SMP : 20 orang
  2. Guru Fisika SMP : 20 orang
  3. Guru Matematika SMA : 20 orang
  4. Guru Fisika SMA : 20 orang
  5. Guru Kimia SMA : 20 orang

Beberapa hal yang perlu dipesiapkan adalah:

  1. Risalah akademik dengan dilampiri : (1) Foto berwarna 3 x 4 sebanyak 2 lembar, (2) SK CPNS, (3) Sertifikat-sertifikat pelatihan, (4)  Data-data keberhasilan siswa yang di ajar.
  2. Karya Ilmiah Terbaik (untuk matematika) yang siap presentasi
  3. Fisik dan mental untuk berjuang pada even nasional, dengan cara belajar dan berlatih menghadapi test tertulis.
  4. Segenap persyaratan administrasi lainnya berkaitan dengan perjalanan dan perlengkapan yang harus dibawa (lihat dalam surat panggilan).

Semoga dapat meraih prestasi pada tingkat nasional sebagai juara OSN Guru 2012. Amiiiin.

Apakah Hasil UKG Online Mampu Mengukur Dengan Tepat?


Isu sentral yang berkembang pada pembangunan bidang pendidikan berbasis sekolahan di tanah air adalah pencapaian mutu pendidikan yang notabene kian merosot dan tidak merata di seluruh tanah air ini.  Menurut beberapa analisa, kondisi tersebut diakibatkan oleh berbagai keadaan, yang diantaranya penyediaan fasilitas,  sarana dan prasarana penddikan yang tidak berimbang antara kota dan daerah, kualitas sumber daya manusia pendidik dan terdidik yang sangat beragam karena melalui rekrutmen yang kurang tepat, rendahnya penghargaan bagi insan-insan pendidik, pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang kurang kompatibel, pembiayaan penyelenggaraan pendidikan yang tidak seimbang dan tidak efisien-efektif, dan sebagainya.Maka dari itu salah satu visi pendidikan kita adalah peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan pada berbagai  jenjang pendidikan di seluruh tanah air ini.

Menilik sekian banyak masalah-masalah pendidikan di atas, pemerintah berupaya dengan keras melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Republik Indonesia mengentaskan masalah-masalah pendidikan tersebut. Paradigma yang dibangun dalam upaya pemecahan masalah pendidikan di atas adalah bahwa pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tanah air dapat diwujudkan melalui perbaikan sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan, khususnya guru dengan segala jabatan tambahannya sebagai pengawas atau sebagai kepala sekolah.

Guru merupakan subjek sentral yang banyak memainkan peran-peran strategis bagi upaya pemecahan masalah pendidikan tersebut. Untuk itulah kebijakan yang diambil guna memecahkan masalah tersebut adalah dengan mengupayakan SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN, dengan orientasi bahwa sertifikasi guru dalam jabatan akan berdampak pada diperolehnya guru-guru yang bersrtifikat pendidik dengan segenap kemampuannya yang telah terukur memenuhi persyaratan sebagai guru bersertifikat dan mampu memerankan sebagai agen pembelajaran di kelas  dan akhirnya dapat mendongkrak kualitas pendidikan yang notabene merosot.

Mengapa guru bersrtifikat pendidik menjadi tumpuan harapan-harapan bagi pemecahan masalah pendidikan kita? Guru dengan statusnya sebagai pemegang sertifikat pendidik padanya melekat hak-hak dan kewajiban profesional yang disandangnya. Artinya, status guru bersertifikat pendidik adalah guru profesional. Guru profesional dengan beban kerja yang dipesyaratkan minimal 24 jam tatap muka di kelas berhak memperoleh penghargaan tunjangan sertifikasi sebesar 1 bulan gaji (dipotong pajak). Dengan tunjangan yang diberikan setiap bulan sebesar itu diharapkan guru memiliki komitmen dan kemampuan terus mempertahankan statusnya sebagai guru profesional, yang memiliki kompetensi dalam keempat dimensi kompetensi guru sebagaimana dipersyaratkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 16 tahun 2007, tentang Standar Kompetensi dan Kualifikasi Guru Pendidikan Dasar dan Menengah, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,  dan kompetensi prifesional.

Paradigma yang sedang dibangun oleh pemangku kepentingan pendidikan secara nasional adalah bahwa jika guru-guru bersertifikat pendidik, maka diasumsikan bahwa guru-guru memenuhi segenap kompetensi guru yang dipersyaratkan dan juga sejahtera. Jika guru-guru memenuhi kompetensiyang dipersyaratkan dan mencapai tingkatan kesejahteraan dengan tunjangan sertifikasinya, maka kualitas pendidikan bisa merata dan meningkat. Satu pertanyaan yang mesti selalu dimunculkan, apakah ketika guru-guru sudah mengantongi sertifikat pendidik, beban kerjanya memenuhi 24 jam tatap muka minimal dipenuhi, tunjangan sertifikasinya dibayarkan secara rutin, maka akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan? ataukah berdampak pada peningkatan kinerjanya sebagai guru profesional? sudahkah memberdayakan statusnya dengan dukungan tunjangan sertifikasinya itu untuk terus memelihara dan meningkatkan kompetensinya? Ataukah, tidak justru sebaliknya berbangga diri di tengah-tengah masyarakat memamerkan dirinya yang sudah tersertifikasi dan mendapatkan tunjangan yang setiap tiga bulan sekali diterimakan langsung melalui rekening pribadinya? sementara tanggung jawab moral sebagai guru bersertifikat begitu mudahnya diabaikan, yang penting sudah bersertifikat. Bahkan, sering dijumpai guru bersertifikat menolak ajakan atau perintah pimpinan sekolah atau pengurus kelompok kerja guru untuk diajak bergabung dalam suatu kegiatan berbasis kelompok kerja guru untuk meningkatkan kompetensinya dengan dalih sudah bersertikat dan bergolongan IVa/ atau IV/b. Ini semua adalah sebuah ironi yang banyak dijumpai pada masyarakat guru-guru kita.

Jika pertanyaan-pertanyaan di atas jawabannya adalah belum atau tidak, ini adalah indikasi bahwa kebijakan sertifikasi guru dalam jabatan yang sudah ditempuh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional belum berdampak pada pencapaian sasaran yang dinginkan sebagaimana paradigma yang dibangun.  Harus diakui bahwa seiring berjalannya proses sertifikasi guru dalam jabatan, belum ada perangkat atau instrumen yang dapat digunakan sebagai upaya pengendalian  dan penjaminan mutu pendidikan yang diperankan oleh guru bersertifikat pendidik. Sehingga kebijakan peningkatan status guru sebagai guru bersertifikat agar menjadi sosok agen pembelajaran yang profesional dan bermartabat belum berdampak efektif bagi pemecahan masalah pendidikan nasional.

Rupanya kondisi-kondisi di atas sudah terdeteksi oleh pihak pengarah pendidikan pada tingkat daerah hingga tingkat pusat. Sesungguhnya, sudah saatnya dan mendesak bahwa pengendalian kebijakan sertifikasi guru perlu segera dikawal dengan benar dan bijaksana sehingga upaya mewujudkan guru-guru profesional dan bermartabat berdampak efektif bagi pembangunan pendidikan yang berbasis sekolah ini. Bagaimanakah pengendaliannya yang tepat?  Seiring berjalannya waktu, maka lahirlah konsep Penilaian Kinerja Guru yang dikembangkan sebagai upaya pengendalian guru bersertifikat agar terus mampu menampilkan kompetensi profesiosnalnya secara aktual sebagai sosok guru profesional dan bermartabat. Penilaian Kinerja Guru ditempuh sebagai upaya pengendalian mutu sumber daya pendidik (guru) dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan pendidikan yang berbasis pembelajaran. Sasaran akhir PK Guru ini adalah terciptanya pengelolaan pendidikan yang efisien dan efektif berdasarkan kompetensi aktual guru-guru bersertifikat. Yang ingin dicapai dari PK Guru adalah terkendalinya kompetensi dan kinerja guru bersertifikat pada kategori minimal BAIK  atau SANGAT BAIK. Apabila kategori ini terpenuhi, maka dapat digambarkan bahwa pelayanan pembelajaran berjalan sebagaimana harapan idelanya. Pada sisi lain, guru yang bersangkutan memiliki jaminan kelancaran jenjang karir yang ditempuh melalui usulan kenaikan pangkat. Yang demikian inilah guru berada pada tataran profesional dan bermartabat.

Memasuki era profesionalitas guru berbasis kompetensi dan kinerja guru, maka beberapa tahapan perlu ditempuh dan dilaksanakan oleh pemerintah sebagai penanggungjawab utama kebijakan pendidikan ini.  Tahap pertama yang ditempuh adalah pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) bagi guru-guru yang bersertifikat mulai tahun 2007 hingga 2011. UKG ini ditempuh untuk mendapatkan informasi kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru yang didapatkan dengan metode ujian/tes model tertulis, namun dilaksanakan secara online. Mengapa harus online? Apakah hasil UKG secara online mampu memberikan hasil pengukuran yang dapat menggambarkan kompetensi guru secara akurat? Dua pertanyaan ini perlu disikapi secara bijaksana dengan melihat kondisi obyektif yang lazim terjadi pada situasi-situasi uji kompetensi.

Ketika uji kompetensi dilaksanakan secara tertulis, dengan segenap persiapan intrumen-instrumen yang telah melalui uji validitas, baik isi atau konstruk, dan memenuhi prinsip-prinsip penilaian, dan dilaksanakan dengan segala pengaturan, diharapkan mendapatkan informasi kompetensi guru yang obyektif. Namun kenyataan yang biasa terjadi adalah sebaliknya. MUngkin pada sisi perencanaan telah melalui proses-proses yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi ketika pelaksanaan uji tertulis, tidak dapat dihindari kondisi-kondisi yang cenderung merusak asas-asas penilaian. MIsalnya kerjasama diantara sesama peserta uji kompetensi yang tidak mampu dikendalikan oleh pengawas ujian, bahkan pengawas ujian berpura-pura tidak melihat, tidak tahu, dan membiarkannya, atau justru menyetujui dengan catatan yang penting jangan ribut. Ketrbatasan-keterbatasan seperti ini yang pasti terjadi ketika Ujian Kompetensi dilaksanakan secara tertulis. Sehingga, informasi yang dikumpulkan masih banyak mengandung bias, dan tidak dapat digunakan sebagai alat untuk menggambarkan kompetensi yang sesungguhnya.

Kebijakan pelaksanaan UKG secara online rupanya memberikan harapan baru yang lebih cerah bagi sebuah upaya pengukuran kompetensi guru. Sistem online yang baru dilaksanakan pada tahun 2012 ini, tepatnya mulai tanggal 30 Juli 2012 sampai dengan 12 Agustus 2012 merupakan satu alternatif pelaksanaan UKG yang dapat memberikan hasil pengukuran lebih obyektif (BELUM SANGAT OBYEKTIF). Ketika soal-soal yang dimunculkan secara acak dari bank soal pada server, memungkinkan keluarnya soal yang berbeda antara satu peserta dengan peserta lainnya, maka sekalipun dua orang peserta atau lebih berada pada jarak yang berdekatan tidak dapat melakukan kerjasama untuk menjawab soal. Terlebih dengan setting waktu yang terbatas, sangat tidak memberikan ruang gerak bagi peserta untuk melakukan kerjasama atau bertanya kepada pihak lain. Masing-masing peserta diburu waktu untuk menuntaskan semua nomor soal ujian (100 nomor). Namun, beberapa pertanyaan masih perlu diajukan dan mendapatkan jawaban yang bijaksana sesuai kondisi nyata di lapangan. Apakah hasil UKG secara online tersebut mampu memberikan informasi yang aktual, obyektif, dan memberikan estimasi yang tepat pada kompetensi guru sebagaimana dalam rumusan indikator-indikator yang dijadikan dasar penyusunan soal UKG? Over estimate mungkin tidak, tetapi Under estimate mungkin ya. Mengapa demikian? Banyak faktor dan fakta negatif yang masih menjadi kendala pada pelaksanaan KG online yang sudah berjalan mulai Senin, 30 Juli 2012 kemarin. Sekalipun minimal guru-guru peserta UKG mengenal dan mampu menggunakan tombol-tombol operasional UKG, tetapi masih banyak hal yang perlu ditinjau dan dicatat baik-baik bagi penyelenggara/ penanggungjawab UKG online, yatu:

  1. Perangkat komputer yang digunakan User tidak semuanya dalam kondisi yang sama, mampu mengacces informasi dalam sistem jaringan lokal (intranet) atau interlokal (internet) dengan kecapatan yang memadai dan lancar.
  2. Ketika benar bahwa user menggunakan perangkat komputer dengan kecepatan acces rendah, maka berakibat pada keutuhan tampilan informasi soal yang dilengkapi dengan karakter-karakter tambahan diluar pada keyboard, misalnya karakter matematika seperti pecahan, gambar grafik, gambar-gambar lainnya.
  3. Familiaritas guru peserta pada penggunaan perangkat komputer juga berpengaruh pada kelancaran mengerjakan soal ujian.
  4. Pengaturan tempat duduk dan penataan perangkat komputer pada ruang ujian yang tidak selalu sama pada semua titik (unit pelaksana) ujian, juga berpengaruh pada kenyamanan peserta mengikuti UKG online. Ada yang memberikan kenyamanan, dan ada yang kurang memberikan kenyamanan karena terlalu penuh dan sesak.

Berdasarkan hasil UKG online pada hari pertama, yang sempat penulis kumpulkan dari guru-guru Matematika SMP dan beberapa guru SMA, melalui pertanyaan langsung via telepon dan sms, diperoleh informasi pencapaian skor hasil UKG Matematika hari pertama (30 Juli 2012) di Kabupaten Pangkep sebagai berikut:

65, 68, 73, 61, 65, 71, 73, 58, 69, 73, 60,

57, 48, 36, 63, 68, 56, 54, 30-an, 30-an,

38, 30-an, 57

Pencapaian skor tersebut diperoleh dari pengerjaan soal matematika pada dua dimensi kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik sebanyak kira-kira 30% dan kompetensi profesional sebanyak 70% dari keseluruhan soal sebanyak 100 butir.

Melihat pencapaian skor tersebut, nampak bahwa apabila disandingkan dengan standar pencapaian minimal yang dipersyaratkan 70, maka hanya ada 4 orang yang dinyatakan LULUS UKG. Apakah teman-teman yang mencapai skor tersebut benar-benar tidak mampu sehingga pencapaiannya rendah? Melihat hasil tersebut perlu hati-hati menyikapinya, bahkan untuk keperluan interpretasi  harus melihat secara lebih obyektif lagi. Mengapa harus dengan pemikiran seperti itu? Berikut adalah fakta-fakta yang perlu diketahui dan dicatat oleh pihak penanggungjawab, perancang, pengarah, dan pengguna hasil  pelaksanaan UKG di tingkat pusat maupun di kabupaten/kota, LPMP, Bagian perencanaan Direktorat BPSDMPK Kemdikbud RI,  bahwa pada UKG mata pelajaran Matematika SMP khususnya, menunjukkan beberapa fakta yang sangat merugikan peserta UKG, yaitu:

Sedikitnya ada sekitar 15 nomor soal Matematika SMP yang tidak layak sebagai butir soal karena beberapa kondisi, antara lain:

  1. Beberapa soal menyediakan pilihan jawaban yang salah semua, seperti pada masalah gradien garis.
  2. Pokok soal tidak menyediakan informasi yang lengkap atau mendukung penyelesaian.
  3. Soal-soal dengan gambar, komputer tidak mampu menampilkan gambar sebagai acuan menjawab pertanyaan soal.
  4. Beberapa soal pilihan jawabannya tidak berhasil dimunculkan.

Satu kondisi yang sangat merugikan peserta adalah ketika soal-soal dengan kondisi seperti di atas tidak dapat dijawab oleh peserta UKG Online, dan dinyatakan salah oleh sistem UKG Online. Fakta seperti itu akan memberikan hasil pengukuran yang berakibat pada estimasi yang salah (Under Estimate). Dalam kondisi yang seperti itu, berarti dapat dikategorikan bahwa UKG Online belum memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan seperti pada Standar Penilaian, yang mensyaratkan bahwa instrumen penilaian secara konstruk harus terpenuhi syarat cukup sebuah pokok soal sehingga dapat dikerjakan oleh testee, dan secara kebahasaan tidak menimbulkan kebingungan peserta UKG.

Disamping itu, penilaian kurang memenuhi prinsip-prinsip penilaian, yaitu adil yang tidak merugikan pihak manapun, utamanya peserta UKG, dan akuntabel, yang mana secara teknis masih perlu perbaikan. Jika perangkat instrumen dengan segala perangkat pendukungnya, seperti komputer, sistem jaringan, dan sistem UKG online secara utuh tidak ada masalah, termasuk dari segi konten, bukan tidak mungkin pencapaian UKG online beberapa teman guru matematika di atas lebih dari pencapaian skor di atas.

Fakta ini kami ungkapkan dengan harapan menjadi masukan bagi para pengarah kebijakan UKG Online agar tidak terjadi proses penghakiman membabi buta terhadap hasil pelaksanaan UKG Online. Memang disampaikan bahwa UKG Online ini sebagai upaya pemetaan KG yang tidak secara langsung dalam waktu dekat ini berhubungan dengan penerimaan tunjangan sertifikasi. Tetapi memberikan informasi yang aktual, faktual, proporsional, adalah lebih bijaksana. Bukan tindak mungkin hal seperti di atas dialami oleh teman-teman guru pada unit-unit panitia pelaksanana UKG online di kabupaten/kota lain. Semoga informasi ini dapat menjadi bahan penentu kebijakan lebih lanjut secara lebih tepat oleh pihak pengarah kabupaten/kota, LPMP, dan Direktorat BPSDMPK Kemdikbud. Amin. by tr.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 370 pengikut lainnya.